Bismillahirrahmanirrahim
Wajahnya keras. Seperti biasa.
Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan,
sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang
perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah.
Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali,
dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang
namanya kuat?
Selendang cokelatnya menutup
bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan
yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya.
Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang
pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada
penampilan glamournya di atas
panggung. Setidaknya, itu menurutnya.
Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di
antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya
memeluk lutut.
Sebuah kamera kembali ia bidikkan
ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu
gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret
sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya
sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.
Ia mencoba mengambil gambar Aleya
dari sudut lain dengan berusaha berpindah tempat, sangat hati-hati, agar Aleya
tidak mendengar langkah kakinya. Beberapa kali ia menginjak ranting kering,
membuat Aleya menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Tapi tak mendapati
siapapun. Laki-laki itu menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah pohon besar.
Itu perempuan yang sama, yang
dilihatnya di taman rahasia tiga musim gugur yang lalu. Itu perempuan yang
sama, yang memiliki mata penuh luka, namun seakan menegaskan bahwa ia tak ingin
dikasihani. Ia ingin ke sana, duduk tiba-tiba di samping perempuan itu, seperti
yang ia lakukan saat pertama bertemu dulu.
“Auwh!!” Seekor semut besar sukses
menggigit tengkuknya, membuat ia harus berjingkat, menginjak ranting-ranting
kering dengan acak, menghasilkan suara berisik yang membuat beberapa burung
kecil terbang menjauh. Dan yang pasti, membuat Aleya melihatnya, karena ia
mengumpat dalam bahasa Irish.
Perempuan itu reflek mengalihkan
kepala ke belakang saat mendengar keributan kecil itu. Matanya membesar begitu
tahu di sana ada seorang laki-laki bersyal biru, dengan sebuah kamera
tergantung di lehernya. Aleya bangkit. Papparazzi!
Bahkan papparazzi sudah tahu tempat persembunyiannya selama ini. Ini gila!
Tidak adakah satu tempat pun di muka bumi ini yang bisa Aleya gunakan untuk
benar-benar sendiri?
“Tunggu! Tunggu! Kamu tidak ingat
aku?” lelaki itu berseru lantang saat Aleya mulai bersiap untuk lari.
Aleya menoleh. Ia sudah memasang
sikap waspada saat laki-laki itu turun ke tepian danau dan berjalan
mendekatinya. Dari sini, Aleya bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.
Rambut pendek hitam pekat, beraham tegas dengan dagu terbelah. Alisnya tebal,
sedikit kerutan menghiasi keningnya, mungkin heran dengan sikap Aleya. Lalu,
mata itu... khas penduduk Irish. Sorotnya terasa begitu sendu. Yang pasti, dari
wajahnya, ia terlihat lebih muda beberapa tahun dari Aleya. Laki-laki itu
memiliki tinggi lebih beberapa senti dari Aleya, mungkin sekitar 180. Badannya
tidak besar, seperti laki-laki di kota yang umumnya pergi ke gym untuk memperindah tubuh. Laki-laki
itu memiliki badan yang tergolong biasa saja, tidak besar dan tidak kurus.
Namun terlihat bagus karena jaket tebal dan syal birunya. Apa tadi? Bagus? Apa yang dipikirkan
Aleya?
Laki-laki itu sudah ada beberapa
meter di depannya. Napasnya sedikit tersengal-sengal. Aleya masih waspada.
“Kamu tidak ingat aku?” suara
laki-laki itu terdengar serak. Aleya seperti pernah mendengar suara itu? Tapi
dimana? Kapan? Menelusuri ingatan yang tersesat dalam labirin memorinya adalah
sesuatu yang paling tidak Aleya suka.
“Kamu bukan... wartawan?” Aleya
ragu.
“Apa?” dahi laki-laki itu makin
berkerut. Ia mengikuti kemana arah pandang mata Aleya. Ke kameranya. “Oh...
ini? Bukan. Bahkan aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi
wartawan. Ini hanya... yah... sekadar hobi.”
Mendengar laki-laki itu bicara
dengan bahasa Inggris beraksen Irish yang cukup kental, Aleya jadi yakin, ia
bukanlah papparazzi yang mengikutinya dari London hingga ke sini.
“Apa kita pernah bertemu?”
“Kamu benar-benar tidak ingat
aku?” Tiga musim gugur aku menunggu, dan
kamu sama sekali tidak mengingatnya?
“Maafkan aku... aku...”
“Ah ya... waktu itu kamu tidak
benar-benar melihatku. Karena dari matamu, aku bisa tahu, kamu masih ada di
dimensi lain saat kamu mengatakan tentang teori luka dan bahagia.”
Luka dan bahagia? Ia memang
pernah mengatakannya. Pada seseorang. Dulu. Tapi entah pada siapa. Dan dimana.
“Waktu itu kamu bilang, namamu
Aleya. Benar kan?”
Ia pernah mengatakan namanya pada
laki-laki ini? Benarkah? Dan laki-laki ini tidak tahu bahwa ia adalah seorang
diva internasional dari Inggris? Aleya mulai mengendurkan sikap waspadanya.
“Dan... kamu?”
Laki-laki itu tersenyum. Terlihat
begitu gembira saat Aleya menanyakan tentang dirinya. Ia mengulurkan tangan.
“Aku Niall.”
Aleya menyambut uluran tangan
itu. Tersenyum kikuk. Ia memang masih belum mengingat siapa orang bernama Niall
ini. Tapi ia yakin, sepertinya ia bukan orang yang akan bermaksud jahat
padanya. Dan yang paling penting, ia bukan papparazzi. Ya, Aleya lebih takut
bertemu papparazzi daripada ‘sekadar’ bertemu penjahat.
Senja sudah jatuh. Danau itu
sudah gelap. Di seberang sana, pendar-pendar lampu dari rumah-rumah penduduk
mulai terlihat. Beberapa kunang-kunang sudah menari di atas danau. Aleya
tersenyum melihatnya.
“Sudah gelap. Kamu... tidak
pulang?”
Aleya memandangi Niall. Ya, dia terlihat
baik. “Aku...”
“Rumahmu dimana? Kalau kamu takut
pulang sendirian, akan kuantarkan.” Begitu tegas, tanpa basa basi.
“Tidak perlu. Aku... sedang tidak
ingin pulang.”
Niall menahan pertanyaan yang
sudah ada di ujung lidahnya saat melihat perubahan di wajah itu.
“Kamu lihat sebuah rumah deretan
ketiga dari arah selatan itu?” Niall menunjuk ke seberang danau.
Aleya mengikuti arah telunjuk
Niall. Deretan ketiga dari arah selatan. Sebuah rumah kecil dengan penerangan
yang tidak terlalu terang ada di sana. Seorang perempuan baru saja keluar dari
pintu rumah, kepalanya celingukan seperti mencari sesuatu. Lalu kembali masuk
ke dalam rumah dan cepat-cepat menutup pintu.
“Itu rumahku. Dan perempuan itu
tadi ibuku. Dia pasti mencariku. Kalau kamu mau...”
“Boleh?”
Entah mengapa, Niall merasa
sangat gugup tiap Aleya berbicara. Niall belum menyelesaikan kalimatnya, tapi
tampaknya Aleya tahu apa maksudnya.
“Ayo.”
Aleya mengikuti Niall dari
belakang. Berjalan hati-hati di tepian danau.
Bulan sudah memamerkan dirinya di
atas sana.
Cahayanya terpantul sempurna di
riak-riak danau. Aleya tidak yakin dengan keputusannya. Bertandang ke rumah
orang yang baru ia kenal, apakah itu ide yang bagus? Yang pasti, Aleya belum
ingin kembali ke rumah Rhea. Tidak, selama Nash masih di sana.
Sebuah telepon kembali masuk ke
ponsel Aleya. Dari sebuah nama. Nash. Aleya melirik Niall yang masih berjalan
di depannya.
“Mungkin menghilangkan jejak
adalah salah satu cara terbaik menenangkan diri,” Niall berbicara tanpa menoleh
padanya.
Ya, menghilangkan jejak. Ponsel
itu masih bergetar saat melayang indah dan akhirnya tenggelam di tengah danau
karena sentakan mantap tangan Aleya. Selamat tinggal. Aku hanya ingin menghilang.
Benar-benar menghilang dari kenangan.
210812

4 comments :
apa bisa menghilang dari kenangan?
*bedafokus*
xD
entahlah. spekulasi saja.
*bedafokusjuga*
Niall. Tiba2 teringat one direction. *salah fokus*
btw, ini lanjutan bukan sih? *lupa* atau memang suka nulis ttg kehidupan selebritis gitu?
Emang, saya ngambil namanya. hahaha *gakkreatip*
Ini lanjutan yg kemaren2 xD
Post a Comment