Bismillahirrahmanirrahim
Tentang tiga manusia yang jatuh cinta, cemburu, patah hati, tertawa,
sakit dan kehilangan.
Tentang tiga manusia yang mengharapkan hal paling utopis: selalu
bersama tanpa ada yang terluka.
Ini tentang dilema; tiga cerita untuk satu rasa.
Alhamdulillah, buku ini nyampe hari Sabtu kemarin, dan langsung
saya lahap habis selama hari Lebaran ini. Hehehe... gak ada kerjaan sih. :p
Seperti yang ditulis di sinopsis back cover-nya, buku ini bercerita
tentang tiga manusia. Estrella, Kira dan Adri. Tiga remaja yang ‘dipertemukan’
dalama sebuah kerja kelompok. Yang awalnya saling canggung, namun setelah
melalui suatu hal, mereka justru seperti tak terpisahkan.
Namun satu hal yang perlu
diingat. Kira menyukai Adri. Singkat cerita, mereka jadian. Tetapi Adri gak
ingin hal tersebut merusak persahabatan mereka. Jadilah, dalam setiap kencan
Adri dan Kira, Estrella selalu ‘dipaksa’ untuk ikut. Yah, bisa ditebak. Hal itu
yang akhirnya memicu konflik demi konflik di novel ini.
Saya suka dengan diksinya yang ‘remaja
banget’. Meskipun saya –mengakui- bukan remaja lagi, tapi saya enjoy aja baca-baca teenlit. Dan buku ini salah satunya. Saya gak bisa berhenti untuk
membaca. Saya pengen terus membaca dan membaca. Penasaran? Itu nomor kesekian.
Tapi hal yang lebih saya suka adalah diksinya. Gak tahu kenapa, saya suka
banget dengan diksi yang dipakai Alvi ini. Bagi yang pernah singgah di blognya
Alvi, pasti ngerti gimana cara Alvi bercerita. Ya, begitulah gaya cerita di
novel ini. Flowing, lincah, banyak quote menarik juga. Bikin kita gak sadar
bahwa kita sudah melahap hampir setengah buku.
Chemistry persahabatan juga cukup terasa di sini. Saya suka di
halaman 119;
Karena kita sudah ada di sini untukmu. Dan persahabatan itu simple. Tidak butuk “I love you” untuk memulainya.
Ada hal yang saya rasa agak
terkesan klise: persoalan rumah tangga yang membuat seorang anak broken home. Seorang istri dan suami
yang sama-sama bekerja, hingga tidak menyisakan waktu untuk keluarga.
Akibatnya, sering cekcok sendiri karena masing-masing pihak menganggap dirinya
yang paling benar. Menghasilkan seorang anak yang putus asa dan frustasi.
Klise. Sudah terlalu banyak kisah serupa di sinetron-sinetron. Sebenarnya ada
banyak hal yang bisa dijadikan sebagai ‘masalah rumah tangga’. Misal, perbedaan
pendapat dalam konsep mendidik anak. Si ayah pengen anaknya dididik begini, si
ibu pengen anaknya dididik begitu, yang keduanya sama-sama tidak mau mengalah.
Di sini si anak akan lebih menjadi korban. Selain harus mendengar orang tuanya
bertengkar, ia juga harus menuruti keinginan orang tua tanpa bisa melawan. Ini hanya
sekadar contoh aja ya. Yang perlu diingat, hal klise bukan berarti membosankan.
Dan saya cukup gak bosan kok mengikuti kisah di novel ini. Buktinya, saya
sampai selesai kan bacanya. :p
Ada juga hal yang menurut saya
unik di novel ini, yang juga jadi nilai plus di mata saya. Di setiap chapter, kita bakalan disuguhi #NowPlaying. Jadi, setiap bagian serasa
punya soundtrack-nya masing-masing.
Keren banget. Seperti biasa, yang jadi #NowPlaying adalah lagu-lagu dari
penyanyi-penyanyi favorit sang penulis. Mulai dari Demi Lovato, Taylor Swift,
Miley Cyrus, Selena Gomez, Carly Rae Jepsen, Avril Lavigne, sampai Rihanna.
Lady GaGaKnya mana nih? Hehehe... :D
Oh iya, klimaksnya sebenernya
bagus. Hanya saja, penyelesaian masalahnya yang menurut saya justru membuat
ritme menurun. Terlalu ‘biasa’. Tapi seperti yang saya bilang, karena saya suka
dengan diksinya, saya gak mempermasalahkan hal ‘biasa’ itu. Saya tetap bisa
menikmati ini sampai akhir. Biarpun ada sedikit ‘masa-gitu-doang?’ di benak
saya.
Ending? Hmm... Sweet. Bisa
ditebak dengan mudah memang. Karena sepertinya penulis memang gak berniat
membuat orang ‘penasaran banget’ setelah menyelesaikan sebuah halaman. Kalau
saya rasakan, penulis sepertinya memang pengen membuat kisah ini mengalir apa
adanya. Bisa ditebak mah gak masalah. Asalkan pesan yang ingin disampaikan itu
tercapai. Bener begitu gak? :D #sotoy
Saya juga suka banget dengan
epilognya. Oh, lebih tepatnya, saya suka dengan bagian setelah epilog. Hehe...
Jadi kesannya kayak nonton film. Ada ending. Ada epilog. Lalu muncul deretan
nama-nama pemeran tokoh. Tapi di layar masih terpampang adegan-adegan lanjutan
dari film itu. Keren lah. Apalagi saat Estrella mengatakan sesuatu ke Danny. Good choice to end the story.
Setelah menutup buku ini, saya
tersenyum cukup puas. Saya bisa kembali ke masa remaja, mengenang saat-saat
masih sekolah, mengenang sahabat-sahabat yang pernah hadir dalam hidup saya.
Dan, saa jadi mengerti dengan maksud tiga merpati di cover-nya. Ya, saya setuju dengan sebuah quote di awal kisah.
Friendship is our home, we’ll go home someday...
Btw, good job, Alvi! :)
190812

6 comments :
Wah, terima kasih banyak, Mas, untuk reviewnya. :')
Makasih untuk masukan-masukannya, Mas. Semoga bisa lebih baik untuk naskah berikutnya!
Ayo, Mas, nulis novel juga. Pengen baca. :D
saya ingat saat alvi bilang dia suka banget bab setelah epilog dan dia membuatnya dengan sepenuh hati :)
penasaran. jadi pengen cepet-cepet baca. :D
dul, yg ini dapetinnya vrs gretongan jg gk? :-P
bc rviewny, kynya bln dpn dh cetul nh, slamat y bwt alvi, :-)
Alvi: hahaha... sama2. doain ya :D
Paula: cepetan! ntar bikin review juga! :D
Mpok Ria: tampang saya emangnya 'tampang gratisan' banget ya? =,=
sumpah! ini beli sendiri! =,=
emank :*) untungnya msh rajin bikin riview, cb kalo Kagak, rugi yg ngasih gretongan :-P
mpooookk! mpok belom follow saya yeee??? >.<
Post a Comment