Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Pria Irish


Bismillahirrahmanirrahim



Wajahnya keras. Seperti biasa. Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan, sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah. Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali, dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang namanya kuat?

Selendang cokelatnya menutup bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya. Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada penampilan glamournya di atas panggung. Setidaknya, itu menurutnya. Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya memeluk lutut.

Sebuah kamera kembali ia bidikkan ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.


Ia mencoba mengambil gambar Aleya dari sudut lain dengan berusaha berpindah tempat, sangat hati-hati, agar Aleya tidak mendengar langkah kakinya. Beberapa kali ia menginjak ranting kering, membuat Aleya menoleh ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Tapi tak mendapati siapapun. Laki-laki itu menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah pohon besar.

Itu perempuan yang sama, yang dilihatnya di taman rahasia tiga musim gugur yang lalu. Itu perempuan yang sama, yang memiliki mata penuh luka, namun seakan menegaskan bahwa ia tak ingin dikasihani. Ia ingin ke sana, duduk tiba-tiba di samping perempuan itu, seperti yang ia lakukan saat pertama bertemu dulu.

“Auwh!!” Seekor semut besar sukses menggigit tengkuknya, membuat ia harus berjingkat, menginjak ranting-ranting kering dengan acak, menghasilkan suara berisik yang membuat beberapa burung kecil terbang menjauh. Dan yang pasti, membuat Aleya melihatnya, karena ia mengumpat dalam bahasa Irish.

Perempuan itu reflek mengalihkan kepala ke belakang saat mendengar keributan kecil itu. Matanya membesar begitu tahu di sana ada seorang laki-laki bersyal biru, dengan sebuah kamera tergantung di lehernya. Aleya bangkit. Papparazzi! Bahkan papparazzi sudah tahu tempat persembunyiannya selama ini. Ini gila! Tidak adakah satu tempat pun di muka bumi ini yang bisa Aleya gunakan untuk benar-benar sendiri?

“Tunggu! Tunggu! Kamu tidak ingat aku?” lelaki itu berseru lantang saat Aleya mulai bersiap untuk lari.

Aleya menoleh. Ia sudah memasang sikap waspada saat laki-laki itu turun ke tepian danau dan berjalan mendekatinya. Dari sini, Aleya bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Rambut pendek hitam pekat, beraham tegas dengan dagu terbelah. Alisnya tebal, sedikit kerutan menghiasi keningnya, mungkin heran dengan sikap Aleya. Lalu, mata itu... khas penduduk Irish. Sorotnya terasa begitu sendu. Yang pasti, dari wajahnya, ia terlihat lebih muda beberapa tahun dari Aleya. Laki-laki itu memiliki tinggi lebih beberapa senti dari Aleya, mungkin sekitar 180. Badannya tidak besar, seperti laki-laki di kota yang umumnya pergi ke gym untuk memperindah tubuh. Laki-laki itu memiliki badan yang tergolong biasa saja, tidak besar dan tidak kurus. Namun terlihat bagus karena jaket tebal dan syal  birunya. Apa tadi? Bagus? Apa yang dipikirkan Aleya?

Laki-laki itu sudah ada beberapa meter di depannya. Napasnya sedikit tersengal-sengal. Aleya masih waspada.

“Kamu tidak ingat aku?” suara laki-laki itu terdengar serak. Aleya seperti pernah mendengar suara itu? Tapi dimana? Kapan? Menelusuri ingatan yang tersesat dalam labirin memorinya adalah sesuatu yang paling tidak Aleya suka.

“Kamu bukan... wartawan?” Aleya ragu.

“Apa?” dahi laki-laki itu makin berkerut. Ia mengikuti kemana arah pandang mata Aleya. Ke kameranya. “Oh... ini? Bukan. Bahkan aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi wartawan. Ini hanya... yah... sekadar hobi.”

Mendengar laki-laki itu bicara dengan bahasa Inggris beraksen Irish yang cukup kental, Aleya jadi yakin, ia bukanlah papparazzi yang mengikutinya dari London hingga ke sini.

“Apa kita pernah bertemu?”

“Kamu benar-benar tidak ingat aku?” Tiga musim gugur aku menunggu, dan kamu sama sekali tidak mengingatnya?

“Maafkan aku... aku...”

“Ah ya... waktu itu kamu tidak benar-benar melihatku. Karena dari matamu, aku bisa tahu, kamu masih ada di dimensi lain saat kamu mengatakan tentang teori luka dan bahagia.”

Luka dan bahagia? Ia memang pernah mengatakannya. Pada seseorang. Dulu. Tapi entah pada siapa. Dan dimana.

“Waktu itu kamu bilang, namamu Aleya. Benar kan?”

Ia pernah mengatakan namanya pada laki-laki ini? Benarkah? Dan laki-laki ini tidak tahu bahwa ia adalah seorang diva internasional dari Inggris? Aleya mulai mengendurkan sikap waspadanya.

“Dan... kamu?”

Laki-laki itu tersenyum. Terlihat begitu gembira saat Aleya menanyakan tentang dirinya. Ia mengulurkan tangan. “Aku Niall.”

Aleya menyambut uluran tangan itu. Tersenyum kikuk. Ia memang masih belum mengingat siapa orang bernama Niall ini. Tapi ia yakin, sepertinya ia bukan orang yang akan bermaksud jahat padanya. Dan yang paling penting, ia bukan papparazzi. Ya, Aleya lebih takut bertemu papparazzi daripada ‘sekadar’ bertemu penjahat.

Senja sudah jatuh. Danau itu sudah gelap. Di seberang sana, pendar-pendar lampu dari rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Beberapa kunang-kunang sudah menari di atas danau. Aleya tersenyum melihatnya.

“Sudah gelap. Kamu... tidak pulang?”

Aleya memandangi Niall. Ya, dia terlihat baik. “Aku...”

“Rumahmu dimana? Kalau kamu takut pulang sendirian, akan kuantarkan.” Begitu tegas, tanpa basa basi.

“Tidak perlu. Aku... sedang tidak ingin pulang.”

Niall menahan pertanyaan yang sudah ada di ujung lidahnya saat melihat perubahan di wajah itu.

“Kamu lihat sebuah rumah deretan ketiga dari arah selatan itu?” Niall menunjuk ke seberang danau.

Aleya mengikuti arah telunjuk Niall. Deretan ketiga dari arah selatan. Sebuah rumah kecil dengan penerangan yang tidak terlalu terang ada di sana. Seorang perempuan baru saja keluar dari pintu rumah, kepalanya celingukan seperti mencari sesuatu. Lalu kembali masuk ke dalam rumah dan cepat-cepat menutup pintu.

“Itu rumahku. Dan perempuan itu tadi ibuku. Dia pasti mencariku. Kalau kamu mau...”

“Boleh?”

Entah mengapa, Niall merasa sangat gugup tiap Aleya berbicara. Niall belum menyelesaikan kalimatnya, tapi tampaknya Aleya tahu apa maksudnya.

“Ayo.”

Aleya mengikuti Niall dari belakang. Berjalan hati-hati di tepian danau.

Bulan sudah memamerkan dirinya di atas sana.

Cahayanya terpantul sempurna di riak-riak danau. Aleya tidak yakin dengan keputusannya. Bertandang ke rumah orang yang baru ia kenal, apakah itu ide yang bagus? Yang pasti, Aleya belum ingin kembali ke rumah Rhea. Tidak, selama Nash masih di sana.

Sebuah telepon kembali masuk ke ponsel Aleya. Dari sebuah nama. Nash. Aleya melirik Niall yang masih berjalan di depannya.

“Mungkin menghilangkan jejak adalah salah satu cara terbaik menenangkan diri,” Niall berbicara tanpa menoleh padanya.

Ya, menghilangkan jejak. Ponsel itu masih bergetar saat melayang indah dan akhirnya tenggelam di tengah danau karena sentakan mantap tangan Aleya.  Selamat tinggal. Aku hanya ingin menghilang. Benar-benar menghilang dari kenangan.

 
210812

4 comments :

apa bisa menghilang dari kenangan?
*bedafokus*
xD

 

entahlah. spekulasi saja.
*bedafokusjuga*

 

Niall. Tiba2 teringat one direction. *salah fokus*
btw, ini lanjutan bukan sih? *lupa* atau memang suka nulis ttg kehidupan selebritis gitu?

 

Emang, saya ngambil namanya. hahaha *gakkreatip*
Ini lanjutan yg kemaren2 xD

 

Post a Comment