Bismillahirrahmanirrahim
Wajahnya keras. Seperti biasa.
Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan,
sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang
perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah.
Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali,
dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang
namanya kuat?
Selendang cokelatnya menutup
bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan
yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya.
Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang
pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada
penampilan glamournya di atas
panggung. Setidaknya, itu menurutnya.
Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di
antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya
memeluk lutut.
Sebuah kamera kembali ia bidikkan
ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu
gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret
sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya
sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.




