Bismillahirrahmanirrahim
ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah
mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat
mata. Mampu
kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.
Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus
oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka,
justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh
mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah
yang mulia?
Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh
puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar,
dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah
memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih
karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan
ketakutan yang entah dari mana datang.
Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka
goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi
yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!



