Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

As My Wish

Alhamdulillah, hari pertama berlangsungnya pelajaran sudah terlalui dengan baik. Kebetulan dua pelajaran ini cukup saya ketahui dan kuasai. Jadi gak kesulitan. Tapi mungkin juga, dua pelajaran itu adalah the only lesson yang bisa saya mengerti dengan baik selama pendidikan ini. -,-

Alhamdulillah juga, badan terasa sehat. Makan saya hari ini selalu abis, soalnya saya ambil nasinya dikit banget sih. :D

Oh iya, menurut jadwal, saya bakal selesai tanggal 25 Oktober nanti. Masih lama banget. Tapi moga aja saya bisa menjalani ini semua dengan baik dan hati gembira tanpa beban. Aamiin. XD

Dan bener-bener as my wish banget deh. Soalnya para siswa 'hanya' dituntut untuk menguasai dengan detail dan sebaik-baiknya pekerjaan sehari-hari mereka. Jadi, gak ada beban lah buat saya. Alhamdulillah. xD

Yogya, 060912

Not Too Bad

Bismillahirrahmanirrahim


Yeah... not too bad lah. Seenggaknya itu yang saya rasakan pada sistem di tempat pelatihan sekarang ini. Soalnya, dulu itu, beberapa bulan yang lalu, katanya sistem di sini ketat banget. Yang hape harus dikumpulkan selama seminggu lah, yang selesai makan malam harus balik lagi ke kelas sampe jam 9 lah, yang kebanyakan kena hukuman berendam di kolam lah, dan sebagainya. Nyatanya?

Alhamdulillah. Saya harus bener-bener bersyukur, karena Allah mengabulkan doa saya. Hehe... Dulu, saya minta sama Allah agar tidak memberangkatkan saya untuk diklat selama sistem masih seperti itu. Tentu saja saya juga minta supaya diberangkatkan saat pucuk pimpinan tempat pelatihan sudah ganti, pun dengan sistem yang dilonggarkan. Dan... see... He never sleep! He always listen to our pray, bahkan untuk hal 'remeh-temeh' sekalipun! Thank You, Allah... :')

Sekarang, siswa sudah boleh bawa hape, biarpun cuman selama di asrama. Kalau ke lingkungan kampus, baru gak boleh bawa hape. Sekarang siswa juga gak harus back to classroom after dinner. Siswa boleh belajar di kamar masing-masing selama nunggu jadwal apel malam jam 21.00. Fiuhhh... alhamdulillah banget! ^_^

Yang saya gak suka cuman 1 di sini. Makanannya! Gile! Nasinya keras banget. Mana maag saya lagi rewel pula. Alhasil, sejak kemaren, saya gak pernah abis kalau makan. Gimana mau abis, kalau baru nyampe mulut aja udah berasa pengen muntah? Apalagi tadi siang, ada sambel udangnya. Wiihh... nyium baunya aja udah mau muntah. T.T

Tapi karena belum begitu parah, yang sampe badan sakit semua misalnya, saya belum mau lapor. Insya Allah masih bisa saya atasin dah. Moga-moga aja cepet sembuh. Tapi kalau tambah gak enak, baru deh saya bakal lapor.

Oh iya, satu lagi yang bikin saya pengen jedukin kepala ke tembok saking betenya: saya kangen laptooopp!!! >_<

Beneran deh, tanpa laptop diriku hampa. Besok kalau pulang, kembali ke sini harus bawa laptop nih. xD

Yogya, 050912

I Hate This F***i** Nervous

Bismillahirrahmanirrahim


Lempuyangan. Saya kembali menginjakkan kaki di sini. Tepat saat senja mulai memudar. Bukan untuk rekreasi, atau sekadar travelling. Saya kembali ke sini untuk satu tujuan 'mulia', menunaikan kewajiban bagi seluruh pegawai perusahaan saya: DIKLAT.

Saya gak pernah pengen menjalani satu hal ini. Tapi apa mau dikata. Kewajiban tetap kewajiban. Biarpun saya berkelit dan bisa menghindar untuk saat ini, someday -entah kapan- tetap saja saya akan mendapat panggilan lagi, dan mungkin saat itu saya gak bakal bisa lagi mengelak.

Yah, apa boleh buat. Lebih cepat lebih baik. Itu pikir saya. Mending saya diklat dari sekarang, biar ntar bisa sedikit berleyeh-leyeh ria. Daripada diklat nanti-nanti yang belum pasti waktunya, dan perasaan masih 'dihantui' oleh jadwal yang belum pasti itu, bikin gak tenang.

So here I am. Di asrama, dengan 4 orang dari Sumatera dan 1 orang dari Yogya. Kalau sekarang sih, saat saya menulis ini, saya sendirian di kamar. Penghuni yang lain sedang keluar, mumpung masih boleh. Selain itu... hmmm... kenapa tiap saya menginjakkan kaki di asrama ini untuk memulai sebuah diklat, saya langsung sakit?

Tahun 2009 lalu, untuk mengikuti diklat dasar, begitu nyampe sini, saya masuk angin beberapa hari. Sekarang, untuk mengikuti diklat fungsional, kayaknya maag saya kambuh. Perut mual, nafsu makan ilang, pengen muntah kalau lihat makanan, plus kepala pening.

Selain itu, satu hal yang saya benci banget dari diri saya. Saya selalu nervous tiap ketemu dengan teman baru, lingkungan baru, pokoknya suasana yang serba baru. Saya selalu nervous gak jelas tiap 'dipaksa' untuk keluar dari comfy zone saya.

Saya gak pernah bisa santai tiap menghadapi hal baru. Nervous mungkin wajar, kalau memang porsinya 'sewajarnya'. Sedangkan nervous saya ini keterlaluan kayaknya. Mana ditambah dengan kondisi fisik yang lagi lemah pula. Makin gak karuan nih mood saya.

Saya ngrasa pengen pingsan aja, dan pulang lagi kalau nyadar semua yang saya hadapi ini adalah suasana baru. Haha... lebay ya? Gak tahu lah. Itu yang selalu saya rasakan. Pengecut ya?

Tapi, ini adalah sesuatu yang memang harus saya hadapi. Mau gak mau. Saya percaya, ini proses pendewasaan saya. Sehingga saya harus tetap bertahan di sini, mengesampingkan semua hal yang saya anggap mengganggu pikiran saya. Yang pasti, hanya 1 harapan saya saat ini. Semoga waktu berputar cepat, biar masa 2 bulan ini lekas terlewati, dan saya bisa keluar dari sini dengan perasaan bebas. Hehe... :D

Yogya, 040912

Sepotong Catatan Pertemuan Kembali


Bismillahirrahmanirrahim




Berapa lama? Sepuluh. Sebelas tahun mungkin. Tak ada komunikasi antara kita. Tak ada sapa. Tak ada tatap muka. Jalinan enam tahun sebelumnya terasa pupus begitu saja.

Lalu tiba-tiba, setelah sebelas tahun berlalu, kita bertemu. Lagi. Di saat yang begitu tidak bersahabat bagiku. Saat menjelang senja.

Entahlah. Hanya aku yang merasa, ataukah memang seperti itu adanya. Kehangatan yang kalian ciptakan untukku, terasa semu dan tak bermakna. Senyum sapa kalian, tak lebih dari sekadar basa basi. Tak ada lagi keakraban yang tersisa untukku. Ataukah, memang aku sendiri yang menghindari semua itu? Mungkin.

Hanya sedikit kata yang keluar dari bibirku, selama kurang lebih sembilan puluh menit kita bersama. Sebab aku telah meringkuk di ruang sepi yang kuciptakan sendiri, di antara celoteh riang kalian. Sebab aku telah membentuk bentengku sendiri, mengucilkan diri dengan hanya membalas senyum dan sedikit kata-kata.

Izmi & Lila, It's About Survival


Bismillahirrahmanirrahim



Bak gemerlap bintang di langit
Meski jauh dan tinggi berada
Namun tak pernah bosan menghiasi langit
Serta mewarnai malam
Itulah persahabatan sejati

Izmi & Lila, Beanth a Million of Stars. Tentang Izmi, seorang student pass holder di negeri berlambang singa. Oh, juga Lila, seorang student pass holder juga, di negeri yang sama pula. So? Cerita berawal tentang siapa mereka berdua masing-masing, tanpa ada keterkaitan satu dengan yang lain. Yang pasti, masalah mereka rada-rada mirip, sama-sama foreigner, sama-sama butuh uang untuk menyambung hidup, tapi menyikapi dengan cara yang berbeda.

Izmi yang tinggal di flat milik Nyonya Jen, harus rela membantu Nyonya Jen di dapur untuk menjalankan bisnis sarapan paginya. Tapi dari sanalah ia mendapat tambahan dollar untuk sekadar mengisi dompet, sekaligus bertahan hidup di tengah meroketnya kurs dollar Singapura. Sedangkan Lila, sedang berusaha memahami gambling di bursa saham yang otaknya belum sepenuhnya bersedia untuk konek dengan bidang itu.

Pria Irish


Bismillahirrahmanirrahim



Wajahnya keras. Seperti biasa. Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan, sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah. Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali, dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang namanya kuat?

Selendang cokelatnya menutup bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya. Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada penampilan glamournya di atas panggung. Setidaknya, itu menurutnya. Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya memeluk lutut.

Sebuah kamera kembali ia bidikkan ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.

Gamang


Bismillahirrahmanirrahim



Langkahnya tegas. Ada dia di rumah Rhea, pikirnya. Namun lama kelamaan, langkah itu kian mengendur. Ia gamang. Siapkah ia bertemu dengan Nash? Orang yang ia cintai, sekaligus ia benci?

Dulu, baginya Nash adalah segalanya. Pria itu hadir tepat pada saat ia tengah menikmati luka akibat perceraiannya. Hadir begitu saja, tanpa sebuah kebetulan ataupun pertemuan-pertemuan tak sengaja seperti yang sering terlihat di film drama ataupun sebuah novel. Hadir begitu saja, bahkan Aleya sendiri tak tahu bagaimana bisa-bisanya Nash memenuhi pikirannya sepanjang hari, membuatnya ingin bertemu untuk sekadar melihat wajahnya. Atau mendengar sebentar saja suara serak dan beratnya.

Cinta pertama. Mungkin terlalu berkesan bagi Aleya untuk dilupakan begitu saja. Ya, Nash adalah cinta pertamanya. Bukan karena sejak kecil mereka berteman akrab, lalu muncul benih-benih cinta. Tidak. Bukan pula karena mereka berasal dari sekolah yang sama, lalu Aleya diam-diam memendam cinta. Bukan. Nash memang teman lamanya. Tapi ia sama sekali tidak akrab dengan Nash. Tidak sampai perceraian itu terjadi.

Tentang Tiga Manusia


Bismillahirrahmanirrahim



Tentang tiga manusia yang jatuh cinta, cemburu, patah hati, tertawa, sakit dan kehilangan.
Tentang tiga manusia yang mengharapkan hal paling utopis: selalu bersama tanpa ada yang terluka.
Ini tentang dilema; tiga cerita untuk satu rasa.

Alhamdulillah, buku ini nyampe hari Sabtu kemarin, dan langsung saya lahap habis selama hari Lebaran ini. Hehehe... gak ada kerjaan sih. :p

Seperti yang ditulis di sinopsis back cover-nya, buku ini bercerita tentang tiga manusia. Estrella, Kira dan Adri. Tiga remaja yang ‘dipertemukan’ dalama sebuah kerja kelompok. Yang awalnya saling canggung, namun setelah melalui suatu hal, mereka justru seperti tak terpisahkan.

Namun satu hal yang perlu diingat. Kira menyukai Adri. Singkat cerita, mereka jadian. Tetapi Adri gak ingin hal tersebut merusak persahabatan mereka. Jadilah, dalam setiap kencan Adri dan Kira, Estrella selalu ‘dipaksa’ untuk ikut. Yah, bisa ditebak. Hal itu yang akhirnya memicu konflik demi konflik di novel ini.