Bismillahirrahmanirrahim
“Dia cuma bilang, dia mau ke kota untuk cari kerja. Dan akan segera mengabari kalau sudah dapat kerja.”
Perkataan pria paruh baya dengan muka kecut itu masih terngiang di telingaku. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Pria ini memang kelihatannya tidak pernah suka aku berhubungan dengan anaknya.
Ah, Nasha… Kemana kamu? Nomornya bahkan tidak bisa aku hubungi. Saat aku tanyakan nomor baru Nasha ke pria paruh baya itu, dia berkilah kalau dia juga tidak diberitahu Nasha perihal nomor barunya. Sialan! Ada konspirasi apa ini?
Tapi, aku akan menemukannya. Aku akan menemukanmu lagi, Nasha. Setelah itu, kita bisa ke penghulu, mengikatkan cinta kita dan mengikrarkannya agar abadi.
Yah, dia akan kutemukan. Dia harus tahu bahwa dia tidak akan bisa lepas begitu saja dariku. Aku suka dia. Dia suka aku. Cintaku dan dia saling mengikat. Kemana dia pergi, hatiku pasti akan bisa menemukannya. Meski tanpa petunjuk secuil pun, selain sebuah kata “kota” yang dikatakan lelaki itu.
Tidak mungkin dia bisa melupakan begitu saja saat-saat romantis, saat pertama kali aku mengatakan padanya,
“Suatu hari nanti, kamu akan jadi penulis besar, Sha!” Dan kulihat wajahmu bersemu.
“Aku gak ingin jadi penulis besar. Aku hanya ingin menulis. Itu saja cukup.”
Setelahnya, aku memberinya sebuah majalah yang aku dapatkan dari kota sebelah. Majalah remaja, berisi tulisan-tulisan cerita. Dia bilang, sebenarnya dia ingin majalah itu. Tapi karena di daerah kecil seperti ini tidak ada, dan harus ke kota dulu, ia jadi tidak pernah membelinya. Di kota pun belum tentu ada. Aku mendapatkan majalah itu waktu plesiran ke kota sebelah. Naik kereta.
“Biarpun hanya sebuah majalah, tapi aku gak akan melupakan pemberianmu ini, Ray.” Matanya berbinar saat itu.
Hah… aku tidak akan bisa melupakan senyum manisnya, atau kulitnya yang sedikit pucat karena kurang hemoglobin. Bahkan rambut pendeknya pun bagiku terlihat begitu cantik.
Nyatanya dia pergi! Yah! Dia pergi! Tanpa memberitahuku!
Apa salahku padanya? Aku sudah sangat perhatian padanya. Setiap hari, aku selalu meneleponnya, mengingatkan waktu makan, waktu ibadah. Kalau dia pergi keluar ke suatu tempat, aku yang paling khawatir. Bagaimana nanti kalau dia kenapa-napa? Aku yang memonitor keadaannya setiap saat. Aku sangat mencintainya. Dan dia sangat menghargai itu. Kelihatan sekali, dari suaranya, dia terdengar riang tiap mendengar teleponku. Nada dalam kata-kata di sms-nya juga masih manis.
Dia tidak punya alasan untuk meninggalkanku begitu saja.
We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!
Cintaku dan cintanya tak akan pernah mati. Aku yakin itu. Untuk itulah, aku di sini. Dalam kursi nyaman di kereta, menuju kota sebelah. Kata ayahnya yang penyakitan itu, dia ke sini. Tapi laki-laki itu enggan memberitahuku di mana Nasha tinggal, dan di mana ia bekerja. Hah, tidak masalah. Seorang Rayvo akan dengan mudah menemukan soulmate-nya yang masih tersesat.
Yah… Nasha mungkin sedang tersesat. Gadis lugu seperti dia bisa saja ketakutan tinggal sendirian di kota besar. Ah, Nasha, tunggu aku. Aku akan segera datang padamu. Yah, untuk saat ini, aku –tidak bisa tidak- harus melepasmu sementara. Tapi aku tahu, karena dalam hatimu masih ada cinta, itu yang akan membawamu kembali padaku, hingga aku bisa menemukanmu.
I know that you'll be back, Girl
When your days and your nights get a little bit colder
When your days and your nights get a little bit colder
Kamu tidak berpikir ada laki-laki lain yang membawa Nasha ke kota itu? Apa? Laki-laki lain??? Suara itu kembali berdengung di telingaku. Sial!! Tapi, dia benar. Jangan-jangan, Nasha pergi karena laki-laki lain? Siapa laki-laki itu? Tunggu saja, jika aku menemukannya, aku akan melakukan apapun agar Nasha kembali padaku. Apapun!
Suara berisik mulai terdengar lebih berisik. Bukan, bukan suara dalam kepalaku. Tapi kereta ini sudah berhenti. Aku segera mengambil tasku, lalu berjalan keluar. Saat kakiku menginjak peron stasiun, aku baru bisa mendengar suara hujan yang sangat membuatku tidak nyaman. Dingin. Membuatku teringat Nasha. Hujan-hujan begini, dia pasti kedinginan.
Aku edarkan pandang. Tidak ada yang aku kenal. Hanya orang-orang yang duduk di bangku peron, menunggu kereta. Ada juga seorang laki-laki di bangku yang berdekatan dengan mushala. Pandangannya seperti kosong, tertuju pada rintik hujan di luar sana. Seperti sedang menanti sesuatu ikut turun bersama hujan. Ah, memangnya apa peduliku!
Aku segera keluar. Hmm… Tenang, Nasha. Aku akan segera menemukanmu. Lalu kita pulang, menghadap penghulu, dan menikah. Oh, tidak usah pedulikan lelaki tua itu, ataupun adikmu yang kelihatannya juga tidak menyukai aku. Aku akan bereskan semuanya. Haha… Aku tersenyum. Yah… sedikit kecut.
Madiun, 150811

5 comments :
Tiba-tiba teringat lagu Taylor Swift - Speak Now. Pesan rahasia dari lagu itu: kita akan menyesal ketika tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. :P
Btw, aku berharap ada sesuatu yg mengejutkan di endingnya. :(
belooommm... ini kan baru permulaan Al!
xD
jiaaaahhhh, ini teh ceritanya terinspirasi dari mana? *wink*
xD
hahaha... si paula teh jadi anonim sekarang!
xD
dari itu tuh... xD
ehem :)
Post a Comment