Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Masih Bertahan


Bismillahirrahmanirrahim


Belakangan ini, saya cukup ‘terusik’ dengan tulisan beberapa teman di pesbuk saya, terkait tentang keikutsertaannya dalam komunitas One Day One Juz, alias ODOJ.

Teman pertama, mengatakan bahwa di hati kecilnya, beliau berharap untuk keluar dari grup. Ternyata Allah benar-benar ‘mengabulkan’, dengan jalan hilangnya ponsel yang beliau gunakan untuk bergabung dalam grup ODOJ. Karena tidak pernah laporan, akhirnya beliaupun didepak dari grup. Beliau menyadari, bahwa mungkin itu adalah ‘teguran’ dari Allah. Tapi alhamdulillah, kemudian uluran tangan itu datang. Beliau kembali ditawari untuk masuk. Hingga kini, beliau masih istiqamah berada dalam komunitas itu. Walhamdulillah. Dan tulisannya yang sebenarnya hanya berupa status, kini terpampang di web resmi One Day One Juz.

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...

Decision


Bismillahirrahmanirrahim
 

Sejak beberapa waktu yang lalu, Akh J –sebut saja begitu- sangat bersemangat untuk menghubungkan saya dengan ‘organisasi tertentu’, agar saya bisa mengikuti kajiannya. Karena Akh J tahu –dari cerita saya- bahwa hati saya sudah cukup lama gak tersentuh oleh untaian ilmu diin. Akh J bilang, beliau sudah menghubungi bagian pengurus ‘organisasi tertentu’ itu. Nantinya, akan ada yang menghubungi saya.

Tapi sampai beberapa minggu, saya masih adem ayem aja, gak ada yang menghubungi. Hingga kemarin, saat sedang asyiknya bekerja, ada sebuah sms masuk. Katanya, dapat amanah dari Akh J di kota S untuk menghubungi saya. Saya baca aja. Karena saya masih cukup repot waktu itu.

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.

Ini Prinsip Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...


Saya sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman. Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan, “Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar menguasai lautan?”

Selangkah Lagi


Bismillahirrahmanirrahim

Dua minggu sebelumnya, saya udah menetapkan sebuah tanggal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya. Ia akan menjadi penanda, bahwa saya benar-benar telah siap untuk menjadi ‘manusia baru’, yang akan memimpin sebuah peradaban tersendiri.

Menanti tanggal itu, membuat perut saya selalu bergolak kagak jelas. Ada takut, cemas, was-was, grogi, dan sebagainya. Tapi anehnya, saya menikmati itu semua. Bagaimana mungkin perasaan-perasaan seperti itu gak akan muncul, kalau penyebabnya adalah hal yang akan mengubah hidup kita ke depannya?

Ah, ya. Ini hanyalah sebuah cerita. Tentang pinangan yang saya haturkan pada ia yang telah bersedia melanjutkan proses singkat itu.

Ilmu Dulu Deh!

Bismillahirrahmanirrahim

Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.


Dalam Islam, pemakaian akal itu gak dilarang. Justru akallah yang membedakan kita dengan makhluk selain manusia. Tapi pemakaiannya harus pada tempatnya. Mafhum dipahami, bahwa akal harus tunduk pada dalil. ‘Ali ibn Abi Thalib saja pernah bilang, yang intinya, jika akal adalah sumber utama, maka seharusnya yang dibasuh ketika wudhu adalah bagian bawah sepatu, bukan bagian atasnya (karena Rasulullah memerintahkan bagi yang memakai sepatu, bisa berwudhu tanpa harus melepas sepatu, dengan membasuh bagian atasnya).

Sayangnya, sebagian saudara kita, ada yang ‘tergesa-gesa’ dalam berpendapat. Mereka banyak baca. Dari berbagai sumber tentunya. Mereka merasa paham dan mengerti, padahal sejatinya mereka sedang berada dalam sebuah kebingungan akut. Akhirnya, kesalahan terfatalnya, adalah mereka berani bicara, bahkan melakukan judgement pada beberapa hukum dalam Islam, atau pada beberapa kelompok dalam Islam, hanya dengan berdasar apa yang dibaca dan apa yang dipahami oleh akal sempitnya.

Ambil contoh, ada yang mengatakan, “Islam itu moderat. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.” Ini betul. Karena Islam memang merupakan agama pertengahan. Islam tidak terlalu keras seperti Yahudi, ataupun terlalu lunak seperti Nashrani. Islam itu tengah-tengah.

Yang jadi permasalahan, ketika membahas sebuah masalah, ‘dalil’ itu juga dipakai untuk ‘menyerang’ kelompok yang tidak sepemahaman dengan jalan pikir mereka. Kita ambil contoh, tentang penolakan Miss World misalnya. Orang-orang dengan modal akal, seringkali saya dengar mencaci ormas-ormas Islam yang menolak penyelenggaraan Miss World. Mereka menyebut ormas-ormas itu adalah Islam yang kolot, konservatif dan primitif, yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak bisa bertoleransi. Hmm... padahal nih ya, orang-orang dalam ormas-ormas tersebut adalah mereka yang sudah dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari ulama-ulamanya, baik secara langsung ataupun melalui guru-gurunya. Sedang mereka yang mengatai kolot konservatif itu, menjejakkan kaki di majelis ilmu saja gak pernah. Gimana bisa mereka ‘menilai’ sebuah kelompok, kalau tolok ukur penilaiannya hanya berdasar akal yang tiap orang gak sama?

Contoh lain, tentang jilbab. Ada yang berpendapat, bahwa pemakaian jilbab itu wajib, tetapi harus diiringi dengan kesiapan dan kemantapan hati. Mereka dengan pedenya membawakan dalil dari Al Quran tentang perintah untuk mengenakan jilbab. Mereka meyakini kewajibannya. Tapi untuk memakainya, mereka butuh kemantapan hati. Mungkin, istilah kerennya, pengen ‘menjilbabi hati’ dulu kali ya? -_-

Oke, pantesan aja, orang banyak yang gak shalat. Mungkin, dasar mereka sama. Shalat itu wajib, tapi pelaksanaannya menunggu kemantapan hati mereka untuk melaksanakannya. Jadi, kalau gak mantap-mantap, gak ‘terpanggil’ juga, mereka gak akan shalat. Sama kan logikanya? Ntar nyesel lho, kalau hatinya belum ‘terpanggil’ juga, tapi sayangnya nyawanya udah dipanggil duluan. :3

Tentang jilbab lagi, yang berdasar pada akal manusia yang sempit. Dulu saya pernah mendengar, ada yang mengatakan, “Temen-temen gue banyak yang berjilbab, tapi akhlaknya kayak gitu. Pacaran, suka ngebogongin temen, suka marah-marah.” Oke, jadi ini masalah lingkungan, yang kemudian digeneralisir oleh akal, bahwa kebanyakan perempuan ‘berjilbab’ zaman sekarang adalah seperti apa yang ada di pikiran mereka.

Kalau mau sama-sama pakai akal, coba deh mereka ini cari pergaulan dengan teman-teman baru yang bener-bener shalih. Coba ikut ngaji deh. Saya jamin, pemikiran dangkal seperti itu bakalan berubah. Karena yang akan mereka lihat adalah perempuan-perempuan tangguh yang konsisten dengan jilbabnya, menjaga harga dirinya.

Orang yang gak berjilbab, belum tentu akhlaknya buruk. Orang yang berjilbab, belum tentu juga akhlaknya baik. Tapi setidaknya, dengan mereka berjilbab, mereka akan berusaha menjadi baik, memperbaiki akhlak dan keimanannya.

Logikanya begini. Ada seorang pasien yang divonis menderita sebuah penyakit. Dokter mewajibkan dia mengkonsumsi sebuah obat, yang dia gak suka banget. Tapi demi kesembuhannya dari penyakit, akhirnya, biarpun sebenernya hatinya menolak, tetep dia laksanakan juga. Awalnya mungkin dia masih ogah-ogahan. Tapi lama kelamaan, setelah dia bener-bener merasakan manfaat dari obat yang dikasih dokter tadi, dia jadi nyaman-nyaman aja, karena nyatanya penyakitnya berangsur sembuh. Setelah sembuh, dia masih harus mengkonsumsi vitamin atau apalah gitu, supaya penyakitnya itu gak kembali. Dan dia laksanakan itu, karena itu sebuah kewajiban demi dirinya sendiri.

Sama halnya dengan jilbab. Jilbab bisa saja mengobati penyakit hati lho. Katakanlah, saat ini hatinya masih gak siap dengan jilbab. Tapi karena wajib, ya ‘terpaksa’ dia kerjakan juga. Lama-kelamaan, dia belajar, gimana sih pakai jilbab yang bener? Gimana sih seharusnya sikap seseorang yang berjilbab? Mungkin aja pembelajarannya ini juga masih dalam keadaan ‘terpaksa’, karena hatinya yang belum mantap tadi. Tapi lama-lama, saat dia udah mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya, penyakit-penyakit hatinya jadi semakin lama semakin sembuh, dia akan dengan senang hati memakai jilbab, dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Demi dirinya sendiri juga kan? :)

Ada lagi yang bilang, bahwa Islam adalah agama yang fleksibel. Wew... fleksibel? Jadi kalau orang ke kiri, kita juga ke kiri. Orang ke kanan, kita juga ke kanan. Orang nyebur sumur, kita juga nyebur sumur? Kan fleksibel. -_-

Mungkin maksudnya dalam hal toleransi ya? Hmmm... toleransi pun ada batas-batasnya, dan ini yang gak dipahami oleh mereka yang suka asal bicara tanpa punya kapasitas ilmu yang cukup.

Udahan ah ngoceh paginya. Udah waktunya mandi dan ngantor. Eh iya, saya pernah denger seorang ulama salaf berkata, yang intinya, barang siapa yang gurunya adalah buku, maka salahnya lebih banyak dari benarnya. Jadi, belajar dengan seorang pembimbing, tentu lebih baik kan? ;)


Ngawi, 270913

My Avilla, Akhir Sebuah Pencarian


Bismillahirrahmanirrahim

My Avilla. Nih nopel saya beli seminggu yang lalu. Tapi gak tahu kenapa, dorongan untuk segera membaca nopel ini begitu kuat, sehingga terpaksa saya tunda dulu buku-buku lain yang juga ngantri. Maap yeee... :3

Saya adalah penggemar nopel-nopel hasil racikan ‘tangan dingin’ seorang Ifa Avianty sejak dulu. Yang paling saya suka adalah cara berceritanya yang seringkali nyantai banget, sehingga yang baca ini sama sekali gak ngerasa bosan. Mau tema yang ringan, sampai yang ‘berat’, Ifa Avianty selalu menyajikannya dengan ringan. Atau, emang sudah berusaha nulis yang agak ‘berat’, tapi nyatanya tetep kebawa sama signature style-nya? :D

Salah satu nopel ‘berat’nya adalah My Avilla ini. Katanya sih, nopel ini beda dari nopel-nopel beliau yang sebelum-sebelumnya. Nopel ini lebih ‘berat’, karena mengangkat tema tentang pencarian Tuhan.
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Afra Publishing
Harga : Rp26.000,-

Mengangkat cerita tentang seorang cewek bernama Trudy. Dia punya seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya, Margriet. Kakaknya itu baik banget, berjilbab, bahkan bisa dengan mudah sekali memaafkan kesalahan paling fatal yang Trudy lakukan. Ada juga Fajar, teman sekelas yang ditaksir Trudy, tapi ternyata Fajar justru dengan ‘gagah berani’ menyatakan perasaan kagum dan cintanya pada Margriet yang terpaut usia 4 tahun di atasnya.