Bismillahirrahmanirrahim
Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.
Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.
Dalam Islam, pemakaian akal itu
gak dilarang. Justru akallah yang membedakan kita dengan makhluk selain
manusia. Tapi pemakaiannya harus pada tempatnya. Mafhum dipahami, bahwa akal
harus tunduk pada dalil. ‘Ali ibn Abi Thalib saja pernah bilang, yang intinya,
jika akal adalah sumber utama, maka seharusnya yang dibasuh ketika wudhu adalah
bagian bawah sepatu, bukan bagian atasnya (karena Rasulullah
memerintahkan bagi yang memakai sepatu, bisa berwudhu tanpa harus melepas
sepatu, dengan membasuh bagian atasnya).
Sayangnya, sebagian saudara kita,
ada yang ‘tergesa-gesa’ dalam berpendapat. Mereka banyak baca. Dari berbagai
sumber tentunya. Mereka merasa paham dan mengerti, padahal sejatinya mereka
sedang berada dalam sebuah kebingungan akut. Akhirnya, kesalahan terfatalnya,
adalah mereka berani bicara, bahkan melakukan judgement pada beberapa hukum
dalam Islam, atau pada beberapa kelompok dalam Islam, hanya dengan berdasar apa
yang dibaca dan apa yang dipahami oleh akal sempitnya.
Ambil contoh, ada yang
mengatakan, “Islam itu moderat. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.”
Ini betul. Karena Islam memang merupakan agama pertengahan. Islam tidak terlalu
keras seperti Yahudi, ataupun terlalu lunak seperti Nashrani. Islam itu
tengah-tengah.
Yang jadi permasalahan, ketika
membahas sebuah masalah, ‘dalil’ itu juga dipakai untuk ‘menyerang’ kelompok
yang tidak sepemahaman dengan jalan pikir mereka. Kita ambil contoh, tentang
penolakan Miss World misalnya.
Orang-orang dengan modal akal, seringkali saya dengar mencaci ormas-ormas Islam
yang menolak penyelenggaraan Miss World. Mereka menyebut ormas-ormas itu adalah
Islam yang kolot, konservatif dan primitif, yang tidak mengikuti perkembangan
zaman dan tidak bisa bertoleransi. Hmm... padahal nih ya, orang-orang dalam
ormas-ormas tersebut adalah mereka yang sudah dibekali dengan ilmu yang mereka
dapatkan dari ulama-ulamanya, baik secara langsung ataupun melalui
guru-gurunya. Sedang mereka yang mengatai kolot konservatif itu, menjejakkan
kaki di majelis ilmu saja gak pernah. Gimana bisa mereka ‘menilai’ sebuah
kelompok, kalau tolok ukur penilaiannya hanya berdasar akal yang tiap orang gak
sama?
Contoh lain, tentang jilbab. Ada
yang berpendapat, bahwa pemakaian jilbab itu wajib, tetapi harus diiringi
dengan kesiapan dan kemantapan hati. Mereka dengan pedenya membawakan dalil
dari Al Quran tentang perintah untuk mengenakan jilbab. Mereka meyakini
kewajibannya. Tapi untuk memakainya, mereka butuh kemantapan hati. Mungkin,
istilah kerennya, pengen ‘menjilbabi hati’ dulu kali ya? -_-
Oke, pantesan aja, orang banyak
yang gak shalat. Mungkin, dasar mereka sama. Shalat itu wajib, tapi
pelaksanaannya menunggu kemantapan hati mereka untuk melaksanakannya. Jadi,
kalau gak mantap-mantap, gak ‘terpanggil’ juga, mereka gak akan shalat. Sama kan
logikanya? Ntar nyesel lho, kalau hatinya belum ‘terpanggil’ juga, tapi
sayangnya nyawanya udah dipanggil duluan. :3
Tentang jilbab lagi, yang
berdasar pada akal manusia yang sempit. Dulu saya pernah mendengar, ada yang
mengatakan, “Temen-temen gue banyak yang berjilbab, tapi akhlaknya kayak gitu.
Pacaran, suka ngebogongin temen, suka marah-marah.” Oke, jadi ini
masalah lingkungan, yang kemudian digeneralisir oleh akal, bahwa kebanyakan
perempuan ‘berjilbab’ zaman sekarang adalah seperti apa yang ada di pikiran
mereka.
Kalau mau sama-sama pakai akal,
coba deh mereka ini cari pergaulan dengan teman-teman baru yang bener-bener
shalih. Coba ikut ngaji deh. Saya jamin, pemikiran dangkal seperti itu bakalan
berubah. Karena yang akan mereka lihat adalah perempuan-perempuan tangguh yang
konsisten dengan jilbabnya, menjaga harga dirinya.
Orang yang gak berjilbab, belum tentu akhlaknya buruk. Orang yang
berjilbab, belum tentu juga akhlaknya baik. Tapi setidaknya, dengan mereka
berjilbab, mereka akan berusaha menjadi baik, memperbaiki akhlak dan
keimanannya.
Logikanya begini. Ada seorang
pasien yang divonis menderita sebuah penyakit. Dokter mewajibkan dia
mengkonsumsi sebuah obat, yang dia gak suka banget. Tapi demi kesembuhannya
dari penyakit, akhirnya, biarpun sebenernya hatinya menolak, tetep dia
laksanakan juga. Awalnya mungkin dia masih ogah-ogahan. Tapi lama kelamaan,
setelah dia bener-bener merasakan manfaat dari obat yang dikasih dokter tadi,
dia jadi nyaman-nyaman aja, karena nyatanya penyakitnya berangsur sembuh.
Setelah sembuh, dia masih harus mengkonsumsi vitamin atau apalah gitu, supaya
penyakitnya itu gak kembali. Dan dia laksanakan itu, karena itu sebuah
kewajiban demi dirinya sendiri.
Sama halnya dengan jilbab. Jilbab
bisa saja mengobati penyakit hati lho. Katakanlah, saat ini hatinya masih gak
siap dengan jilbab. Tapi karena wajib, ya ‘terpaksa’ dia kerjakan juga.
Lama-kelamaan, dia belajar, gimana sih pakai jilbab yang bener? Gimana sih
seharusnya sikap seseorang yang berjilbab? Mungkin aja pembelajarannya ini juga
masih dalam keadaan ‘terpaksa’, karena hatinya yang belum mantap tadi. Tapi
lama-lama, saat dia udah mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya,
penyakit-penyakit hatinya jadi semakin lama semakin sembuh, dia akan dengan
senang hati memakai jilbab, dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Demi
dirinya sendiri juga kan? :)
Ada lagi yang bilang, bahwa Islam
adalah agama yang fleksibel. Wew... fleksibel? Jadi kalau orang ke kiri, kita
juga ke kiri. Orang ke kanan, kita juga ke kanan. Orang nyebur sumur, kita juga
nyebur sumur? Kan fleksibel. -_-
Mungkin maksudnya dalam hal
toleransi ya? Hmmm... toleransi pun ada batas-batasnya, dan ini yang gak
dipahami oleh mereka yang suka asal bicara tanpa punya kapasitas ilmu yang
cukup.
Udahan ah ngoceh paginya. Udah
waktunya mandi dan ngantor. Eh iya, saya pernah denger seorang ulama salaf berkata,
yang intinya, barang siapa yang gurunya adalah buku, maka salahnya lebih banyak dari
benarnya. Jadi, belajar dengan seorang pembimbing, tentu lebih baik
kan? ;)
Ngawi, 270913












