Bismillahirrahmanirrahim
Semalam, saya sudah memutuskan.
Saya harus ngaji lagi! Akhirnya, saya putuskan saja untuk menghubungi seorang
teman di pesbuk yang saya percayai, untuk sekadar nanya-nanya aja dulu. Saya inbox ke beliau, tanya, bisakah
bimbingan –semacam tausyiah gitu-
dilakukan hanya lewat interaksi di dunia maya? Beliaunya nanya, bimbingan buat
apa? Saya jawab aja, yah ngaji gitu lah. Saya pengen ngaji tarbiyah, tapi gak
kenal sama orang-orang tarbiyah di kota saya. Setelah itu, ya ngobrol-ngobrol
di inbox, beliau kasih masukan, dan
sebagainya. Saya makin mantap untuk melangkah ke tarbiyah.
Saya juga udah menghubungi
seorang temen di Madiun (yang saya tahu dia juga ikut tarbiyah). Sayangnya, gak
ada kajian yang diadakan ba’da ‘Ashr.
Kalau ba’da ‘Ashr, adanya kajian buat
akhwat. Eeaaa... boleh ikut kali ya kalau saya pake jilbab? xD
Tapi... nah... mulai serius nih.
Pagi tadi, usai shalat Subuh, saat saya mau pulang, tangan saya ditahan oleh
seseorang. Beliau orang yang selama ini sangat saya hormati, karena beliau
pernah membantu saya yang dulu sempet kesulitan secara ekonomi. Beliau ngajak
duduk dan ngobrol dulu di masjid. Dengan suara pelan, beliau bilang,
“Kemaren ana ketemu sama temen
antum di Bantul. Dia nanya, ‘Apa Rizki
sekarang udah gak pernah ngaji lagi?’ Waduh, ana gak tahu. Kalau ketemu sih
sering, cuman ngaji atau enggaknya ya kurang tahu. Pikir ana, mungkin ngaji di
tempat lain, di Madiun kan banyak kajian juga. Dia bilang, ‘Tolong dinasehatin ya, Pak. Dia itu temen
baik saya lho. Sebelum saya paham seperti sekarang, dia sudah lebih dulu paham.’
Masya Allah... Ya ana bilang lagi,
nanti ana tanyakan. Tapi mungkin aja sudah ngaji di Madiun.”
Dan... seperti biasa, saya hanya
bilang kalau saya sering kecapekan di hari Ahad. Saya juga bilang, saya emang
lama gak ngaji. Dan saat udah lama gak ngaji, lalu mau ngaji lagi, rasanya
maaaluuu banget sama ikhwan yang lain, apalagi sama asatidz. Beliau bilang,
“Itu manusiawi. Gak apa. Yang
penting datang aja. Temen antum juga bilang, ‘Di instansi seperti saya, fitnahnya besar sekali, Pak. Jadi kalau
seminggu saja gak ngaji, rasanya kering.’ Namanya siapa, ana lupa. Tapi ana
inget, pernah ketemu di sini (di masjid Agung) dulu.”
Deg! Jleb sekali. Saya tercenung lagi. Lalu pamit pulang dengan kepala
tertunduk dan perasaan campur aduk. Saya benar-benar sedang kembali di
persimpangan jalan sekarang.
Tahun 2010 lalu, saya juga pernah
berada di simpang jalan seperti saat ini. Saya bingung, harus menempuh jalan
yang mana? Akhirnya, saya masih bertahan di jalan yang saya ikuti sejak
beberapa tahun lalu. Tapi, 2011, saya melempem. Futur melanda. Sangat parah
waktu itu. Beberapa ikhwan sampai datang ke rumah, menanyakan kenapa saya lama
gak ngaji. Jawaban saya, lagi-lagi, ya seperti di atas itu. Karena memang kalau
hari Ahad saya pengen tiduran terus, ‘balas dendam’ di rumah aja.
Lalu, ‘kontrol’ dari para ikhwah
pun mulai melemah. Saya pun semakin larut dalam kefuturan. Tahun 2012, saya
kembali mencoba hadir dalam kajian. Sayangnya, tak ada lagi kehangatan yang
saya dapatkan seperti dulu. Saya merasa sangat terasing. Bahkan jauh lebih
asing dan canggung, daripada saat pertama kali saya bergabung dalam lingkaran
itu.
Beberapa waktu lalu, seorang
sahabat saya, menuliskan sebuah surat di pesbuk. Saya pernah membahasnya di sini. Saya tahu persis, dia jugalah yang menanyakan perihal saya pada orang
yang menahan saya di masjid ba’da
Subuh tadi.
Hati saya trenyuh. Terharu
sekali, atas perhatiannya yang ternyata begitu besar bagi saya. Dia seakan tidak
rela jika saat ini jiwa saya tengah dilanda penyakit. Dia takut, jika saya
tidak lagi berada satu jalan dengannya menuju jannah. Saya dilema.
Seringkali, kegalauan yang saya
alami bukan disebabkan oleh cinta-cintaan yang picisan. Tapi menyangkut hal
seperti inilah, kegalauan itu seringkali menyerang. Dan, tiba-tiba saja, saya
ingin sekali menyalahkan teman saya itu. Kalau saya ingat-ingat, futur mulai
menyerbu saya saat dia mulai meninggalkan saya untuk merantau di Jakarta.
Padahal selama ini, hanya dengan dialah saya bisa sedikit lepas menceritakan
uneg-uneg saya. Selepas dia berkeluarga, kami boleh dibilang hampir lost contact. Hal terakhir yang membuat
kami harus berinteraksi adalah permintaannya untuk membantu membelikan tiket
pulang kampung, 2 tahun lalu kalau tidak salah. Yang paling akhir, hanyalah
ucapannya di note pesbuknya beberapa
waktu lalu. Itupun terkesan kaku. Tak ada lagi kehangatan seperti dulu.
Tapi kemudian saya berpikir,
kenapa saya harus menyalahkan dia? Dia sama sekali tidak salah. Saya sendirilah
yang justru memelihara futur itu, hingga berkarat kini. Maka, saya ingin
bangkit. Saya sudah lelah dikepung futur.
Tarbiyah. Entah kenapa saya ingin sekali masuk ke dalam
lingkarannya. Mengenal orang-orang ‘hasil’ tarbiyah di pesbuk, seakan saya
menemukan lingkup yang sebenarnya saya inginkan. Dengan teman-teman dari
tarbiyah, saya masih bisa ngobrol tentang novel bagus yang baru saya baca,
tentang film yang memotivasi, atau tentang Maher Zain yang baru meluncurkan single terbaru. Hal-hal yang tidak mungkin bisa saya ceritakan
dengan lepas bersama para ikhwah dari lingkaran terdahulu.
Salafy. Entah kenapa juga, saya begitu berat meninggalkan lingkaran
itu. Terlalu banyak kenangan manis di sana. Terlalu berharga ilmu-ilmunya untuk
ditinggalkan begitu saja. Tapi bersama mereka, saya merasa tidak pernah menjadi
diri saya sendiri. Selalu saja ada banyak hal yang saya tutupi dari mereka. Apakah
sudah termasuk ketidakjujuran, saat banyak hal yang mengganggu kita yang tidak
kita katakan pada orang lain? Entahlah. Mungkin, dari sanalah, futur itu
menemukan celahnya.
Sekarang saya harus kemana? Saya
bingung. Saya galau. Saya percaya, manhaj
salaf adalah satu-satunya manhaj yang lurus yang harus diikuti agar kita
selamat fid dunya wal akhirah. Saya
percaya, di salafy, lautan ilmu dari para ulama ahlus sunnah begitu luas membentang dan tak akan pernah habis meski
diteguk tiap detik. Tapi di tarbiyah, saya selalu merasa bisa menjadi diri saya
sendiri, tanpa sedetik pun melupakan akhirat. Di tarbiyah, rujukan utamanya
juga berasal dari para ulama salaf. Di tarbiyah, saya bisa menyampaikan
pemikiran saya dengan jujur, tanpa harus takut dicap sesat dan menyimpang hanya
karena perbedaan pendapat tentang masalah furu’.
Kadang saya ingin seperti orang
lain, yang tidak pernah repot memikirkan jamaah
mana yang mereka ikuti. Kadang saya lelah seperti ini. Tapi kemudian saya
sadar, ini adalah karunia dari Allah. Sebuah hidayah, bahwa saya pernah berada
di jalan dakwah. Maka saya harus memilih. Sebuah pilihan yang sederhana
sebetulnya. Tarbiyah, atau salafy?
Buat saya, sama saja. Sama-sama mencari keridhaan Allah, dan memohon surga-Nya.
Tapi, siapa yang menawarkan pada saya persahabatan, dan bersedia membimbing
saya kembali dari nol, maka dengan dialah saya akan berbelok.
Ya ikhwah, bimbing saya, doakan
kebaikan untuk saya, setelahnya, biar Tangan Allah-lah yang bekerja
membolak-balikkan hati saya, pada kebaikan, insya
Allah. :)
Ngawi, 020913

2 comments :
Aamiin... semoga segera dapat guru ngaji ya. Yang namanya ibadah, pasti ada halang rintangnya, entah itu dari orang lain maupun dari diri sendiri. Tergantung niatnya, klo untuk Allah semata, pasti jalan terus.
insya Allah... mohon doanya juga mbak ^_^
Post a Comment