Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Apa Kabar Hati Kita?


Bismillahirrahmanirrahim




Yaa muqallibal qulub, tsabit qalbi ‘ala dinik...
Yaa musharrifal qulub, sharrif qulubana ‘ala tha’atik...


Kita ini manusia, Kawan. Makhluk yang mempunyai segumpal daging bernama hati. Ialah yang menjadi tolok ukur segalanya tentang kita. Karena bila ia baik, baik pula seluruh hal yang kita lakukan. Dan bila ia buruk, maka buruk pula amalan-amalan kita.


Sayangnya, segumpal daging itu, mudah sekali untuk terbolak-balik. Kadang, ia senang berada pada sisi kanan. Tapi tak jarang, ia bergeser, dan memilih sudut yang menyerong, pelan-pelan. Hingga pada saat yang tanpa kita sadari, ia sudah menghadap pada sisi kiri.

Belanja Online? Why Not?!


Bismillahirrahmanirrahim


Lagi browsing-browsing, masuk ke sebuah situs, eh di bagian sidebar, ada iklan yang gambar-gambarnya ‘menggoda iman’. Biasanya sih, gambarnya berupa gadget-gadget keren, tas, sepatu, baju-baju yang brandnya bikin ngiler. Yup! Itulah online shop, yang di zaman sekarang ini udah bukan lagi sesuatu yang baru.

Online shop, biasanya berupa web yang hostnya berbayar. Artinya, mereka emang beli host itu, sehingga tampilannya bisa mereka kostumisasi sendiri semenarik mungkin. Yang paling terkenal mungkin Zalora dan Lazada. Kalau toko buku, paling di BukuKita. Biasanya, kalau kita mau beli sesuatu dari olshop semacam ini, kita musti registrasi dulu di webnya.

Terpaksa Nih


Bismillahirrahmanirrahim


Pernah gak sih, ngerasa ‘terpaksa’ sekali saat melakukan sebuah ibadah? Normal gak sih? Karena, jujur aja, saya serrrriiing banget ngerasa berat dan ‘terpaksa’ saat beribadah.

Kadang, saya ngerasa berdosa banget karena adanya perasaan ‘terpaksa’ itu. Rasanya gak tenang gitu. Tapi kemudian saya mikir. Yang namanya ‘terpaksa’ itu kan kita memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang kita gak minat kan? Jadi, sebenernya saya ogah-ogahan gitu dalam beribadah? Hmmm... jujur aja deh, pernah gak kalian ngerasain ogah-ogahan dalam beribadah? Jujur lho! Pasti pernah kan! Dan itu manusiawi banget.

We Meet Again!

Bismillahirrahmanirrahim


Alhamdulillah... masih dikasih kesempatan sama Allah untuk ketemu lagi dengan bulan penuh maghfirah ini. Sesuatu banget ya. :D

Seperti tahun lalu, Diary Ramadhan saya kali ini gak bakalan full sebulan. Karena saya gak akan menuliskan semua kegiatan saya, dan gak setiap hari ada kejadian yang bisa jadi inspirasi tulisan kan? Jadi, saya akan ngisi diary ini kalau emang saya lagi ada ide untuk nulis. Yah, pastinya sih gak jauh-jauh amat lah ya dari keseharian puasa. Tapi, kalau Allah ngasih ide tiap hari, ya gak ada salahnya juga sih ya kalau saya nulis tiap hari juga. :p

Ramadhan tahun kemarin, saya ngerasa sebagai Ramadhan terburuk yang pernah saya jalani. Jadi, di Ramadhan tahun ini, saya gak pengen mengulangi kesalahan yang sama kayak tahun lalu. Ramadhan kali ini harus jauh lebih baik! Harus! 

Ada yang punya target khusus kah selama Ramadhan? Pasti banyak ya. Mulai dari yang pengen tadarusan 2-3 juz sehari, perbanyak shalat sunnah, perbanyak sedekah, sampai pada perbanyak hafalan. Wuiihhh... Keren!! :D

Catatan Kerinduan


Bismillahirrahmanirrahim

Sore selepas Magrib, sebuah pemberitahuan nongol di pesbuk saya. Dari seorang sahabat lama. Dia menandai saya di catatannya. Sebuah catatan yang berhasil membuat saya tercenung. Diam, merenungi apa yang tertulis di sana. Hati saya seakan berubah lembut seketika.

Catatan itu singkat. Simpel. Tapi sangat dalam. Tentang kerinduan seseorang terhadap sahabatnya. Itu bukan tulisan teman yang menandai saya, dia hanya copy paste. Namun, isinya, mungkin saja, sangat mewakili perasaannya.

Tentang kerinduan. Rindu masa-masa indah saat dulu sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu. Rindu akan masa-masa awal mengubah cara berpakaian, dan mendapat respon dari sekitar, dan tentunya dari orang tua. Rindu saat masih aktif mengikuti daurah di sini, daurah di sana, bahkan lintas provinsi. Ah... tahukah? Saya pun merindukan hal-hal itu.

Yeah, It's Really First Time in Beijing


Bismillahirrahmanirrahim


Waktu bukan untuk disia-siakan
Untuk sesuatu yang tak kau sukai.
Nanti kamu akan ketinggalan dengan mereka
Yang berlari lebih kencang pada jalur yang tepat.
-Daniel-


Yuk, kita jalan-jalan dulu ke China. Tepatnya ke kota Beijing. Jangan takut tersesat, ada Lisa yang menemani kita. Eh, apa? Lisa juga baru pertama kali ke Beijing? O.o

Kita sih, ke Beijing tujuannya mau jalan-jalan ya (pura-puranya sih gitu). Tetapi Lisa? Dia ke Beijing karena terpaksa. Ibunya baru saja meninggal karena insiden kecelakaan. Satu-satunya keluarganya yang masih tersisa hanyalah ayahnya, yang tinggal di Beijing. Mau tak mau, Lisa harus ke sana. Meski itu sangat asing baginya.

Bagaimana tidak asing? Mungkin sekitar 12 tahun ia tidak pernah bertemu ayahnya, sekadar berkomunikasi pun tidak. Sejak bercerai, ibunya hampir tidak pernah membicarakan ayahnya sama sekali. Tapi kemudian, dia harus hidup dengan lelaki itu, di Beijing.

Gerimis Tak Selalu Menjelma Hujan


Bismillahirrahmanirrahim



Kapan ya terakhir kalinya saya baca teenlit? Beberapa bulan yang lalu? Enggak, setahun deh kayaknya, nopelnya Alvi Syahrin, Dilema. Udah lama juga ye. -_-

Dan sekarang, saya kok mau-maunya baca sebuah nopel karya kakak saya? Sebuah nopel, yang dari judul dan cover-nya terkesan cukup manis. Tapi ternyata, begitu masuk ke dalamnya dan berkenalan dengan tokoh-tokohnya, lalu mendengarkan mereka bercerita, saya baru ngeh, bahwa ternyata ini teenlit.

Sekian lama gak baca teenlit, apa yang bikin saya mau baca nopel ini? Karena kenal sama penulisnya kah? Enggak lah... Tapi iya juga. Maksudnya, saya kenal tulisan-tulisannya Kak Anita Sari. Saya juga tahu karakter tulisannya kayak gimana. Sedikit mirip lah sama tulisan-tulisan galau saya (pede akut!). xD

Aroma Kenangan di Katjoe Manis


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, saya sudah puas jalan-jalan ke Ermera, di bumi Lorosa’e, ditemani Lon dan Royo. Menghirup aroma biji-biji kopi yang masih segar di dahannya, ataupun yang masih dijemur di halaman rumah Marsela dan Juanito. Berhubung tidak ada kesempatan untuk sekadar mencicipi kopi Ermera di kedai milik Juanito, saya memutuskan untuk berlayar ke Batam. Tepatnya daerah Nagoya. Di sana, saya mampir ke sebuah kafe yang sangat... hmm... sangat apa ya? Sangat kopi sekali.

Dimulai dari cat kafe yang hanya didominasi oleh unsur warna hitam dan putih, aroma biji-biji kopi dari berbagai jenis, hingga barista yang melukis latte art yang sangat cantik pada secangkir kopi yang disajikan. Di sinilah berbagai cerita itu dimulai. Tentang cinta dan kenangan yang tak pernah pergi. Dan yang pasti, tentang aroma kopi yang selalu membawa kenangan itu kembali.