Bismillahirrahmanirrahim
Bak gemerlap bintang di langit
Meski jauh dan tinggi berada
Namun tak pernah bosan menghiasi langit
Serta mewarnai malam
Itulah persahabatan sejati
Izmi & Lila, Beanth a Million of Stars. Tentang Izmi, seorang student pass holder di negeri berlambang
singa. Oh, juga Lila, seorang student
pass holder juga, di negeri yang sama pula. So? Cerita berawal tentang siapa mereka berdua masing-masing, tanpa
ada keterkaitan satu dengan yang lain. Yang pasti, masalah mereka rada-rada
mirip, sama-sama foreigner, sama-sama
butuh uang untuk menyambung hidup, tapi menyikapi dengan cara yang berbeda.
Izmi yang tinggal di flat milik Nyonya
Jen, harus rela membantu Nyonya Jen di dapur untuk menjalankan bisnis sarapan
paginya. Tapi dari sanalah ia mendapat tambahan dollar untuk sekadar mengisi
dompet, sekaligus bertahan hidup di tengah meroketnya kurs dollar Singapura.
Sedangkan Lila, sedang berusaha memahami gambling
di bursa saham yang otaknya belum sepenuhnya bersedia untuk konek dengan bidang
itu.
Singkat cerita, setelah melalui
beberapa bab, mereka bertemu. Izmi tinggal di kamar sempit di flat yang
ditempati Lila. Lalu terjalinlah persahabatan itu dengan segera meski mereka
baru saling kenal. Ketulusan, keceriaan, dan sikap-sikap Izmi yang lain yang
membuat Lila langsung merasa nyaman.
Di novel ini, Mpok Riawani Elyta
membuktikan, bahwa tulisannya gak melulu berbahasa baku yang terkesan kaku,
tapi bisa juga sedikit ringan dan agak meremaja. Cukup enjoyable untuk dinikmati sejak bangun tidur sampai waktu Dhuhur.
Hehe... :D
Di sini, kita akan dibawa ke
Singapura. Kita akan diajak oleh penulis untuk melongok sedikit kehidupan di
sana, yang pastinya jauh banget kalau kita harus membandingkannya dengan negeri
kita tercinta ini. Singapura, negeri multi
culture. Akan banyak kita jumpai orang-orang Jepang, Korea, India, dan yang
pasti, etnis Chinese dan Melayu. Akan kita jumpai juga bahasa Singlish yang kedengeran lucu. Hehe...
tapi di sini, rasanya kok Singlishnya kurang begitu kentara ya? Saya pernah
baca novelnya Fira Basuki, setting di
Singapura juga, dan di sana Singlishnya kelihatan banget bedanya dengan British maupun American.
Di sini, kita juga akan dihadiahi
kisah merah jambu, antara Lila dan Edward, serta Izmi dan Nathan. Tapi buku ini
gak bicara tentang itu, sehingga kisah-kisah itu hanya akan jadi penghias dan
pemanis saja. Hal terpenting di buku ini, adalah tentang usaha untuk bisa survive di negeri orang. Yups, tentang usaha itu sendiri. Bukan tentang hasil.
Hmm... tunggu dulu, jangan
panggil penulisnya Riawani Elyta kalau gak ada sedikit pun unsur kuliner dalam
novel-novelnya. Saya sudah mafhum dengan Tarapuccino, yang murni memang
memiliki benang merah berupa kuliner. Tapi ternyata, unsur-unsur kuliner tetap
dimasukkan ke dalam novel-novelnya yang lain, ada yang sedikit, ada yang
banyak. Dan di novel ini, kuliner adalah mata pencaharian Izmi. Mpok Ria
banget. Bikin saya penasaran, kapan-kapan pengen ngicipin masakannya si Mpok.
#plak! xD
Jangan lupakan unsur Islami yang
gak pernah lepas dari tulisan Riawani Elyta ya.... Kita tetap akan ‘dibimbing’
untuk selalu menyerahkan segala masalah kita pada Tuhan.
Tentang konflik? Hmm... novel ini
seperti minim konflik. Konfliknya itu-itu aja. Mungkin gak recomended buat Anda yang mencari banyak konflik yang beragam dalam
satu buku. Anda gak akan mendapatinya di sini. Karena inti konfliknya cuman 1, how to survive! Itu aja. Buku ini emang
bicara tentang persahabatan, tapi saya sama sekali gak menemukan adanya konflik
yang berhubungan dengan persahabatan.
Oh ya, satu hal yang menurut saya
agak kontra ya. Entah ini saya yang salah persepsi, atau memang terjadi
kontradiksi. Di awal-awal dijelaskan bahwa keluarga Nyonya Jen adalah keluarga
yang sangat menjunjung keberagaman. Suaminya saja gak berasal dari etnis yang
sama dengan dia. Tapi kenapa di akhir-akhirnya, Nyonya Jen dengan tegas
melarang Nathan untuk menjalin hubungan dengan Izmi, bahkan mengutuk Nathan
jadi kodok kalau Nathan menikahi Izmi? Wew... apa maksud dari ‘orang asing’
adalah orang dari beda negara? Dan Nyonya Jen menjunjung keberagaman, asalkan
sama-sama satu negara, Singapura? Gak tahulah. Saya bingung, dan gak ambil
pusing. Heheh...
Saya juga gak suka dengan epilognya.
Terkesan... apa ya... mengambil kesimpulan sendiri, atau bahkan menggurui. Saya
lebih suka epilog yang menyerahkan semuanya ke persepsi pembaca, dan bukan
penulis yang mengambil kesimpulannya sendiri. Saya juga lebih suka, seandainya bab
terakhir itulah yang dijadikan epilog.
Anyway, gimanapun juga ini adalah novel Riawani Elyta teringan dan
terenyah yang pernah saya baca. Sangat berbeda dengan novel-novelnya yang lain,
biarpun tetap ada sentuhan khas Riawani Elyta di sini. Ini salah satu novelnya
yang cocok dibaca remaja, selain Ping! Sangat menginspirasi. Bravo! :)
220812

2 comments :
thanks yaaa, iye lunas, gk tau y, kalo giliran lo byk mujinya, gue kq bawaannya rd curigesyen yak? qiqi, eh gk prnh buka goodread lg y? nyumbang rating dunk, sssst, kmrn gue bc ada yg ngeritik nvl temen kt itu puedess bgt, pdhl bc riview lo kynya Aman2 aja
hihihi... curigesyen ye? waspadalah aja mpok! :P
saya jarang buka goodreads. tadi abis buka, liat yg mpok omongin. iye ye, puedes2. mungkin krna emang saya jarang baca teenlit, dan yg mengkritik itu bahan bacaannya jauh lebih bejibun daripada saya, ya mereka bisa2 aja, dan sah2 aja ngomong begitu. atau mungkin, krna sekarang gaya mengkritik saya sudah jauuuhhh lebih smooth dan gak sepedes dulu lagi? entahlah :P
Post a Comment