Bismillahirrahmanirrahim
“Kamu harus menerima. Popularitasmu
sudah menurun drastis, Aleya!”
Kalimat itu masih menggema di
telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia
sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.
Aleya bangkit dari tempat
tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia
duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin
besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski
sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena
smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila
dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput
dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.
Tapi ia hanya diam saja. Hanya
memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah,
setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia
mulai ditinggalkan.
Tahun ini adalah yang terburuk
bagi Aleya. Kritikus musik menilai suaranya jauh mengalami penurunan. Suara-suaranya
yang mencapai nada tinggi dalam lagu-lagu di album terakhirnya, dinilai hanya
merupakan teknik yang dilakukan oleh program-program komputer. Jenis musiknya
pun dianggap terdengar sama saja dengan album sebelumnya yang gagal total
meraih pasar.
Belum lagi, perihal pernikahannya
yang batal diselenggarakan. Tunangannya jatuh cinta pada asisten pribadinya,
yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Aleya bisa apa? Ia salah satu orang
yang menganut bahwa ‘cinta tak pernah
memaksa’, atau ‘cinta tak pernah
salah memilih’. Ia harus merelakan. Aleya terpuruk. Kali ini, terasa jauh
lebih menyakitkan dibandingkan dengan perceraiannya sembilan tahun yang lalu.
Aleya memoles wajahnya dengan
bedak tipis. Kali ini, tak ada keinginan sedikit pun di hatinya untuk merias
diri, menghadirkan sosok Aleya yang begitu dipuja.
Ia berdiri, meraih syal cokelat
yang ia sampirkan di tepi tempat tidur.
Begitu keluar dari kamar, Rhea
tampak heran dengan Aleya yang sudah mengenakan syalnya untuk menutupi
kepalanya.
“Kamu mau kemana, Al?”
Aleya berlalu begitu saja. Ia
sendiri tidak tahu ia hendak kemana. Ia biarkan saja kakinya membimbing langkahnya.
Tapi dalam hatinya, ada satu tempat yang ingin ia kunjungi. Seperti tiga tahun
lalu.
*
Mengasingkan diri di kota kecil
bersama sepupunya, Rhea, tampaknya bukan pilihan yang buruk. Setidaknya, di
sini, tidak banyak orang yang mengenalnya. Ia bisa bebas berkeliaran di jalanan
desa yang masih asli. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Sejenak, kesadaran
itu mengusiknya lagi. Tenyata, ketenarannya selama ini hanya ada di kota-kota
yang terjangkiti hedonisme, kapitalisme, liberalisme, dan isme-isme yang
terkesan baik meski sebenarnya menyimpan begitu banyak kebusukan. Glamour menjadi kesehariannya. Dulu.
Namun setelah gagalnya dua album
terakhirnya, ditambah dengan pengkhianatan Nash dan Gelsey, lalu pemberitaan
media yang kian menyudutkannya, ia bukannya meraih simpati, namun caci maki.
Aleya, Sang Diva Dengan Penjualan Album
Terlaris Sepanjang Sejarah, kini terpuruk, masuk rehabilitasi. Betapa
malang dan tragis kisah Aleya. Ya, ia hanya bisa menghela napas, menangis di
pundak Rhea, mengucilkan diri di desa kecil ini. Yang kini membuatnya mengerti,
bahwa popularitas tak ada artinya di sini. Tak ada orang yang mengenalnya, sebab
hanya sekali ia pernah menginjakkan kaki di sini. Mungkin mereka tahu
lagu-lagunya, namun tidak dengan wajahnya.
Perjalanan Aleya telah melewati
deretan pohon ek yang mulai berguguran. Angin berhembus cukup kencang.
Menjelang sore. Ia hanya ingin duduk di suatu tempat, merenungi luka yang belum
kering, namun makin berdarah-darah. Lalu matanya tertuju pada sebuah gerbang
kecil. Tampak tak terawat. Baru Aleya sadari, ia sudah berjalan cukup jauh dari
desa. Ia sudah berada di luar desa. Apakah ini di hutan? Aleya mulai merinding
menyadari kesendiriannya.
Gerbang kecil berhiaskan guguran
daun-daun kering, ah... Aleya rindu tempat itu. Pelan, jemari lentiknya yang
selalu bersih menyentuh gerbang besi yang nampaknya sudah mulai berkarat. Ia
turuni tangga kecil setelah gerbang itu.
Ini sebuah taman. Tidak perlu
melukiskan keindahannya, karena sepertinya musim gugur tak berlaku di taman
ini. Memang tampak tak terawat –seperti pertama kali ia kemari dulu- karena
banyak tumpukan guguran dedaunan. Namun lihatlah bunga-bunga itu, dandelion,
lily, krisan, rose, yang seakan membentuk sebuah formasi menakjubkan. Belum
lagi, kolam kecil di tengah taman airnya terlihat begitu jernih. Ikan-ikan
kecil terlihat meliukkan tubuhnya menyusuri kolam. Merpati-merpati menikmati
istirahat sore mereka, sambil bercengkrama di tepian kolam.
Taman tak bermusim. Begitu Aleya
menyebutnya, karena musim gugur seperti tak menyentuh taman ini. Dulu, tiga
musim gugur yang lalu, saat Aleya terpuruk karena kematian tragis orang yang
dicintainya, ia mengasingkan diri di tempat Rhea. Saat itulah ia menemukan
taman ini. Agak jauh di dalam hutan. Di sini, Aleya menulis dan merangkai nada.
Yang segera ia hadirkan dalam albumnya. Tapi apa yang terjadi? Album yang
lagu-lagunya ia tulis dengan segenap emosi dan perasaan luka tak bernama itu
justru dicaci maki oleh para kritikus. Akibatnya, album tak laku.
Kini, Aleya rindu menulis lagu di
taman tak bermusim. Ia hanya ingin menulis. Lagu-lagu dalam albumnya adalah
tentang dirinya. Bukan mengikuti selera pasar yang kian hari kian aneh. Ia akan
tetap menjadi diva yang dipuja. Nanti, suatu hari. Saat ia kembali ke tangga
musik dunia.
Aleya mulai melangkah memasuki
taman. Sementara senja di belakang tubuhnya mulai rebah perlahan. Ia tersenyum
mendapati bayangannya yang terbentuk di depannya karena pantulan senja. Namun,
sebuah telepon mengagetkannya. Dari Rhea. Aleya mengangkatnya. Wajahnya segera
berubah. Gegas ia berbalik arah. Ada airmata yang kembali ingin tumpah.
“Nash kemari. Mengantar undangan.
Tapi dia ingin bertemu denganmu.”
Ya, Aleya masih rindu. Aleya
masih mencintainya. Meski semua tak lagi sama.
170812

5 comments :
Suit suiiitt.. Curcol terselubung.
XD
Aku lebih suka yg ini daripada yg tadi. Gak mendayu2 kok ni, Mochi... Tapi endingnya bikin ngakak gimanaaa gitu. xD
owalaaahh.. endingnya to yg dikira curcol? :|
kereeeeeeeen :-)
tumben2an lho si mpok muji
xD
#PeristiwaLangka
Post a Comment