Bismillahirrahmanirrahim
Bergumam sendiri dalam sepi yang
jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada
saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.
Aku bukan seorang penguntit. Aku
hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang
selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman
yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh
dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di
pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat
itu.
Dari sisi itu, aku bisa melihat
wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan
runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya,
matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata
itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?
“Terkadang, sepi dan airmata itu
satu paket. Tapi ada paket lain. Sepi dan bahagia. Kau memilih paket yang mana?”
entah sejak kapan aku sudah berada di dekat bangku yang didudukinya, lalu
mengucapkan kata-kata bodoh itu.
Gadis itu menoleh. Mataku dan
matanya bertemu di udara, lalu seakan membuatku terlempar jauh dari dimensi
waktu. Mata itu... seperti musim gugur. Hangat, namun menyimpan luka.
Ia mengalihkan pandangannya lagi,
kali ini menatap lurus ke depan, ke kerumunan merpati yang tengah menikmati
angin musim gugur di taman itu.
“Ada paket lain yang tidak kau
ketahui. Luka dan bahagia,” gadis itu bicara tanpa menoleh padaku. Tapi aku
bisa melihat sudut bibirnya yang tersenyum masam.
Aku duduk di sampingnya. Agak
jauh.
“Hidupku seperti puisi. Kadang
berirama teratur, kadang berantakan. Tapi tetap indah untuk dibaca. Tetap
bermakna untuk diresapi.”
Aku diam. Memperhatikan setiap
kata yang ia ucapkan tanpa pernah kupinta.
“Luka dan bahagia. Aku memilih
menikmatinya.”
“Bagaimana bisa kau menikmati
luka, lalu kau bahagia?”
Kali ini, dia yang terdiam. “Kau
tidak akan pernah mengerti.”
Ia beranjak, menutup buku putih
di pangkuannya, lalu berjalan menjauh dariku. Tanpa satu patah kata pun.
“Tunggu! Siapa namamu?” kucoba
menghalanginya barang sebentar saja.
Ia memang berhenti. Sedikit
memalingkan wajahnya, tanpa memandangku.
“Aleya,” jawabnya datar, dan
berlalu begitu saja. Siluetnya segera lenyap ditelan senja yang mulai
merangkak.
*
Aku menyebutnya taman rahasia.
Karena setiap aku kemari, tak ada orang lain selain aku. Yang melakukan hal
yang sama; memotret objek yang sama, menulis hal yang sama, dan mendengarkan
simfoni yang sama. Ini musim gugur ketiga sejak aku melihat Aleya. Sejak aku
tahu ia bernama Aleya.
Hanya namanya. Selebihnya, aku
tak tahu apa-apa tentangnya. Tentang ia yang bisa memilih bahagia di dalam
luka. Tentang airmata yang tak kutahu berkisah apa. Tentang penantian yang
entah karena apa. Aku hanya ingin melihatnya. Sekali lagi saja. Di taman
rahasia.
Daun-daun kering bergerak
perlahan. Angin menghempas pelan ranting-ranting kurus dan ringkih. Aku kembali
mengangkat kamera, membidiknya di tempat seperti biasa. Pada bangku taman yang
kosong, yang penuh dengan guguran daun-daun kering berwarna cokelat keemasan.
Lalu bidikan kedua, pada arah kepergian Aleya, saat senja mulai merangkak
malu-malu.
Di sana, sebuah siluet terlihat
makin membesar. Kuperbesar lensa kotak persegi milikku. Belum terlihat sebuah
sosok. Hanya siluet. Mendekat. Bayang-bayang. Tapi... tak ada manusia. Aku
terdiam.
Aleya... Masih kutunggu kau di
taman rahasia. Untuk mendengar kisahmu tentang luka dan bahagia.
28 Ramadhan 1433 H

4 comments :
ihiiirrr.. ada nama baru :p
hahaha... setelah bertapa dan berpusing2 ria. sumpah, saya gak banget soal ngasih nama tokoh!
xD
eh berasa baca tulisannya si Mochi... :D Aleya sopo hayooooo? xD
waks??? karakter tulisan saya beda jauhhh sama dia mbaaaakkk. >.<
Post a Comment