Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Bapak Itu...


Bismillahirrahmanirrahim



Pertama kali melihat beliau berada satu kamar dengan saya, perasaan biasa saja. Saya pikir, beliau sama lah ya dengan orang-orang lain yang seumuran dengan beliau di tempat kerja saya. Lagipula, saat itu, beliau belum terlihat terlalu tua. Kumisnya tercukur bersih, rambut di kepalanya pun hampir bersih. Saya ingat hal pertama yang saya dengar dari beliau,

“Seumur-umur baru kali ini dicukur gundul.”

Dropped Moment


Bismillahirrahmanirrahim



Waktu pelatihan tinggal 3 minggu lagi. Dua minggu ke depan adalah praktek lapangan, dengan rincian 1 minggu untuk praktek di Balai Yasa, dan 1 minggu untu praktek di Dipo. Yeah, tentu saya senang dengan segera berakhirnya pelatihan yang sangat menguras tenaga dan pikiran ini. Sebelum-sebelumnya, saya semangat dan seneng banget, karena pelajaran-pelajaran teori akan berakhir minggu ini. Setelah itu, tinggal praktek dan menunggu untuk ujian lisan. Tapi...

Pagi ini, semangat saya yang sudah saya susun secara susah payah, langsung menguap begitu saja saat sang Manager Training masuk ke kelas dan mengumumkan beberapa pemberitahuan. Yang pertama, praktek ditunda hingga hari Selasa, karena hari Senin ada arahan atau ceramah dari Dirsar. Yang kedua, adalah yang paling bikin mood saya turun drastis, nilai praktek nanti akan ditentukan oleh seorang pejabat paling killer dari Balai Yasa. Untuk bisa lulus, para siswa harus hafal mati tentang apa yang tertulis dalam lembaran checksheet harian pemeliharaan. God, he’s joking, right? Pikir saya pagi tadi.

Kenapa mood saya bisa langsung turun drastis? Pertama, karena saya gak di bagian itu, dan saya gak pernah melakukan pekerjaan itu. Saya di gudang, administrasi, gimana saya bisa disuruh untuk menghafalkan pekerjaan yang gak pernah saya lakukan? Kedua, mengingat yang akan menguji nanti adalah pejabat yang killer banget, yang pastinya siswa gak akan dibiarkan hanya menghafal checksheet itu, tapi pertanyaan pasti akan melebar kemana-mana, mengenai gangguan lah, kerusakan lah. Gimana saya bisa tahu gangguan ataupun kerusakan kalau megang kerjaan itu saja saya gak pernah?

Kemudian, sekali lagi manager itu menegaskan tentang satu hal, bahwa syarat kelulusan ada 3; nilai terori minimal 75, nilai praktek minimal 80, dan nilai kedisiplinan minimal 90. Okelah, untuk teori –alhamdulillah- sampai sekarang saya belum pernah sampai ikut remidi. Kalaupun nanti saya terjatuh dan harus remidi, insya Allah saya bisa mengerjakan itu dan mendapatkan nilai minimal. Untuk kedisiplinan, saya gak pernah neko-neko, selalu patuh peraturan dan jalur yang sudah ditetapkan. Sedangkan untuk praktek?

Gini ya, siswa cuman dikasih waktu praktek 5 hari di Dipo. Bagi mereka yang sudah biasa kerja dengan hal-hal itu, tentu saja mereka tinggal mendalami aja. Tapi bagi yang kesehariannya gak pernah melakukan hal-hal itu, praktek nanti akan menjadi sesuatu yang baru, bahkan mungkin sama sekali baru. Dan dengan waktu 5 hari itu, siswa dituntut untuk mengerti dan menghafal pekerjaan tersebut. Tekanan banget gak sih?

Minggu-minggu terakhir ini adalah minggu stress yang penuh tekanan, demi menghadapi ujian lisan, dan mendapatkan sertifikat bertuliskan huruf kapital “LULUS”. Dan nantinya, harus mengikuti lagi uji kompetensi yang akan dilakukan oleh pemerintah. Bagi yang gagal, diberi kesempatan untuk mengulang. Jika gagal lagi, konsekwensinya adalah resign.

Tapi, dengan begini, saya berpikir, mungkin Allah ingin mengatakan pada saya, bahwa inilah saatnya bagi saya untuk keluar dari cangkang comfy zone yang selama ini saya tinggali. Mungkin ini saatnya saya untuk menggali potensi yang sebenarnya ada dalam diri saya. Mungkin ini saatnya saya untuk... yah, mengerjakan banyak hal, bukan hal yang itu-itu saja.

Saya akan berusaha semampu yang saya bisa, semaksimal mungkin. Untuk mengejar kelulusan itu, tentu saja. Tapi, kalau nanti Allah berkehendak lain, saya percaya kok sama Dia, bahwa Dia gak akan membiarkan saya sendirian. Saya percaya kok, bahwa jalan rizki sudah Dia atur. Dia tahu yang terbaik buat saya. Saya cuman ikut maunya Allah aja.

Tawakkal adalah kunci bagi saya. Usaha maksimal, doa, lalu pasrah pada Yang Mengatur Hidup. Para pejabat killer dan jajaran direksi? Who are they? :)


Yogya, 041012

As My Wish

Alhamdulillah, hari pertama berlangsungnya pelajaran sudah terlalui dengan baik. Kebetulan dua pelajaran ini cukup saya ketahui dan kuasai. Jadi gak kesulitan. Tapi mungkin juga, dua pelajaran itu adalah the only lesson yang bisa saya mengerti dengan baik selama pendidikan ini. -,-

Alhamdulillah juga, badan terasa sehat. Makan saya hari ini selalu abis, soalnya saya ambil nasinya dikit banget sih. :D

Oh iya, menurut jadwal, saya bakal selesai tanggal 25 Oktober nanti. Masih lama banget. Tapi moga aja saya bisa menjalani ini semua dengan baik dan hati gembira tanpa beban. Aamiin. XD

Dan bener-bener as my wish banget deh. Soalnya para siswa 'hanya' dituntut untuk menguasai dengan detail dan sebaik-baiknya pekerjaan sehari-hari mereka. Jadi, gak ada beban lah buat saya. Alhamdulillah. xD

Yogya, 060912

Not Too Bad

Bismillahirrahmanirrahim


Yeah... not too bad lah. Seenggaknya itu yang saya rasakan pada sistem di tempat pelatihan sekarang ini. Soalnya, dulu itu, beberapa bulan yang lalu, katanya sistem di sini ketat banget. Yang hape harus dikumpulkan selama seminggu lah, yang selesai makan malam harus balik lagi ke kelas sampe jam 9 lah, yang kebanyakan kena hukuman berendam di kolam lah, dan sebagainya. Nyatanya?

Alhamdulillah. Saya harus bener-bener bersyukur, karena Allah mengabulkan doa saya. Hehe... Dulu, saya minta sama Allah agar tidak memberangkatkan saya untuk diklat selama sistem masih seperti itu. Tentu saja saya juga minta supaya diberangkatkan saat pucuk pimpinan tempat pelatihan sudah ganti, pun dengan sistem yang dilonggarkan. Dan... see... He never sleep! He always listen to our pray, bahkan untuk hal 'remeh-temeh' sekalipun! Thank You, Allah... :')

Sekarang, siswa sudah boleh bawa hape, biarpun cuman selama di asrama. Kalau ke lingkungan kampus, baru gak boleh bawa hape. Sekarang siswa juga gak harus back to classroom after dinner. Siswa boleh belajar di kamar masing-masing selama nunggu jadwal apel malam jam 21.00. Fiuhhh... alhamdulillah banget! ^_^

Yang saya gak suka cuman 1 di sini. Makanannya! Gile! Nasinya keras banget. Mana maag saya lagi rewel pula. Alhasil, sejak kemaren, saya gak pernah abis kalau makan. Gimana mau abis, kalau baru nyampe mulut aja udah berasa pengen muntah? Apalagi tadi siang, ada sambel udangnya. Wiihh... nyium baunya aja udah mau muntah. T.T

Tapi karena belum begitu parah, yang sampe badan sakit semua misalnya, saya belum mau lapor. Insya Allah masih bisa saya atasin dah. Moga-moga aja cepet sembuh. Tapi kalau tambah gak enak, baru deh saya bakal lapor.

Oh iya, satu lagi yang bikin saya pengen jedukin kepala ke tembok saking betenya: saya kangen laptooopp!!! >_<

Beneran deh, tanpa laptop diriku hampa. Besok kalau pulang, kembali ke sini harus bawa laptop nih. xD

Yogya, 050912

I Hate This F***i** Nervous

Bismillahirrahmanirrahim


Lempuyangan. Saya kembali menginjakkan kaki di sini. Tepat saat senja mulai memudar. Bukan untuk rekreasi, atau sekadar travelling. Saya kembali ke sini untuk satu tujuan 'mulia', menunaikan kewajiban bagi seluruh pegawai perusahaan saya: DIKLAT.

Saya gak pernah pengen menjalani satu hal ini. Tapi apa mau dikata. Kewajiban tetap kewajiban. Biarpun saya berkelit dan bisa menghindar untuk saat ini, someday -entah kapan- tetap saja saya akan mendapat panggilan lagi, dan mungkin saat itu saya gak bakal bisa lagi mengelak.

Yah, apa boleh buat. Lebih cepat lebih baik. Itu pikir saya. Mending saya diklat dari sekarang, biar ntar bisa sedikit berleyeh-leyeh ria. Daripada diklat nanti-nanti yang belum pasti waktunya, dan perasaan masih 'dihantui' oleh jadwal yang belum pasti itu, bikin gak tenang.

So here I am. Di asrama, dengan 4 orang dari Sumatera dan 1 orang dari Yogya. Kalau sekarang sih, saat saya menulis ini, saya sendirian di kamar. Penghuni yang lain sedang keluar, mumpung masih boleh. Selain itu... hmmm... kenapa tiap saya menginjakkan kaki di asrama ini untuk memulai sebuah diklat, saya langsung sakit?

Tahun 2009 lalu, untuk mengikuti diklat dasar, begitu nyampe sini, saya masuk angin beberapa hari. Sekarang, untuk mengikuti diklat fungsional, kayaknya maag saya kambuh. Perut mual, nafsu makan ilang, pengen muntah kalau lihat makanan, plus kepala pening.

Selain itu, satu hal yang saya benci banget dari diri saya. Saya selalu nervous tiap ketemu dengan teman baru, lingkungan baru, pokoknya suasana yang serba baru. Saya selalu nervous gak jelas tiap 'dipaksa' untuk keluar dari comfy zone saya.

Saya gak pernah bisa santai tiap menghadapi hal baru. Nervous mungkin wajar, kalau memang porsinya 'sewajarnya'. Sedangkan nervous saya ini keterlaluan kayaknya. Mana ditambah dengan kondisi fisik yang lagi lemah pula. Makin gak karuan nih mood saya.

Saya ngrasa pengen pingsan aja, dan pulang lagi kalau nyadar semua yang saya hadapi ini adalah suasana baru. Haha... lebay ya? Gak tahu lah. Itu yang selalu saya rasakan. Pengecut ya?

Tapi, ini adalah sesuatu yang memang harus saya hadapi. Mau gak mau. Saya percaya, ini proses pendewasaan saya. Sehingga saya harus tetap bertahan di sini, mengesampingkan semua hal yang saya anggap mengganggu pikiran saya. Yang pasti, hanya 1 harapan saya saat ini. Semoga waktu berputar cepat, biar masa 2 bulan ini lekas terlewati, dan saya bisa keluar dari sini dengan perasaan bebas. Hehe... :D

Yogya, 040912

Sepotong Catatan Pertemuan Kembali


Bismillahirrahmanirrahim




Berapa lama? Sepuluh. Sebelas tahun mungkin. Tak ada komunikasi antara kita. Tak ada sapa. Tak ada tatap muka. Jalinan enam tahun sebelumnya terasa pupus begitu saja.

Lalu tiba-tiba, setelah sebelas tahun berlalu, kita bertemu. Lagi. Di saat yang begitu tidak bersahabat bagiku. Saat menjelang senja.

Entahlah. Hanya aku yang merasa, ataukah memang seperti itu adanya. Kehangatan yang kalian ciptakan untukku, terasa semu dan tak bermakna. Senyum sapa kalian, tak lebih dari sekadar basa basi. Tak ada lagi keakraban yang tersisa untukku. Ataukah, memang aku sendiri yang menghindari semua itu? Mungkin.

Hanya sedikit kata yang keluar dari bibirku, selama kurang lebih sembilan puluh menit kita bersama. Sebab aku telah meringkuk di ruang sepi yang kuciptakan sendiri, di antara celoteh riang kalian. Sebab aku telah membentuk bentengku sendiri, mengucilkan diri dengan hanya membalas senyum dan sedikit kata-kata.

Izmi & Lila, It's About Survival


Bismillahirrahmanirrahim



Bak gemerlap bintang di langit
Meski jauh dan tinggi berada
Namun tak pernah bosan menghiasi langit
Serta mewarnai malam
Itulah persahabatan sejati

Izmi & Lila, Beanth a Million of Stars. Tentang Izmi, seorang student pass holder di negeri berlambang singa. Oh, juga Lila, seorang student pass holder juga, di negeri yang sama pula. So? Cerita berawal tentang siapa mereka berdua masing-masing, tanpa ada keterkaitan satu dengan yang lain. Yang pasti, masalah mereka rada-rada mirip, sama-sama foreigner, sama-sama butuh uang untuk menyambung hidup, tapi menyikapi dengan cara yang berbeda.

Izmi yang tinggal di flat milik Nyonya Jen, harus rela membantu Nyonya Jen di dapur untuk menjalankan bisnis sarapan paginya. Tapi dari sanalah ia mendapat tambahan dollar untuk sekadar mengisi dompet, sekaligus bertahan hidup di tengah meroketnya kurs dollar Singapura. Sedangkan Lila, sedang berusaha memahami gambling di bursa saham yang otaknya belum sepenuhnya bersedia untuk konek dengan bidang itu.

Pria Irish


Bismillahirrahmanirrahim



Wajahnya keras. Seperti biasa. Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan, sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah. Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali, dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang namanya kuat?

Selendang cokelatnya menutup bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya. Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada penampilan glamournya di atas panggung. Setidaknya, itu menurutnya. Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya memeluk lutut.

Sebuah kamera kembali ia bidikkan ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.