Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

[Masih] Tentang Aleya


Bismillahirrahmanirrahim



“Kamu harus menerima. Popularitasmu sudah menurun drastis, Aleya!”

Kalimat itu masih menggema di telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya. Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.

Aleya bangkit dari tempat tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.

Tapi ia hanya diam saja. Hanya memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah, setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia mulai ditinggalkan.


Tahun ini adalah yang terburuk bagi Aleya. Kritikus musik menilai suaranya jauh mengalami penurunan. Suara-suaranya yang mencapai nada tinggi dalam lagu-lagu di album terakhirnya, dinilai hanya merupakan teknik yang dilakukan oleh program-program komputer. Jenis musiknya pun dianggap terdengar sama saja dengan album sebelumnya yang gagal total meraih pasar.

Belum lagi, perihal pernikahannya yang batal diselenggarakan. Tunangannya jatuh cinta pada asisten pribadinya, yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Aleya bisa apa? Ia salah satu orang yang menganut bahwa ‘cinta tak pernah memaksa’, atau ‘cinta tak pernah salah memilih’. Ia harus merelakan. Aleya terpuruk. Kali ini, terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan perceraiannya sembilan tahun yang lalu.

Aleya memoles wajahnya dengan bedak tipis. Kali ini, tak ada keinginan sedikit pun di hatinya untuk merias diri, menghadirkan sosok Aleya yang begitu dipuja.

Ia berdiri, meraih syal cokelat yang ia sampirkan di tepi tempat tidur.

Begitu keluar dari kamar, Rhea tampak heran dengan Aleya yang sudah mengenakan syalnya untuk menutupi kepalanya.

“Kamu mau kemana, Al?”

Aleya berlalu begitu saja. Ia sendiri tidak tahu ia hendak kemana. Ia biarkan saja kakinya membimbing langkahnya. Tapi dalam hatinya, ada satu tempat yang ingin ia kunjungi. Seperti tiga tahun lalu.

*

Mengasingkan diri di kota kecil bersama sepupunya, Rhea, tampaknya bukan pilihan yang buruk. Setidaknya, di sini, tidak banyak orang yang mengenalnya. Ia bisa bebas berkeliaran di jalanan desa yang masih asli. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Sejenak, kesadaran itu mengusiknya lagi. Tenyata, ketenarannya selama ini hanya ada di kota-kota yang terjangkiti hedonisme, kapitalisme, liberalisme, dan isme-isme yang terkesan baik meski sebenarnya menyimpan begitu banyak kebusukan. Glamour menjadi kesehariannya. Dulu.

Namun setelah gagalnya dua album terakhirnya, ditambah dengan pengkhianatan Nash dan Gelsey, lalu pemberitaan media yang kian menyudutkannya, ia bukannya meraih simpati, namun caci maki. Aleya, Sang Diva Dengan Penjualan Album Terlaris Sepanjang Sejarah, kini terpuruk, masuk rehabilitasi. Betapa malang dan tragis kisah Aleya. Ya, ia hanya bisa menghela napas, menangis di pundak Rhea, mengucilkan diri di desa kecil ini. Yang kini membuatnya mengerti, bahwa popularitas tak ada artinya di sini. Tak ada orang yang mengenalnya, sebab hanya sekali ia pernah menginjakkan kaki di sini. Mungkin mereka tahu lagu-lagunya, namun tidak dengan wajahnya.

Perjalanan Aleya telah melewati deretan pohon ek yang mulai berguguran. Angin berhembus cukup kencang. Menjelang sore. Ia hanya ingin duduk di suatu tempat, merenungi luka yang belum kering, namun makin berdarah-darah. Lalu matanya tertuju pada sebuah gerbang kecil. Tampak tak terawat. Baru Aleya sadari, ia sudah berjalan cukup jauh dari desa. Ia sudah berada di luar desa. Apakah ini di hutan? Aleya mulai merinding menyadari kesendiriannya.

Gerbang kecil berhiaskan guguran daun-daun kering, ah... Aleya rindu tempat itu. Pelan, jemari lentiknya yang selalu bersih menyentuh gerbang besi yang nampaknya sudah mulai berkarat. Ia turuni tangga kecil setelah gerbang itu.

Ini sebuah taman. Tidak perlu melukiskan keindahannya, karena sepertinya musim gugur tak berlaku di taman ini. Memang tampak tak terawat –seperti pertama kali ia kemari dulu- karena banyak tumpukan guguran dedaunan. Namun lihatlah bunga-bunga itu, dandelion, lily, krisan, rose, yang seakan membentuk sebuah formasi menakjubkan. Belum lagi, kolam kecil di tengah taman airnya terlihat begitu jernih. Ikan-ikan kecil terlihat meliukkan tubuhnya menyusuri kolam. Merpati-merpati menikmati istirahat sore mereka, sambil bercengkrama di tepian kolam.

Taman tak bermusim. Begitu Aleya menyebutnya, karena musim gugur seperti tak menyentuh taman ini. Dulu, tiga musim gugur yang lalu, saat Aleya terpuruk karena kematian tragis orang yang dicintainya, ia mengasingkan diri di tempat Rhea. Saat itulah ia menemukan taman ini. Agak jauh di dalam hutan. Di sini, Aleya menulis dan merangkai nada. Yang segera ia hadirkan dalam albumnya. Tapi apa yang terjadi? Album yang lagu-lagunya ia tulis dengan segenap emosi dan perasaan luka tak bernama itu justru dicaci maki oleh para kritikus. Akibatnya, album tak laku.

Kini, Aleya rindu menulis lagu di taman tak bermusim. Ia hanya ingin menulis. Lagu-lagu dalam albumnya adalah tentang dirinya. Bukan mengikuti selera pasar yang kian hari kian aneh. Ia akan tetap menjadi diva yang dipuja. Nanti, suatu hari. Saat ia kembali ke tangga musik dunia.

Aleya mulai melangkah memasuki taman. Sementara senja di belakang tubuhnya mulai rebah perlahan. Ia tersenyum mendapati bayangannya yang terbentuk di depannya karena pantulan senja. Namun, sebuah telepon mengagetkannya. Dari Rhea. Aleya mengangkatnya. Wajahnya segera berubah. Gegas ia berbalik arah. Ada airmata yang kembali ingin tumpah.

“Nash kemari. Mengantar undangan. Tapi dia ingin bertemu denganmu.”

Ya, Aleya masih rindu. Aleya masih mencintainya. Meski semua tak lagi sama.


170812

5 comments :

Suit suiiitt.. Curcol terselubung.
XD

 

Aku lebih suka yg ini daripada yg tadi. Gak mendayu2 kok ni, Mochi... Tapi endingnya bikin ngakak gimanaaa gitu. xD

 

owalaaahh.. endingnya to yg dikira curcol? :|

 

tumben2an lho si mpok muji
xD
#PeristiwaLangka

 

Post a Comment