Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Aleya, Luka dan Bahagia


Bismillahirrahmanirrahim



Bergumam sendiri dalam sepi yang jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.

Aku bukan seorang penguntit. Aku hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat itu.

Dari sisi itu, aku bisa melihat wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya, matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?


“Terkadang, sepi dan airmata itu satu paket. Tapi ada paket lain. Sepi dan bahagia. Kau memilih paket yang mana?” entah sejak kapan aku sudah berada di dekat bangku yang didudukinya, lalu mengucapkan kata-kata bodoh itu.

Gadis itu menoleh. Mataku dan matanya bertemu di udara, lalu seakan membuatku terlempar jauh dari dimensi waktu. Mata itu... seperti musim gugur. Hangat, namun menyimpan luka.

Ia mengalihkan pandangannya lagi, kali ini menatap lurus ke depan, ke kerumunan merpati yang tengah menikmati angin musim gugur di taman itu.

“Ada paket lain yang tidak kau ketahui. Luka dan bahagia,” gadis itu bicara tanpa menoleh padaku. Tapi aku bisa melihat sudut bibirnya yang tersenyum masam.

Aku duduk di sampingnya. Agak jauh.

“Hidupku seperti puisi. Kadang berirama teratur, kadang berantakan. Tapi tetap indah untuk dibaca. Tetap bermakna untuk diresapi.”

Aku diam. Memperhatikan setiap kata yang ia ucapkan tanpa pernah kupinta.

“Luka dan bahagia. Aku memilih menikmatinya.”

“Bagaimana bisa kau menikmati luka, lalu kau bahagia?”

Kali ini, dia yang terdiam. “Kau tidak akan pernah mengerti.”

Ia beranjak, menutup buku putih di pangkuannya, lalu berjalan menjauh dariku. Tanpa satu patah kata pun.

“Tunggu! Siapa namamu?” kucoba menghalanginya barang sebentar saja.

Ia memang berhenti. Sedikit memalingkan wajahnya, tanpa memandangku.

“Aleya,” jawabnya datar, dan berlalu begitu saja. Siluetnya segera lenyap ditelan senja yang mulai merangkak.

*

Aku menyebutnya taman rahasia. Karena setiap aku kemari, tak ada orang lain selain aku. Yang melakukan hal yang sama; memotret objek yang sama, menulis hal yang sama, dan mendengarkan simfoni yang sama. Ini musim gugur ketiga sejak aku melihat Aleya. Sejak aku tahu ia bernama Aleya.

Hanya namanya. Selebihnya, aku tak tahu apa-apa tentangnya. Tentang ia yang bisa memilih bahagia di dalam luka. Tentang airmata yang tak kutahu berkisah apa. Tentang penantian yang entah karena apa. Aku hanya ingin melihatnya. Sekali lagi saja. Di taman rahasia.

Daun-daun kering bergerak perlahan. Angin menghempas pelan ranting-ranting kurus dan ringkih. Aku kembali mengangkat kamera, membidiknya di tempat seperti biasa. Pada bangku taman yang kosong, yang penuh dengan guguran daun-daun kering berwarna cokelat keemasan. Lalu bidikan kedua, pada arah kepergian Aleya, saat senja mulai merangkak malu-malu.

Di sana, sebuah siluet terlihat makin membesar. Kuperbesar lensa kotak persegi milikku. Belum terlihat sebuah sosok. Hanya siluet. Mendekat. Bayang-bayang. Tapi... tak ada manusia. Aku terdiam.

Aleya... Masih kutunggu kau di taman rahasia. Untuk mendengar kisahmu tentang luka dan bahagia.



28 Ramadhan 1433 H

4 comments :

ihiiirrr.. ada nama baru :p

 

hahaha... setelah bertapa dan berpusing2 ria. sumpah, saya gak banget soal ngasih nama tokoh!
xD

 

eh berasa baca tulisannya si Mochi... :D Aleya sopo hayooooo? xD

 

waks??? karakter tulisan saya beda jauhhh sama dia mbaaaakkk. >.<

 

Post a Comment