Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

SMS (yang Ternyata) Alay


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, istri buka-buka hape saya. Lihat-lihat history smsnya. Dia nungguin lamaa banget sampai akhirnya ketemu dengan apa yang dia cari. Ternyata, dia pengen baca lagi sms-sms pertama kita. Berarti sms tahun lalu. Wew….

Setelah ketemu dengan apa yang selama ini ia cari (halah!), kita pun ngakak baca sms-sms awal kita. Ya ampun, geli banget deh baca sms sendiri saat belum resmi menyandang status suami-istri. Ngakak juga saat baca sms yang saya kirim pertama kali pasca ijab qabul. Haha, serius itu saya yang nulis?

 Alay kaaan?? xD

It Happened

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu’alaikum…. Pppffiiiuuhh… Saya mau membersihkan debu dan sarang laba-laba dulu, karena tempat ini sudah suwung lama sekali. Sampai sama sekali tidak terurus. Maaf ya, Blog, sudah mengabaikan kamu selama bertahun-tahun. :(

Lamaaa sekali saya sama sekali tidak mengisi blog ini. Oh, jangankan menulis panjang lebar untuk blog, wong menulis status di Facebook saja sudah hampir tidak pernah. Writer’s block syndrome kembali menyerang saya dengan ganasnya. Berkali-kali saya kena sindrom ini, dan sepertinya kali ini yang terparah sepanjang sejarah.

Kalau tidak salah, terakhir kali saya mengisi blog ini adalah bulan Mei 2014. Berbicara tentang kemungkinan saya untuk keluar dari grup One Day One Juz yang telah saya ikuti sejak Oktober 2013 lalu. Dan akhirnya, tidak lama kemudian, pada awal-awal Ramadhan, saya benar-benar memutuskan untuk keluar dari grup. Padahal, saya sudah dapat satu lagi sahabat yang baik banget di sana. Tapi karena satu dan lain hal yang membuat saya sudah merasa sangat tidak nyaman, saya memilih untuk keluar. Nyatanya, tidak ada anggota grup yang mencari saya, selain adminnya tentunya. Adem ayem saja. It means, saya tidak berarti apa-apa di sana. Saya tidak berarti apa-apa untuk mereka.

Selepas Idul Fitri 2014, sebuah hal sakral terjadi dalam hidup saya. Saya menikah. Yeah, I’m a married man right now! Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Akhirnya, penantian selama hampir setengah tahun, terbayar sudah.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, bahwa saya memulai ta’aruf pada bulan Februari, dan melangsungkan khitbah pada bulan Maret. Setelah itu saya harus bersabar hingga bulan Agustus. Bagi orang lain, mungkin itu jarak yang singkat. Tapi bagi saya waktu itu, itu adalah jarak waktu terpanjang yang harus saya lalui. Nyatanya, waktu terasa begitu cepat sekali berlalu, dan tahu-tahu sudah Ramadhan, lalu sebentar lagi Agustus. Masya Allah, saya benar-benar tidak menyangka.

Hari Jumat sore, selepas ‘Ashr, tanggal 15 Agustus 2014, dengan hati mantap saya ucapkan akad nikah di depan penghulu, wali, dan keluarga. Cukup sekali mengucapkan, dan sah! Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Rasanya legaaaaa sekali. Meski saya masih merasa bujang, karena setelah akad nikah, saya masih harus pulang lagi ke rumah, dan kembali ke rumah mempelai wanita keesokan harinya untuk panggih.

Sabtu pagi, 16 Agustus 2014, saya dipertemukan dengan istri dalam acara temu manten. Bahagia sekali rasanya. Banyak saudara dan tetangga yang mengantarkan saya. Ternyata capek ya jadi pengantin itu? Harus menjalani sesi pemotretan berkali-kali (uhuk!), lalu masih harus menerima tamu hingga malam hari.

Keesokan harinya, saya seperti orang linglung. Serius! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah rangkaian acara itu usai. Hingga hampir seharian penuh, saya hanya berani meringkuk di kamar, sesekali ditemani istri dan bercerita apa saja. Saya masih merasa aneh. Saya belum mengenal istri saya secara lebih dalam. Bahkan berkomunikasi langsung untuk durasi yang panjang saja, baru setelah menikah itu bisa saya lakukan. Saya juga belum mengenal dengan baik kakak-kakaknya. Saya merasa sangat asing di tempat baru. Ah, pokoknya, saya merasa sangat berbeda, sangat bingung harus bagaimana, dan benar-benar linglung. Seharian pasca walimah.

Sepertinya, disambung next time saja. Masih banyak sekali yang terjadi dalam hidup saya, usai saya vakum dari blog. Lain waktu, insya Allah saya ceritakan lagi. :)


Nih bukti otentiknya!



Magetan, 080415

Masih Bertahan


Bismillahirrahmanirrahim


Belakangan ini, saya cukup ‘terusik’ dengan tulisan beberapa teman di pesbuk saya, terkait tentang keikutsertaannya dalam komunitas One Day One Juz, alias ODOJ.

Teman pertama, mengatakan bahwa di hati kecilnya, beliau berharap untuk keluar dari grup. Ternyata Allah benar-benar ‘mengabulkan’, dengan jalan hilangnya ponsel yang beliau gunakan untuk bergabung dalam grup ODOJ. Karena tidak pernah laporan, akhirnya beliaupun didepak dari grup. Beliau menyadari, bahwa mungkin itu adalah ‘teguran’ dari Allah. Tapi alhamdulillah, kemudian uluran tangan itu datang. Beliau kembali ditawari untuk masuk. Hingga kini, beliau masih istiqamah berada dalam komunitas itu. Walhamdulillah. Dan tulisannya yang sebenarnya hanya berupa status, kini terpampang di web resmi One Day One Juz.

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...

Decision


Bismillahirrahmanirrahim
 

Sejak beberapa waktu yang lalu, Akh J –sebut saja begitu- sangat bersemangat untuk menghubungkan saya dengan ‘organisasi tertentu’, agar saya bisa mengikuti kajiannya. Karena Akh J tahu –dari cerita saya- bahwa hati saya sudah cukup lama gak tersentuh oleh untaian ilmu diin. Akh J bilang, beliau sudah menghubungi bagian pengurus ‘organisasi tertentu’ itu. Nantinya, akan ada yang menghubungi saya.

Tapi sampai beberapa minggu, saya masih adem ayem aja, gak ada yang menghubungi. Hingga kemarin, saat sedang asyiknya bekerja, ada sebuah sms masuk. Katanya, dapat amanah dari Akh J di kota S untuk menghubungi saya. Saya baca aja. Karena saya masih cukup repot waktu itu.

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.

Ini Prinsip Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...


Saya sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman. Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan, “Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar menguasai lautan?”

Selangkah Lagi


Bismillahirrahmanirrahim

Dua minggu sebelumnya, saya udah menetapkan sebuah tanggal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya. Ia akan menjadi penanda, bahwa saya benar-benar telah siap untuk menjadi ‘manusia baru’, yang akan memimpin sebuah peradaban tersendiri.

Menanti tanggal itu, membuat perut saya selalu bergolak kagak jelas. Ada takut, cemas, was-was, grogi, dan sebagainya. Tapi anehnya, saya menikmati itu semua. Bagaimana mungkin perasaan-perasaan seperti itu gak akan muncul, kalau penyebabnya adalah hal yang akan mengubah hidup kita ke depannya?

Ah, ya. Ini hanyalah sebuah cerita. Tentang pinangan yang saya haturkan pada ia yang telah bersedia melanjutkan proses singkat itu.