Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Pria Irish


Bismillahirrahmanirrahim



Wajahnya keras. Seperti biasa. Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan, sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah. Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali, dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang namanya kuat?

Selendang cokelatnya menutup bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya. Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada penampilan glamournya di atas panggung. Setidaknya, itu menurutnya. Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya memeluk lutut.

Sebuah kamera kembali ia bidikkan ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.

Gamang


Bismillahirrahmanirrahim



Langkahnya tegas. Ada dia di rumah Rhea, pikirnya. Namun lama kelamaan, langkah itu kian mengendur. Ia gamang. Siapkah ia bertemu dengan Nash? Orang yang ia cintai, sekaligus ia benci?

Dulu, baginya Nash adalah segalanya. Pria itu hadir tepat pada saat ia tengah menikmati luka akibat perceraiannya. Hadir begitu saja, tanpa sebuah kebetulan ataupun pertemuan-pertemuan tak sengaja seperti yang sering terlihat di film drama ataupun sebuah novel. Hadir begitu saja, bahkan Aleya sendiri tak tahu bagaimana bisa-bisanya Nash memenuhi pikirannya sepanjang hari, membuatnya ingin bertemu untuk sekadar melihat wajahnya. Atau mendengar sebentar saja suara serak dan beratnya.

Cinta pertama. Mungkin terlalu berkesan bagi Aleya untuk dilupakan begitu saja. Ya, Nash adalah cinta pertamanya. Bukan karena sejak kecil mereka berteman akrab, lalu muncul benih-benih cinta. Tidak. Bukan pula karena mereka berasal dari sekolah yang sama, lalu Aleya diam-diam memendam cinta. Bukan. Nash memang teman lamanya. Tapi ia sama sekali tidak akrab dengan Nash. Tidak sampai perceraian itu terjadi.

Tentang Tiga Manusia


Bismillahirrahmanirrahim



Tentang tiga manusia yang jatuh cinta, cemburu, patah hati, tertawa, sakit dan kehilangan.
Tentang tiga manusia yang mengharapkan hal paling utopis: selalu bersama tanpa ada yang terluka.
Ini tentang dilema; tiga cerita untuk satu rasa.

Alhamdulillah, buku ini nyampe hari Sabtu kemarin, dan langsung saya lahap habis selama hari Lebaran ini. Hehehe... gak ada kerjaan sih. :p

Seperti yang ditulis di sinopsis back cover-nya, buku ini bercerita tentang tiga manusia. Estrella, Kira dan Adri. Tiga remaja yang ‘dipertemukan’ dalama sebuah kerja kelompok. Yang awalnya saling canggung, namun setelah melalui suatu hal, mereka justru seperti tak terpisahkan.

Namun satu hal yang perlu diingat. Kira menyukai Adri. Singkat cerita, mereka jadian. Tetapi Adri gak ingin hal tersebut merusak persahabatan mereka. Jadilah, dalam setiap kencan Adri dan Kira, Estrella selalu ‘dipaksa’ untuk ikut. Yah, bisa ditebak. Hal itu yang akhirnya memicu konflik demi konflik di novel ini.

[Masih] Tentang Aleya


Bismillahirrahmanirrahim



“Kamu harus menerima. Popularitasmu sudah menurun drastis, Aleya!”

Kalimat itu masih menggema di telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya. Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.

Aleya bangkit dari tempat tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.

Tapi ia hanya diam saja. Hanya memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah, setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia mulai ditinggalkan.

Aleya, Luka dan Bahagia


Bismillahirrahmanirrahim



Bergumam sendiri dalam sepi yang jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.

Aku bukan seorang penguntit. Aku hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat itu.

Dari sisi itu, aku bisa melihat wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya, matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?

Nyamannya Internet Banking


Bismillahirrahmanirrahim



Gak tahu, layanan ini sudah jalan berapa bulan. Soalnya baru bulan kemaren saya nyadar, kalau ada tambahan di layanan transfer di internet banking-nya BNI. Kalau dulu, untuk transfer ke lain bank, kita cuman disuguhin sama layanan Kliring dan RTGS, sekarang ada 1 lagi layanan. Namanya, Transfer Online.

Apaan itu Transfer Online? Ternyata oh ternyata, setelah saya telusuri, selidiki dan investigasi mendalam (halah!), layanan Transfer Online sama dengan layanan transfer di ATM bersama! Maksudnya, kita bisa transfer ke bank lain yang tergabung dalam ATM bersama, via internet banking BNI, dengan charge cuman 5 ribu perak tok! Asyik gak tuh?? :D

Impian saya jadi kenyataan.  Hehe... Kalau pernah baca postingan saya yang ini, pasti ngerti dah uneg-uneg saya soal ber-internet banking.

Nyesel Berat


Bismillahirrahmanirrahim


Hari ini saya ‘terpaksa’ jalan-jalan ke Gramed, setelah lama gak pake banget saya gak menyambangi bookstore itu. Niatnya sih cuman jalan-jalan, lihat-lihat doang. Kalau toh ntar ada yang menarik ya boleh lah bawa ke kasir, tapi 1 aja. :P

Nyatanya, saya malah nyari-nyari buku salah satu nama penulis yang beberapa karyanya pernah difilmkan. Apalagi saya sering lihat di Twitter, banyak yang ngetwit bahwa setelah baca buku penulis itu, mereka nangis-nangis karena tulisannya mengandung banyak banget hikmah. Saya penasaran jadinya.

12th Day


Bismillahirrahmanirrahim


Dua hari saya lalui tanpa buka laptop di malam hari.  Sekarang pun sebenernya juga pengennya gitu. Tapi ntar diary Ramadhan saya bolong lagi. Kan gak enak. =,=

Kenapa sih, saya kok kekeuh dengan diary Ramadhan, padahal belom tentu ada yang baca? :p

Soalnya, untuk melatih manajemen waktu saya aja. Dan yang paling penting, latihan nulis apa aja setiap hari. Di luar Ramadhan, saya nulis pas waktu saya emang lagi mood aja. Sedangkan kalau untuk diary Ramadhan, mau gak mau saya harus memaksa mood saya, nyari-nyari ide, dan sebagainya untuk bisa jadi bahan tulisan. Apa aja. Ya cerita, ya prosa gak jelas, ya review, ya uneg-uneg sendiri, dan lain sebagainya.