Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Mereka Yang Terbuang


Bismillahirrahmanirrahim



“Satu hal yang membedakan sebutan crackers dengan hackers. Tindakan crackers cenderung destruktif, merugikan, bahkan melumpuhkan sistem komputer yang dijebol, termasuk mengacaukan sistem penyimpanan data... Dan bagi para Cream Crackers, kepuasan di atas segala-galanya....”
(hal. 35)



Fiuhh... Akhirnya selesai juga baca buku ini, setelah beberapa kali harus tertunda karena waktunya terpaksa dicekal karena ada hal lain. Anggap aja lagi sok sibuk gitu. :p
Buku ini istimewa banget. Karena ngedapetinnya harus dengan berkali-kali ngirimin ‘terror’ ke penulisnya. Hahah... Selain itu, kedatangannya tepat pada hari saat umur saya tambah tua. Beneran pas banget dah. :D

Oke. Buku apaan si? Tuh, gambarnya. Sebuah buku yang covernya didominasi sama warna biru, my fav color. Dengan sepasang mata tampak ‘melayang’ di atas laut dan gambar gedung-gedung pencakar langit. Seorang laki-laki keliatan memandangi kota dengan gedung-gedung itu dari seberang lautan. Tapi ngapain juga ini saya kok jadi ngebahas cover? =.=

Jadi Yang Kedua?


Bismillahirrahmanirrahim


Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana…
Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.
Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu….

Romantis. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari untaian kata di sampul belakang buku manis ini. Bukunya emang dikemas dengan manis banget. Ya gambar covernya, warnanya, kertas sampulnya. Acungin jempol lah buat Bukune yang rasanya punya something different dalam konsep pengemasan setiap buku yang mereka terbitkan.

Pesan Bening dari Hutan Borneo


Bismillahirrahmanirrahim



Jejak itu dia namai: luka.

Saya gak tahu harus mulai darimana. Gak seperti biasanya, selesai membaca buku, tangan saya pasti gatel pengen ngetik review-nya. Tapi kali ini, saya blank. Bukan karena buku yang saya baca ini jelek, ataupun gak menarik. Melainkan lebih karena saya speechless setelah membaca buku hijau yang satu ini. Sebuah buku yang hadir dengan bahasa yang bening dan jujur.

Berapa banyak buku bertema lingkungan, ataupun buku fabel dewasa yang pernah saya baca? Baru sedikit. Dihitung dengan lima jari saja tidak lengkap. Yang paling berkesan mungkin adalah Black Beauty, biarpun sampe sekarang belum kelar juga bacanya. Hehe… Dan sekarang, sebuah buku bersampul hijau dengan gambar empat orang dan seekor orang utan telah menyita perhatian saya seharian kemarin.

Penghuni Baru (Lagi)


Bismillahirrahmanirrahim



Lagi??? Ya Allah…. >.<

Ya, ada penghuni baru lagi! Langsung 2 orang pula! Bukan, bukan yang 2 orang kemaren. Ini 2 orang lain lagi. Tapi 2 orang yang baru ini temennya 2 orang yang kemaren. Bingung ya? Sama. (_ _”)

Pulang-pulang, heran aja, kok rame amat yak? Saya pikir, mungkin itu temennya orang baru yang kemaren. Tapi pas saya lihat kamar di depan kamar mandi kok kebuka, saya mulai curiga. Dan benarlah… ketambahan 2 orang lagi.

Kosan jadi rame banget tadi. Pada ngobrol-ngobrol sendiri. Nyetel musik keras-keras. Padahal biasanya kalau saya pulang kantor, suasananya tenang, sepi, jadi saya mau istirahat atau mau ngapa-ngapain pun nyaman aja. Tapi hari ini, jadi agak gimana gitu.

Saya seneng sepi. Seenggaknya, gak terlalu rame lah. Bukan yang sepi buanget gitu. Kalau sepi buanget mah malah nyeremin. Lha ini kayaknya terlalu rame deh. Apalagi mereka udah saling kenal, akrab, satu kerjaan, wihhh… ruame dah.

Gimana ya? Bukannya saya gak mau bersosialisasi. Saya cuman gak nyaman aja kalau terlalu rame dan banyak orang. Karena saya suka kenyamanan dan ketenangan.

Mungkin, ini karena saya belom terbiasa aja kali ya. Yah, moga aja ntar bisa terbiasa dan menyingkirkan uneg-uneg yang eneg dalam hati ini.

Tapi seenggaknya, ada berita baik juga yang saya terima hari ini. Sahabat yang udah saya anggep kayak sodara sendiri, alhamdulillah, hari ini keluar pengumuman yang menyatakan bahwa dia diterima sebagai pegawai tetap di perusahaan yang selama ini mempekerjakan dia sebagai outsourching. Alhamdulillah… Malamnya, saya ditraktir ke Es Teler. Wuareg, Rek! :D


Madiun, 11 April 2012

Penghuni Baru


Bismillahirrahmanirrahim


Apa doa saya terkabul ya? Kayaknya iya deh. Saya sering berdoa, supaya kosan ini cepetan nambah penghuninya. Dan hari ini, ada 2 orang yang langsung menempati kamar di deket kamar mandi sono. Alhamdulillah yah. Sesuatu banget kan? :D

Kosan di sini cuman ada 4 kamar. Dua kamar terisi, saya dan seorang temen dari Bali. Dan 2 kamar masih kosong. Rasanya sepi banget, kalau cuman diisi 2 orang. Apalagi bisanya ngobrol cuman kalau malem aja. Yah, emang si, saya suka dengan suasana sepi dan tenang. Tapi kalau terlalu sepi tuh, berasa gimanaaa gitu. Apalagi abis nonton film horror, kayak Paranormal Activity, atau The Awakening. Huaaahhh…. Paling berasa kalau saya beneran sendirian di sini, sedangkan temen saya yang satunya lagi pulang ke kediamannya. Huhuhu… terpaksa tidur sambil lampu tetep nyala. xD

Awal


Bismillahirrahmanirrahim



Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Dan sekarang hampir satu jam. Layar microsoft word di depan saya masih kosong. Playlist yang berisi lagu-lagu slow yang saya putar bahkan sudah hampir habis. Tangan saya memang di atas keyboard, bahkan beberapa jarinya menyentuh beberapa tuts huruf. Entahlah. Antara otak, hati dan jari saya seperti tidak ada link yang menghubungkan mereka. Otak saya berpikir entah kemana, hati saya melamun tak tentu arah, imbasnya pada jari yang tak juga bergerak mengetikkan satu saja huruf di layar monitor.

Mungkin saya hanya bingung. Dan gugup. Saya mau menulis apa?

Be My Valentine!


            Be My Valentine…

            Suara itu kembali berdesah di telinganya. Aliran hangat nafas meraba pipinya. Gadis itu menarik nafasnya yang memburu. Susah payah ia telan ludahnya. Seluruh persendiannya terasa kaku. Jantungnya seperti dipompa melebihi kapasitas.

            Kini, sosok itu berada di depan Gita. Mata itu… Itu bukan mata yang selama ini Gita lihat. Itu bukan mata seseorang yang selama ini menyimpan kehangatan. Mata yang kini tengah berkilat memandanginya, seperti menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini, belum Gita mengerti hakikatnya.

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Laki-laki itu menyeringai.

            Brengsek! Kata itu hanya tertahan di kerongkongan Gita. Ia meronta. Tapi percuma, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa.

Rindu Milik Leo


Bismillahirrahmanirrahim



            Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.

            Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.

            Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.

            Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.

            Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
-=O=-