Bismillahirrahmanirrahim
Sejak beberapa bulan terakhir, saya mulai males ikutan gempitanya kompetensi alias perlombaan-perlombaan menulis di Facebook. Atau, lebih tepatnya, saya males ikutan lomba! Kalau toh ikutan, itu karena saya emang kebetulan punya naskah yang sesuai dengan tema lomba.
Bukan desperate karena gak pernah menang, atau malah sombong dan menganggap diri sudah paling hebat. Bukan. Tapi, ada beberapa sebab besar yang membuat saya males.
First, tema yang sudah ditetapkan. Saya gak mau disuruh-suruh untuk nulis dengan sebuah tema yang ditetapkan. Mungkin terlalu idelais ya. Tapi saya emang lebih enjoy kalau saya menulis karena keinginan saya sendiri, dengan tema yang saya tetapkan sendiri, alur yang saya bikin sendiri, dan sebagainya yang serba dari-pikiran-saya-sendiri (atau dengan partner, kalau untuk tulisan duet). Yang namanya lomba kan pasti ada tema yang diangkat, dan ada aturan-aturan yang mengikat, misalnya ukuran kertas harus segini, margin segini, font ini, kirim softcopy ke sini, hardcopy ke sini, bla bla bla… Beuhh… riweuh euy! Saya orang yang simple, gak pengen ribet-ribet. Makanya suka males sendiri kalau disuruh ikutan lomba dengan banyak aturan dan tema yang sudah ditetapkan.
Second, naskah jadi hak milik panitia. Ada beberapa perlombaan yang panitianya ngasih wanti-wanti, “Setiap naskah yang masuk menjadi hak milik panitia.” Udah deh, langsung ilfil saya. Tapi kebanyakan, yang jadi milik panitia adalah naskah-naskah pemenang, atau minimalnya yang masuk ke nominasi. Biarpun begitu, saya udah males ikutan kalau ada embel-embel “naskah jadi hak milik panitia”. Gimana ya? Saya ngrasa, itu tulisan saya, kerja keras saya. Dan kalaupun masuk nominasi, tapi sayanya berubah pikiran dan mau saya tarik alias mengundurkan diri, itu juga hak saya. Beberapa kali saya pengen menarik naskah, tapi gak jadi, karena saya lupa bahwa di awal ada embel-embel seperti itu. Akhirnya, yang ada justru dongkol, gak ridha, dan… ya uwis! Mau gak mau harus direlakan, biarpun gak ikhlas. Itu jadi pembelajaran juga buat saya, bahwa sebelum ngikutin lomba, saya harus mikir, siap gak dengan konsekwensi bahwa naskah saya akan berpindah tangan dan bukan lagi jadi hak milik saya.
Third, syarat ribet. Sebenernya hampir sama dengan poin satu tadi. Tapi ini lebih ke syarat khusus. Misalnya, naskah harus diposting di blog masing-masing, atau di catatan masing-masing, dengan mengetag si A, si B, si C, dan di akhirnya diberi keterangan ini dan itu. Atau, kalau bukan naskahnya yang diposting, peserta wajib memposting info lomba dan mengetag minimal sekian orang. Atau, ada juga yang harus membeli sebuah buku X dulu sebelum ikutan lomba. Huh… Ilfil lagi saya. Apalagi dengan yang terakhir tadi, bahwa peserta harus membeli buku dulu. Helloo… Anybody there? Gak semua orang punya duit cukup, biarpun ‘hanya’ untuk sebuah buku! Syarat ini menguntungkan panitia yang penjualan bukunya terdongkrak, tapi sekaligus bikin saya ilfil, karena saya seringnya bokek dan harus mikir puluhan kali untuk membeli sebuah buku, apalagi yang hanya dijual secara online.
Fourth, waktu sedikit dan pikiran yang gak bisa fokus. Saya seseorang yang bekerja di luar rumah dari pagi sampai sore, dengan jarak tempuh antara rumah dengan kantor yang cukup jauh (bahkan waktu saya tanyakan ke seorang ustadz di sini, saya sudah bisa disebut musafir yang artinya boleh meng-qadha’ dan meng-qashar shalat). Begitu sampai di rumah, saya pasti udah capek banget. Belum lagi urusan-urusan di rumah yang harus saya selesaikan, atau kadang leptop yang dipakai adek saya, atau kalau sudah suntuk dan capek, saya memilih nonton tivi, nonton film, denger musik, atau tidur sekalian. Pikiran yang tersita ke sana kemari, dan kurang jelinya saya dalam memenej waktu, bikin saya males banget, bahkan untuk sekadar nengok info-info lomba. Efek dari poin ini, saya juga jadi jarang bisa baca buku dengan tenang. Akhirnya, saya bisanya baca kalau pas mau tidur, itupun kalau belum begitu ngantuk.
Yah, seenggaknya, itu empat faktor terbesar yang bikin saya males ikutan lomba menulis yang bertebaran di sana sini, terutama di Facebook. Tapi bukan berarti ikutan lomba gak ada manfaatnya ya. Ikutan lomba, manfaat yang paling terasa adalah kita bisa belajar menulis dengan tema-tema baru, sehingga tulisan kita gak begitu-begitu terus. Kita juga bisa ngerasain sensasi deg-degan ketika pengumuman pemenang. Tapi ya itu, karena faktor-faktor di atas, saya secara pribadi, untuk saat ini, males ikutan lomba, terutama yang di Facebook.
Eh iya, ada satu tema besar (atau mungkin genre) yang saya sudah mundur duluan begitu tahu tema besar apa yang dipakai. Komedi. Yup! Komedi! Saya paling gak bisa kalau disuruh bikin tulisan untuk membuat orang ketawa ketiwi sendiri. Selain itu, bukankah kata Rasulullah, banyak tertawa akan mematikan hati? Makanya saya heran, kok pada demen banget ya bikin cerita komedi, sinetron komedi, tayangan-tayangan komedi? Memang sih, kadang kita butuh refreshing dengan tertawa. Tapi juga gak boleh berlebihan kan? Kalau misalnya saya keseringan, atau malah terus-terusan bikin cerita komedi, menurut saya, saya juga jadi salah satu sebab matinya hati orang lain karena tertawanya terlalu over saat membaca cerita yang saya tulis.
*Hanya pendapat pribadi saja lho ya…
Ngawi, 170811

0 comments :
Post a Comment