Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Tepian Tegar


Bismillahirrahmanirrahim



ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat mata. Mampu kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.

Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka, justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah yang mulia?

Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar, dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan ketakutan yang entah dari mana datang.

Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!

Sebuah Prolog


Bismillahirrahmanirrahim



Aku tidak akan bicara tentang cinta
Tapi ini tentang sebuah tanggung jawab
Bukan sebab dosa
Mungkin karena doanya
Aku memilihnya, dan tak akan melepaskannya
Bahkan jika Tuhan bersikeras merebutnya
Ah... tapi aku bisa apa?
Jika Dia sudah bertitah, semua Kata menjadi nyata

Lelaki itu diam seraya memandangi wajah tirus di hadapannya. Cantik, meski tanpa polesan make up apapun. Perlahan, lelaki itu mendekat dan duduk di samping perempuan yang tampak sangat lelap dalam mimpinya. Entahlah, lelaki itu tidak tahu pasti, apakah saat ini perempuan masih bisa bermimpi.

Melupakan Sebuah Masa


Bismillahirrahmanirrahim



Selalu ada masa yang ingin kita kubur dalam-dalam. Kita enyahkan jauh-jauh dari ingatan. Kita lupakan agar bahkan kenangan pun tak meninggalkan jejak. Jika ada yang bertanya, masa apakah yang begitu ingin dihilangkan? Jawab saya, masa enam tahun menempuh pendidikan dasar.

Entah kenapa, saya ingin melupakan masa itu. Pikiran saya seolah telah membentuk sebuah benteng memori, yang tidak bisa saya tembus satu per satu. Mungkin alam bawah sadar saya memang ‘baik’, hingga mengerti apa yang saya inginkan. Ya, begitu banyak kenangan di masa enam tahun itu yang telah terhapus sempurna. Sebagian masih membekas, menghadirkan slide-slide singkat yang sedikit buram. Tapi lagi-lagi, pikiran saya telah ‘membungkus’ memori itu, hingga yang buram tetaplah buram.

Mungkin, karena di masa itu, saya merasa sendiri. Sangat sendiri. Tidak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Saya merasa tidak berarti, justru setelah saya keluar dari masa itu dan menyadari keterasingan saya selama di sana. Saya hanyalah seorang anak cupu dan cengeng dengan tubuh kecil dan otak pas-pasan kala itu. Saya tidak suka bermain bola bersama teman-teman yang lain. Saya... entahlah. Saya sudah hampir lupa dengan sempurna, bagaimana sosok saya kala itu.

Rindu...


Bismillahirrahmanirrahim


Sudah berapa lama saya tidak menulis sebuah cerita utuh? Tepatnya, sudah berapa lama saya menulis sebuah kisah Islami seperti yang biasa saya tulis dulu?

Entah mengapa, ada kerinduan yang tiba-tiba menyergap. Saya merasa telah berkhianat pada komitmen yang dulu pernah saya pancangkan. Tulis cerita yang berhikmah dan mengandung nilai-nilai Islam. Sudah berapa lama saya melupakannya?

Kejenuhan saya pada fiksi Islami mulai muncul saat di toko buku hampir penuh oleh novel-novel maupun kumpulan cerpen ‘Islami’. Jujur, saya juga jenuh membaca novel milik seorang penulis sastra Islami ternama, yang buku-bukunya pernah difilmkan. Jenuh, karena meski cerita cukup bagus, saya sebagai pembaca merasa digurui oleh tokoh dalam cerita, ataupun oleh narasi cerita itu sendiri. Hei, saat saya membaca novel ataupun cerpen, saya menginginkan sebuah kisah yang indah dan berhikmah, bukan sebuah buku adab, akhlak, apalagi fiqh!

Berita Profil Yang Gak Valid


Bismillahirrahmanirrahim



Beberapa waktu lalu, bagian Humas menghubungi kantor saya untuk menanyakan, apakah ada pegawai yang punya hobi yang gak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Pimpinan saya langsung memanggil saya. Dia bilangnya, ada pegawainya yang hobinya nulis cerpen. Perasaan saya udah gak enak waktu itu. =,=

Dan benar saja. Ternyata wartawan dari Radar Madiun sedang mencari profil pegawai perusahaan saya yang hobinya gak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Jadilah saya ‘sasaran empuk’ buat dijadiin berita.

Setelah itu, si wartawan langsung ngirimin saya pesan. Tanya, bener gak hobi saya nulis? Ya jawab aja iya. Tapi juga saya jelasin, kalau sekarang mah saya lebih sering nulisnya di blog, gak di media manapun, dan bukan dalam bentuk cerpen.  Akhirnya, dia bikin janji wawancara, dan mewanti-wanti saya untuk bawa buku-buku saya yang pernah diterbitkan dan juga karya yang pernah dimuat di media.

Sehari, dua hari, si wartawan gak dateng. Padahal saya udah bela-belain bawa beberapa buku. Bikin jok motor saya penuh aja! Beberapa hari, si wartawan pun gak menghubungi saya. Saya udah ngerasa lega. Kali aja gak jadi.

Tapi ternyata, kemaren tiba-tiba si wartawan nelepon, bilang kalau mau ke kantor. Eh? Serius loh?? Saya lagi gak bawa bukunyaaaa, kata saya. Tapi wartawan itu bilang gak apa. Singkat cerita, kita ketemu di kantor, dia nanya-nanya, saya jawab, selesai. Setelah saya selesai shalat Jumat, giliran fotografernya yang datang buat foto-foto saya sambil disuruh pose-pose gak jelas dan gak banget. =,=


Nah, di hari pertama puasa ini, saya dapet surprise banget. Seorang supervisor saya tiba-tiba ke ruangan saya sambil nyeletuk, “Udah liat Jawa Pos hari ini?” Tuing tuing... langsung aja supervisor yang lain pada heboh sendiri. Saya gak ngira kalau bakalan dimuat hari ini. Alamaak... O.o

Forgive Me, So Thank You Allah


Bismillahirrahmanirrahim


Maher Zain. Siapa sih yang gak kenal sama munsyid yang satu ini? Sejak album debutnya, Thank You Allah, pada 2009 lalu, namanya makin meroket aja kayaknya. Saya juga pernah sedikit membahas soal Maher Zain pada bulan Ramadhan tahun kemarin.

Yah, emang sih, saya udah punya hampir semua lagu di album debutnya itu. Darimana lagi kalau bukan download gratisan? :p

Nah, berhubung 2012 ini dia ngerilis ulang albumnya itu dalam Platinum Edition, gak ada salahnya beli kan? Lagian, saya emang udah lama banget pengen beli album dia itu. Alhamdulillah, kesampaian juga. Plus, sekalian albumnya yang baru, Forgive Me. :D

Mereka Yang Terbuang


Bismillahirrahmanirrahim



“Satu hal yang membedakan sebutan crackers dengan hackers. Tindakan crackers cenderung destruktif, merugikan, bahkan melumpuhkan sistem komputer yang dijebol, termasuk mengacaukan sistem penyimpanan data... Dan bagi para Cream Crackers, kepuasan di atas segala-galanya....”
(hal. 35)



Fiuhh... Akhirnya selesai juga baca buku ini, setelah beberapa kali harus tertunda karena waktunya terpaksa dicekal karena ada hal lain. Anggap aja lagi sok sibuk gitu. :p
Buku ini istimewa banget. Karena ngedapetinnya harus dengan berkali-kali ngirimin ‘terror’ ke penulisnya. Hahah... Selain itu, kedatangannya tepat pada hari saat umur saya tambah tua. Beneran pas banget dah. :D

Oke. Buku apaan si? Tuh, gambarnya. Sebuah buku yang covernya didominasi sama warna biru, my fav color. Dengan sepasang mata tampak ‘melayang’ di atas laut dan gambar gedung-gedung pencakar langit. Seorang laki-laki keliatan memandangi kota dengan gedung-gedung itu dari seberang lautan. Tapi ngapain juga ini saya kok jadi ngebahas cover? =.=

Jadi Yang Kedua?


Bismillahirrahmanirrahim


Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana…
Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.
Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu….

Romantis. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari untaian kata di sampul belakang buku manis ini. Bukunya emang dikemas dengan manis banget. Ya gambar covernya, warnanya, kertas sampulnya. Acungin jempol lah buat Bukune yang rasanya punya something different dalam konsep pengemasan setiap buku yang mereka terbitkan.