Bismillahirrahmanirrahim
Beberapa hari ini, telinga saya akrab dengan nasyid dari dua munsyid manca negara. Yup, pasti sekarang udah banyak banget yang kenal sama Maher Zain. Dan yang satu lagi, mungkin di kalangan pecinta nasyid, nama Sami Yusuf juga sudah gak asing. Mungkin berhubung Ramadhan juga, selera musik saya mulai bertambah. Eh, gak juga ding. Perasaan dari dulu saya juga suka nasyid. Tapi nasyid dalam negeri dan Malaysia aja.
So Tired...
Bismillahirrahmanirrahim
Sebenernya buanyak banget yang ada di pikiran saya hari ini. Saking banyaknya, saya sampe bingung gimana nulisnya. Ujung-ujungnya, saya dikalahkan sama rasa capek dan ngantuk yang luar biasa. Tadi aja, saya sudah sempet ketiduran. Bangun lagi gara-gara kaget waktu adek saya megang hape di samping bantal saya. Alhasil, pusing banget di kepala. Kayak diketok palu. Serasa kena vertigo. (_ _”)
Tubuh kita punya hak yang harus kita tunaikan. Pikiran pun punya batas lelah. Rasanya sekian saja dulu. Mau lanjut tidur. Hoahem…
*tulisan gak penting
Ngawi, 020811
Busy Day!
Alhamdulillah, gak terasa, semalem udah mulai Tarawih lagi, dan dini hari tadi udah sahur lagi bareng-bareng keluarga. Padahal rasanya baru kemaren saya nyelesaiin Dairy Ramadhan 1431H saya yang di pesbuk. Sebagai Muslim yang (insya Allah) baik, pastinya saya bahagia banget bisa ketemu lagi dengan bulan yang di dalamnya bakalan banyak banget obral pahala. Surga seakan bener-bener didiskon di bulan ini. Rugi banget bagi mereka yang masih gak mampu untuk mendapatkan maghfirah begitu keluar dari Ramadhan. Moga-moga Allah menjadikan kita orang-orang yang gak menyia-nyiakan kedatangan Ramadhan kali ini. Aamiin.
Mata Itu Memerangkap Senja
Bismillahirrahmanirrahim
Mungkin, kali ini akan menjadi senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja. Saya bisa melihat bias senja itu di matanya, seperti rona yang pernah saya lihat hadir di wajahnya. Saat itu. Saat saya sedang menikmati nyanyian hujan di peron stasiun ini.
Tapi, ia pergi. Tanpa nama, hanya salam selamat tinggal. Basa basi. Memangnya saya siapa? Toh saya dan dia memang sama sekali tidak pernah saling mengenal. Hanya pertemuan singkat, dan obrolan yang tidak begitu jelas itu saja yang mengirimkan suasana hangat di antara kami. Begitu kereta datang, dia pergi. Saya memperhatikan ketika dia naik ke kereta. Saya masih bisa melihatnya dari jendela kereta, ketika dia sibuk mencari tempat duduk miliknya. Dan saya hanya berani mengulum senyum, lalu mengalihkan pandangan pada rel yang basah di emplasemen sana.
Pagi di Balik Jendela
Bismillahirrahmanirrahim
Pagi ini terasa begitu berbeda. Bahkan tetesan embun yang masih diam di dedaunan pun, terasa jauh lebih menyejukkan mata saya.
Pagi ini berbeda. Kicau burung di dahan-dahan itu, serasa menyenandungkan nada lain yang mewakili hati saya.
Di balik jendela kamar, saya tersenyum. Menyandarkan kepala ke pinggir jendela, menanti matahari menampakkan diri.
Perasaan macam apakah ini? tanya saya pada diri sendiri. Jawaban yang saya cari belum juga mampu saya temukan. Berkali-kali sudah saya bertanya pada Tuhan, tentang apa yang sedang terjadi pada diri saya. Tapi tampaknya, Dia masih ingin saya belajar mencari tahu sendiri.
Hhh… Saya hela napas. Asap tipis menguar perlahan dari hembusan napas saya. Terbang perlahan, menjauh, tinggi, kemudian samar menghilang.
Di Bawah Hujan
Bismillahirrahmanirrahim
Apa yang sudah kamu lakukan pada saya? Sejak mengenal kamu, hari murung saya selalu penuh dengan tawa. Minimalnya, sekadar senyuman kecil.
Sejauh ingatan saya, kita hanya berbagi canda. Berbagi tawa. Berbagi bahagia. Kamu senang mengirimi saya kata-kata yang selalu membuat bibir saya melengkung, bahkan sakit perut menahan tawa. Kamu terlihat puas ketika berhasil membuat muka saya memerah.
Saya masih ingat, kamu berlari dari belakang, menyenggol bahu saya, lalu berbalik menghadap saya. Kamu julurkan lidah kamu. Kamu mengejek saya. Saya tersenyum, mengejar kamu yang sudah berlari seperti kuda. Ya, larimu seperti kuda. Bahkan saya tidak pernah bisa menyaingi larimu ketika saya tantang kamu balap lari bersama.
Mawar Hitam
Bismillahirrahmanirrahim
Mencintaimu seperti merasakan pagi. Semula dingin, lalu berangsur hangat ditemani cahaya fajar yang mulai mengintip. Jangan kamu tanya mengapa cinta itu bisa hadir. Saya pun tidak tahu. Dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu. Pasti akan begitu sulit.
Tahukah kamu, saya sulit melepaskan senyum manja kamu? Atau, wajah merona yang kamu hadirkan ke hadapan saya. Atau, terkadang sentuhan kamu ke pundak ataupun punggung saya saat kamu sedang gemas pada saya.
Kamu...
Bismillahirrahmanirrahim
Kereta saya masih melaju. Menuju stasiun yang selalu hujan ketika saya tiba. Entah mengapa, tahun ini hujan begitu angkuh. Turun semaunya. Tapi, saya suka. Karena saya akan melihatmu lari tergopoh-gopoh menghampiri saya yang sudah menunggu di depan loket. Kamu selalu datang terlambat. Saya tidak marah. Saya tidak pernah kecewa. Karena saya suka melihat wajahmu yang bersemu merah saat mengantar payung itu dengan berlari. Karena saya senang melihatmu menyeka air hujan yang menyentuh pelipismu.
Dan kini, di bulan Juni yang kering, masihkah saya akan mendapati hujan di stasiun itu? Rasanya mustahil. Hanya ada angin kencang yang begitu kering. Juga terik yang membakar kulit.
AC di kereta ini tak mampu menyejukkan tubuh saya. Kamu tahu sebabnya kan? Ini gara-gara kamu. Karena kamu tidak mau menjawab telepon saya. Karena kamu enggan menjawab sms saya. Karena Facebookmu pun sekarang tak pernah lagi kamu sentuh. Kemana kamu? Kenapa seakan sulit sekali ingin bertemu denganmu, meski hanya dalam maya?
Hei, tidak ingatkah kamu, ketika awal-awal kita mengikatkan sumpah? Tak ada sehari tanpa suaramu. Karena hariku hanya berisi kamu.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

