Bismillahirrahmanirrahim
Langkahnya tegas. Ada dia di
rumah Rhea, pikirnya. Namun lama kelamaan, langkah itu kian mengendur. Ia
gamang. Siapkah ia bertemu dengan Nash? Orang yang ia cintai, sekaligus ia
benci?
Dulu, baginya Nash adalah
segalanya. Pria itu hadir tepat pada saat ia tengah menikmati luka akibat
perceraiannya. Hadir begitu saja, tanpa sebuah kebetulan ataupun
pertemuan-pertemuan tak sengaja seperti yang sering terlihat di film drama
ataupun sebuah novel. Hadir begitu saja, bahkan Aleya sendiri tak tahu
bagaimana bisa-bisanya Nash memenuhi pikirannya sepanjang hari, membuatnya
ingin bertemu untuk sekadar melihat wajahnya. Atau mendengar sebentar saja
suara serak dan beratnya.
Cinta pertama. Mungkin terlalu
berkesan bagi Aleya untuk dilupakan begitu saja. Ya, Nash adalah cinta
pertamanya. Bukan karena sejak kecil mereka berteman akrab, lalu muncul
benih-benih cinta. Tidak. Bukan pula karena mereka berasal dari sekolah yang
sama, lalu Aleya diam-diam memendam cinta. Bukan. Nash memang teman lamanya.
Tapi ia sama sekali tidak akrab dengan Nash. Tidak sampai perceraian itu
terjadi.
Aleya tahu Nash seorang
pengacara. Maka, dengan niatan sekadar membantu teman lama, ia menyewa Nash
untuk menjadi kuasa hukum dalam perceraiannya. Dan dari sana segalanya bermula.
Lalu, cinta pertama? Ya, itulah kali pertama Aleya benar-benar merasakan jatuh
cinta. Bahkan dengan mantan suaminya saja ia tidak pernah jatuh cinta.
Beberapa tahun hubungan mereka
terjalin, hingga Nash melamarnya malam itu. Tidak dengan candle light dinner,
ataupun melalui lagu romantis yang diiringi tarian jari seorang pianis. Kala
itu, Aleya baru saja turun dari panggung, setelah menyelesaikan dua lagu untuk
sebuah acara award di mana Aleya masuk nominasi. Baru saja ia hendak masuk ke
ruang ganti, Nash mencegatnya. Mereka berhadapan. Dan tanpa basa basi babibu,
Nash mengutarakan maksudnya.
“Jadilah istriku.” Suara Nash
terdengar tegas. Sangat tegas. Tak ada keraguan sedikit pun di nada biacaranya.
Hal yang membuat Aleya merasa lemas seketika, karena merasa ia akan meleleh
saat itu juga.
Ia tidak tahu bagaimana awalnya.
Yang pasti, enam bulan kemudian, setelah semua persiapan pernikahan sudah fix
hampir seratus persen, Nash justru mengatakan sesuatu yang membuatnya ingin
mengakhiri hidupnya segera.
“Aku mencintai orang lain.” Aleya
menatap mata biru Nash, berusaha mencari binar gurauan di sana. Tetapi nihil.
Mata biru itu tak lagi memancarkan keteduhan bagi Aleya. Tak ada cinta lagi
untuknya di mata biru itu.
Gossip beredar. Papparazzi
semakin gila mencari berita. Di saat press conference bersama Nash, ia ingin
membenamkan kepalanya, sekaligus yakin, press conference ini tidak seharusnya
dilakukan. Karena Nash dengan senyum bahagianya menjawab pertanyaan wartawan,
“Kalau tadi kalian melihatku
turun dari mobil bersama seorang wanita... dialah orang ketiganya.”
Gesley. Asisten pribadi yang
sudah ia anggap sahabat, sekaligus ia anggap seperti adiknya sendiri. Tentu,
menyembunyikan air mata dari wartawan adalah hal yang mustahil Aleya lakukan.
Maka ia memilih pergi. Ia tidak ingin luka itu makin besar. Ia tidak ingin
menikmati luka lagi. Ia sudah lupa bagaimana caranya membuat luka menjadi
bahagia.
Tak lama, Gesley datang. Wajahnya
sembab. Meminta maaf. Tapi Aleya hanya diam. Sebelah hatinya, ia membenci gadis
berambut pirang itu. Namun sebelah yang lain, ia masih memegang prinsip bahwa
cinta tak pernah salah memilih. Ia mengenal Gesley. Ia yakin, Gesley sendiri
tidak menginginkan hal seperti ini terjadi.
“Aleya... aku... yang dikatakan
Nash...” Lihatlah. Sekadar bicara seperti itu saja, pipi Gesley sudah basah
oleh air matanya. Gadis itu bahkan sebenarnya lebih rapuh dari Aleya.
“Kamu mencintainya?” tanya Aleya.
Menancapkan pandangannya tepat pada kedua bola mata cokelat itu.
“Aku... jangan dengarkan Nash,
Aleya...”
“Kamu mencintainya?” Sekali lagi
Aleya menegaskan.
Gesley hanya menangis
sesenggukan. Aleya mendekat. Berbisik pelan, namun pasti.
“Jaga dia. Karena cinta tak
pernah salah memilih.”
Ya, cinta tak pernah salah
merengkuhkan kedua sayapnya. Itu keyakinan Aleya selama ini.
Setelah itu, sebuah telepon masuk
ke ponselnya. Dari Nash. Ragu, ia angkat. Di seberang sana, Nash hanya
memanggil namanya dengan pelan.
“Jika kalian menikah... jangan
mengundang aku. Kumohon.” Aleya berkata dengan nada memohon. Tulus. Ia hanya
tidak ingin lukanya kembali menganga.
Tapi kini, apa yang Nash
pikirkan? Mengiriminya undangan? Dari mana Nash tahu ia ‘bersembunyi’ di sini,
di sebuah desa kecil yang bahkan ia berkali-kali lupa apa namanya?
Langkah Aleya terhenti. Haruskah
ia menemui Nash, yang mungkin saja tak membuat lukanya lagi-lagi terbuka, lalu ia akan menangis, atau mungkin berpura-pura tegar? Atau memilih kembali ke taman tak bermusimnya, menikmati lukanya, dan mencari cara untuk mengubahnya menjadi bahagia? Dilema. Gamang. Namun, sebuah kamera dalam jemari yang kokoh membidiknya, tepat saat mimik
wajahnya menjelaskan segala yang ada di pikirannya.
200812

2 comments :
bagus sih, tapiiiii, apa y? trll Konvensional nurutku, gk Ada surprise n mdh ketebak, jg dskripsi setting n krktr fisik tokohnya minim,
diperbaiki di tulisan berikutnya. thanks mpok! :D
Post a Comment