Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Awal


Bismillahirrahmanirrahim



Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Dan sekarang hampir satu jam. Layar microsoft word di depan saya masih kosong. Playlist yang berisi lagu-lagu slow yang saya putar bahkan sudah hampir habis. Tangan saya memang di atas keyboard, bahkan beberapa jarinya menyentuh beberapa tuts huruf. Entahlah. Antara otak, hati dan jari saya seperti tidak ada link yang menghubungkan mereka. Otak saya berpikir entah kemana, hati saya melamun tak tentu arah, imbasnya pada jari yang tak juga bergerak mengetikkan satu saja huruf di layar monitor.

Mungkin saya hanya bingung. Dan gugup. Saya mau menulis apa?

Be My Valentine!


            Be My Valentine…

            Suara itu kembali berdesah di telinganya. Aliran hangat nafas meraba pipinya. Gadis itu menarik nafasnya yang memburu. Susah payah ia telan ludahnya. Seluruh persendiannya terasa kaku. Jantungnya seperti dipompa melebihi kapasitas.

            Kini, sosok itu berada di depan Gita. Mata itu… Itu bukan mata yang selama ini Gita lihat. Itu bukan mata seseorang yang selama ini menyimpan kehangatan. Mata yang kini tengah berkilat memandanginya, seperti menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini, belum Gita mengerti hakikatnya.

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Laki-laki itu menyeringai.

            Brengsek! Kata itu hanya tertahan di kerongkongan Gita. Ia meronta. Tapi percuma, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa.

Rindu Milik Leo


Bismillahirrahmanirrahim



            Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.

            Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.

            Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.

            Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.

            Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
-=O=-

Transfer Via Internet Banking BNI? Nyamankah?


Bismillahirrahmanirrahim



Beberapa hari yang lalu, gw ngaktifin internet banking. Gw pake BNI. Diliat-liat sih, kayaknya enak aja gitu pake internet banking. Secara, kita tinggal duduk di depan komputer atau laptop, buka internet, log in, udah bisa transaksi macem-macem. Tapi, bener senyaman itu gak??

Alasan utama gw pake internet banking, selain bisa untuk ngecek saldo dan mutasi saldo dari rumah, atau dari mana aja, juga karena gw pengen banget manfaatin fasilitas transfer yang ada. Gw sering beli barang-barang secara online, yang otomatis pembayarannya musti via transfer kan. Jadi fasilitas transfer ini kayaknya akan berguna banget buat gw.

Sebuket Krisan di Senja Gerimis


Bismillahirrahmanirrahim
Sebuket Krisan di Senja Gerimis
Oleh: Amerul Rizki dan Eros Rosita



Maghrib masih menyisakan gerimis tipis yang menyatu bersama senja berwarna ungu di pematang rumput. Guguran daun flamboyant terserak di antara mahkota krisan yang sudah separuh gundul, berwarna kuning gading. Aku memetik bunga itu, melepaskan sisa mahkotanya hingga menyisakan permukaan bulat yang berlubang halus. Masih ada sisa benih tertancap di sana. Aku mendesah, membuang bunga itu dan meninggalkannya dalam kondisi memprihatinkan. Bau ampo berbaur dengan aroma oceanic yang tercium samar-samar. Bau itu masih sama.

The Person I'm Not Comfort WIth

Bismillahirrahmanirrahim




Bicara soal pesbuk, awal kenal sama jejaring ini juga karena ikut-ikutan trend yang dulu berkembang banget. Sekalian melepaskan friendster yang sebenernya juga sudah lama gak saya urus. Dulunya, saya gak ngerti, nih pesbuk buat apaan sih? Status tuh apaan? Kenapa katanya bisa jadi ajang kampanye segala? Beberapa bulan saya diemin aja pesbuk saya. Lama kelamaan, makin tahu juga apa fungsi pesbuk.

Puing-puing Kenangan

Bismillahirrahmanirrahim


Kabar pagi itu membuat hari saya tidak setenang biasanya. Sebuah sms dari Bapak, saat saya baru saja sampai di kantor.

Hujan Terindah dan Lelaki Teduh


Bismillahirrahmanirrahim



Woaaahhh…. Finally, selesai juga saya baca sebuah nopel, pemberian seorang Mbak nun jauh di Gading Kirana sana. Hehehe… matur suwun yo mbak…
:D

Oke, seperti biasa, saya gak bisa cuman diem aja setelah selesai baca nopel, nonton film, ato dengerin musik yang saya suka. Saya pengen berbagi. Lebih tepatnya, saya pengen cuap-cuap sendiri soal apa yang saya dapatkan. Cuap-cuap gak penting, tapi penting juga si. Tapi sebelumnya, saya ingetin dulu, judul di atas kayaknya gak mencerminkan isi tulisan ini banget deh!
:P