Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Gamang


Bismillahirrahmanirrahim



Langkahnya tegas. Ada dia di rumah Rhea, pikirnya. Namun lama kelamaan, langkah itu kian mengendur. Ia gamang. Siapkah ia bertemu dengan Nash? Orang yang ia cintai, sekaligus ia benci?

Dulu, baginya Nash adalah segalanya. Pria itu hadir tepat pada saat ia tengah menikmati luka akibat perceraiannya. Hadir begitu saja, tanpa sebuah kebetulan ataupun pertemuan-pertemuan tak sengaja seperti yang sering terlihat di film drama ataupun sebuah novel. Hadir begitu saja, bahkan Aleya sendiri tak tahu bagaimana bisa-bisanya Nash memenuhi pikirannya sepanjang hari, membuatnya ingin bertemu untuk sekadar melihat wajahnya. Atau mendengar sebentar saja suara serak dan beratnya.

Cinta pertama. Mungkin terlalu berkesan bagi Aleya untuk dilupakan begitu saja. Ya, Nash adalah cinta pertamanya. Bukan karena sejak kecil mereka berteman akrab, lalu muncul benih-benih cinta. Tidak. Bukan pula karena mereka berasal dari sekolah yang sama, lalu Aleya diam-diam memendam cinta. Bukan. Nash memang teman lamanya. Tapi ia sama sekali tidak akrab dengan Nash. Tidak sampai perceraian itu terjadi.


Aleya tahu Nash seorang pengacara. Maka, dengan niatan sekadar membantu teman lama, ia menyewa Nash untuk menjadi kuasa hukum dalam perceraiannya. Dan dari sana segalanya bermula. Lalu, cinta pertama? Ya, itulah kali pertama Aleya benar-benar merasakan jatuh cinta. Bahkan dengan mantan suaminya saja ia tidak pernah jatuh cinta.

Beberapa tahun hubungan mereka terjalin, hingga Nash melamarnya malam itu. Tidak dengan candle light dinner, ataupun melalui lagu romantis yang diiringi tarian jari seorang pianis. Kala itu, Aleya baru saja turun dari panggung, setelah menyelesaikan dua lagu untuk sebuah acara award di mana Aleya masuk nominasi. Baru saja ia hendak masuk ke ruang ganti, Nash mencegatnya. Mereka berhadapan. Dan tanpa basa basi babibu, Nash mengutarakan maksudnya.

“Jadilah istriku.” Suara Nash terdengar tegas. Sangat tegas. Tak ada keraguan sedikit pun di nada biacaranya. Hal yang membuat Aleya merasa lemas seketika, karena merasa ia akan meleleh saat itu juga.

Ia tidak tahu bagaimana awalnya. Yang pasti, enam bulan kemudian, setelah semua persiapan pernikahan sudah fix hampir seratus persen, Nash justru mengatakan sesuatu yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya segera.

“Aku mencintai orang lain.” Aleya menatap mata biru Nash, berusaha mencari binar gurauan di sana. Tetapi nihil. Mata biru itu tak lagi memancarkan keteduhan bagi Aleya. Tak ada cinta lagi untuknya di mata biru itu.

Gossip beredar. Papparazzi semakin gila mencari berita. Di saat press conference bersama Nash, ia ingin membenamkan kepalanya, sekaligus yakin, press conference ini tidak seharusnya dilakukan. Karena Nash dengan senyum bahagianya menjawab pertanyaan wartawan,

“Kalau tadi kalian melihatku turun dari mobil bersama seorang wanita... dialah orang ketiganya.”

Gesley. Asisten pribadi yang sudah ia anggap sahabat, sekaligus ia anggap seperti adiknya sendiri. Tentu, menyembunyikan air mata dari wartawan adalah hal yang mustahil Aleya lakukan. Maka ia memilih pergi. Ia tidak ingin luka itu makin besar. Ia tidak ingin menikmati luka lagi. Ia sudah lupa bagaimana caranya membuat luka menjadi bahagia.

Tak lama, Gesley datang. Wajahnya sembab. Meminta maaf. Tapi Aleya hanya diam. Sebelah hatinya, ia membenci gadis berambut pirang itu. Namun sebelah yang lain, ia masih memegang prinsip bahwa cinta tak pernah salah memilih. Ia mengenal Gesley. Ia yakin, Gesley sendiri tidak menginginkan hal seperti ini terjadi.

“Aleya... aku... yang dikatakan Nash...” Lihatlah. Sekadar bicara seperti itu saja, pipi Gesley sudah basah oleh air matanya. Gadis itu bahkan sebenarnya lebih rapuh dari Aleya.

“Kamu mencintainya?” tanya Aleya. Menancapkan pandangannya tepat pada kedua bola mata cokelat itu.

“Aku... jangan dengarkan Nash, Aleya...”

“Kamu mencintainya?” Sekali lagi Aleya menegaskan.

Gesley hanya menangis sesenggukan. Aleya mendekat. Berbisik pelan, namun pasti.
 
“Jaga dia. Karena cinta tak pernah salah memilih.”

Ya, cinta tak pernah salah merengkuhkan kedua sayapnya. Itu keyakinan Aleya selama ini.
Setelah itu, sebuah telepon masuk ke ponselnya. Dari Nash. Ragu, ia angkat. Di seberang sana, Nash hanya memanggil namanya dengan pelan.

“Jika kalian menikah... jangan mengundang aku. Kumohon.” Aleya berkata dengan nada memohon. Tulus. Ia hanya tidak ingin lukanya kembali menganga.

Tapi kini, apa yang Nash pikirkan? Mengiriminya undangan? Dari mana Nash tahu ia ‘bersembunyi’ di sini, di sebuah desa kecil yang bahkan ia berkali-kali lupa apa namanya?

Langkah Aleya terhenti. Haruskah ia menemui Nash, yang mungkin saja tak membuat lukanya lagi-lagi terbuka, lalu ia akan menangis, atau mungkin berpura-pura tegar? Atau memilih kembali ke taman tak bermusimnya, menikmati lukanya, dan mencari cara untuk mengubahnya menjadi bahagia? Dilema. Gamang. Namun, sebuah kamera dalam jemari yang kokoh membidiknya, tepat saat mimik wajahnya menjelaskan segala yang ada di pikirannya.



200812

2 comments :

bagus sih, tapiiiii, apa y? trll Konvensional nurutku, gk Ada surprise n mdh ketebak, jg dskripsi setting n krktr fisik tokohnya minim,

 

diperbaiki di tulisan berikutnya. thanks mpok! :D

 

Post a Comment