Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Kembali di Persimpangan



Bismillahirrahmanirrahim


Semalam, saya sudah memutuskan. Saya harus ngaji lagi! Akhirnya, saya putuskan saja untuk menghubungi seorang teman di pesbuk yang saya percayai, untuk sekadar nanya-nanya aja dulu. Saya inbox ke beliau, tanya, bisakah bimbingan –semacam tausyiah gitu- dilakukan hanya lewat interaksi di dunia maya? Beliaunya nanya, bimbingan buat apa? Saya jawab aja, yah ngaji gitu lah. Saya pengen ngaji tarbiyah, tapi gak kenal sama orang-orang tarbiyah di kota saya. Setelah itu, ya ngobrol-ngobrol di inbox, beliau kasih masukan, dan sebagainya. Saya makin mantap untuk melangkah ke tarbiyah.
 
Saya juga udah menghubungi seorang temen di Madiun (yang saya tahu dia juga ikut tarbiyah). Sayangnya, gak ada kajian yang diadakan ba’da ‘Ashr. Kalau ba’da ‘Ashr, adanya kajian buat akhwat. Eeaaa... boleh ikut kali ya kalau saya pake jilbab? xD


Tapi... nah... mulai serius nih. Pagi tadi, usai shalat Subuh, saat saya mau pulang, tangan saya ditahan oleh seseorang. Beliau orang yang selama ini sangat saya hormati, karena beliau pernah membantu saya yang dulu sempet kesulitan secara ekonomi. Beliau ngajak duduk dan ngobrol dulu di masjid. Dengan suara pelan, beliau bilang,

“Kemaren ana ketemu sama temen antum di Bantul. Dia nanya, ‘Apa Rizki sekarang udah gak pernah ngaji lagi?’ Waduh, ana gak tahu. Kalau ketemu sih sering, cuman ngaji atau enggaknya ya kurang tahu. Pikir ana, mungkin ngaji di tempat lain, di Madiun kan banyak kajian juga. Dia bilang, ‘Tolong dinasehatin ya, Pak. Dia itu temen baik saya lho. Sebelum saya paham seperti sekarang, dia sudah lebih dulu paham.Masya Allah... Ya ana bilang lagi, nanti ana tanyakan. Tapi mungkin aja sudah ngaji di Madiun.”

Dan... seperti biasa, saya hanya bilang kalau saya sering kecapekan di hari Ahad. Saya juga bilang, saya emang lama gak ngaji. Dan saat udah lama gak ngaji, lalu mau ngaji lagi, rasanya maaaluuu banget sama ikhwan yang lain, apalagi sama asatidz. Beliau bilang,

“Itu manusiawi. Gak apa. Yang penting datang aja. Temen antum juga bilang, ‘Di instansi seperti saya, fitnahnya besar sekali, Pak. Jadi kalau seminggu saja gak ngaji, rasanya kering.’ Namanya siapa, ana lupa. Tapi ana inget, pernah ketemu di sini (di masjid Agung) dulu.”

Deg! Jleb sekali. Saya tercenung lagi. Lalu pamit pulang dengan kepala tertunduk dan perasaan campur aduk. Saya benar-benar sedang kembali di persimpangan jalan sekarang.

Tahun 2010 lalu, saya juga pernah berada di simpang jalan seperti saat ini. Saya bingung, harus menempuh jalan yang mana? Akhirnya, saya masih bertahan di jalan yang saya ikuti sejak beberapa tahun lalu. Tapi, 2011, saya melempem. Futur melanda. Sangat parah waktu itu. Beberapa ikhwan sampai datang ke rumah, menanyakan kenapa saya lama gak ngaji. Jawaban saya, lagi-lagi, ya seperti di atas itu. Karena memang kalau hari Ahad saya pengen tiduran terus, ‘balas dendam’ di rumah aja.

Lalu, ‘kontrol’ dari para ikhwah pun mulai melemah. Saya pun semakin larut dalam kefuturan. Tahun 2012, saya kembali mencoba hadir dalam kajian. Sayangnya, tak ada lagi kehangatan yang saya dapatkan seperti dulu. Saya merasa sangat terasing. Bahkan jauh lebih asing dan canggung, daripada saat pertama kali saya bergabung dalam lingkaran itu.

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat saya, menuliskan sebuah surat di pesbuk. Saya pernah membahasnya di sini. Saya tahu persis, dia jugalah yang menanyakan perihal saya pada orang yang menahan saya di masjid ba’da Subuh tadi.

Hati saya trenyuh. Terharu sekali, atas perhatiannya yang ternyata begitu besar bagi saya. Dia seakan tidak rela jika saat ini jiwa saya tengah dilanda penyakit. Dia takut, jika saya tidak lagi berada satu jalan dengannya menuju jannah. Saya dilema.

Seringkali, kegalauan yang saya alami bukan disebabkan oleh cinta-cintaan yang picisan. Tapi menyangkut hal seperti inilah, kegalauan itu seringkali menyerang. Dan, tiba-tiba saja, saya ingin sekali menyalahkan teman saya itu. Kalau saya ingat-ingat, futur mulai menyerbu saya saat dia mulai meninggalkan saya untuk merantau di Jakarta. Padahal selama ini, hanya dengan dialah saya bisa sedikit lepas menceritakan uneg-uneg saya. Selepas dia berkeluarga, kami boleh dibilang hampir lost contact. Hal terakhir yang membuat kami harus berinteraksi adalah permintaannya untuk membantu membelikan tiket pulang kampung, 2 tahun lalu kalau tidak salah. Yang paling akhir, hanyalah ucapannya di note pesbuknya beberapa waktu lalu. Itupun terkesan kaku. Tak ada lagi kehangatan seperti dulu.

Tapi kemudian saya berpikir, kenapa saya harus menyalahkan dia? Dia sama sekali tidak salah. Saya sendirilah yang justru memelihara futur itu, hingga berkarat kini. Maka, saya ingin bangkit. Saya sudah lelah dikepung futur.

Tarbiyah. Entah kenapa saya ingin sekali masuk ke dalam lingkarannya. Mengenal orang-orang ‘hasil’ tarbiyah di pesbuk, seakan saya menemukan lingkup yang sebenarnya saya inginkan. Dengan teman-teman dari tarbiyah, saya masih bisa ngobrol tentang novel bagus yang baru saya baca, tentang film yang memotivasi, atau tentang Maher Zain yang baru meluncurkan single terbaru. Hal-hal yang tidak mungkin bisa saya ceritakan dengan lepas bersama para ikhwah dari lingkaran terdahulu.

Salafy. Entah kenapa juga, saya begitu berat meninggalkan lingkaran itu. Terlalu banyak kenangan manis di sana. Terlalu berharga ilmu-ilmunya untuk ditinggalkan begitu saja. Tapi bersama mereka, saya merasa tidak pernah menjadi diri saya sendiri. Selalu saja ada banyak hal yang saya tutupi dari mereka. Apakah sudah termasuk ketidakjujuran, saat banyak hal yang mengganggu kita yang tidak kita katakan pada orang lain? Entahlah. Mungkin, dari sanalah, futur itu menemukan celahnya.

Sekarang saya harus kemana? Saya bingung. Saya galau. Saya percaya, manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang lurus yang harus diikuti agar kita selamat fid dunya wal akhirah. Saya percaya, di salafy, lautan ilmu dari para ulama ahlus sunnah begitu luas membentang dan tak akan pernah habis meski diteguk tiap detik. Tapi di tarbiyah, saya selalu merasa bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa sedetik pun melupakan akhirat. Di tarbiyah, rujukan utamanya juga berasal dari para ulama salaf. Di tarbiyah, saya bisa menyampaikan pemikiran saya dengan jujur, tanpa harus takut dicap sesat dan menyimpang hanya karena perbedaan pendapat tentang masalah furu’.

Kadang saya ingin seperti orang lain, yang tidak pernah repot memikirkan jamaah mana yang mereka ikuti. Kadang saya lelah seperti ini. Tapi kemudian saya sadar, ini adalah karunia dari Allah. Sebuah hidayah, bahwa saya pernah berada di jalan dakwah. Maka saya harus memilih. Sebuah pilihan yang sederhana sebetulnya. Tarbiyah, atau salafy? Buat saya, sama saja. Sama-sama mencari keridhaan Allah, dan memohon surga-Nya. Tapi, siapa yang menawarkan pada saya persahabatan, dan bersedia membimbing saya kembali dari nol, maka dengan dialah saya akan berbelok.

Ya ikhwah, bimbing saya, doakan kebaikan untuk saya, setelahnya, biar Tangan Allah-lah yang bekerja membolak-balikkan hati saya, pada kebaikan, insya Allah. :)
Ngawi, 020913

2 comments :

Aamiin... semoga segera dapat guru ngaji ya. Yang namanya ibadah, pasti ada halang rintangnya, entah itu dari orang lain maupun dari diri sendiri. Tergantung niatnya, klo untuk Allah semata, pasti jalan terus.

 

insya Allah... mohon doanya juga mbak ^_^

 

Post a Comment