Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Hanya Gumam Kecil


Bismillahirrahmanirrahim


Sampe detik saya menulis ini, saya masih bingung, apa ya yang mau saya tulis. Secara, hari ini saya gak ngapa-ngapain. Cuman di rumah sambil istirahat sepuasnya aja. Tapi tadi pagi saya sempet ngetik tugas kantor juga sih. Hehe…

Bangun tidur siang, saya dengerin kajiannya Ustadz Salim A. Fillah. Tapi cuman bentar, gak lama, karena terpotong sama Ashar. Setelah itu, nonton Master Chef. Dan jam 5, disuruh goreng tempe sama Mbok Nyak.
Sebenernya, ada sih beberapa hal yang pengen saya tulis. Tapi, saya belum berani. Soalnya perlu referensi dan pemahaman yang gak main-main.
Eh iya, saya inget sesuatu. Ada yang pernah bilang ke saya, “Kalau kamu pengen profesional dalam bekerja, kita gak boleh terlalu religius.” Atau, pernah juga ada yang bilang, “Saya gak suka orang yang terlalu religius. Terlalu sok bersih. Hidup kan harus realistis. Beragama yang biasa-biasa saja lah.”

Tuing tuing…  Saya pengen protes mati-matian. Tapi saya tahan, dan menanggapi dengan senyum geli.

Seorang Muslim juga profesional kok. Liat aja Mario Teguh. Dia Muslim. Tapi modern dan profesional dalam pekerjaannya.”

Atau, “Lah… Saya malah seneng sama orang yang religius dalam pekerjaannya. Bersih. Saya pengen kayak orang-orang seperti itu.”

Mungkin jawaban saya gak begitu bisa mementahkan apa yang mereka sampaikan. Tapi, cukuplah untuk gak memperpanjang perdebatan. But, tetep saja, hal itu jadi semacam keprihatinan tersendiri buat saya.

Kenapa sih ya, masih ada aja orang yang gak bisa bangga dengan ke-Islam-annya? Kenapa sih, masih ada orang yang menganggap Islam menghambat kemajuan, bahkan menghambat profesionalitas? Kenapa juga, ada yang masih gak bisa menghormati apa yang diyakini oleh orang lain sebagai sebuah pilihan hidupnya? Mungkin, jawabannya simpel. Ini akhir zaman woi!

Untuk saat-saat ini, saya cuman bisa menghela napas, mengelus dada, dan menggumamkan istighfar ketika mendengar statement-statement seperti itu. Di sisi lain, ia menjadi pelecut semangat saya, bahwa saya harus bisa membuktikan, bahwa saya seorang Muslim, dan bisa menunjukkan keprofesionalan dalam bekerja. Bahwa seorang Muslim yang senantiasa mengambil jeda saat Dhuha untuk mendirikan rakaat, ataupun jeda beberapa saat ba’da shalat untuk membaca ‘surat cinta’ dari Rabb-nya, bisa menjadi seorang profesional yang disegani. Supaya mereka-mereka itu gak ragu-ragu dalam menerapkan syariat dalam semua sendi kehidupan, termasuk dalam bekerja. Meski semuanya –sekali lagi- setahap demi setahap. Setahap demi setahap, seperti kata Rasulullah. :)


Ngawi, 070811

3 comments :

Mas Ame, postingan2 yg kayak gini dipanjangin dong. :(

Aku benci sama orang2 yang berkata org2 religius itu culun. Tapi tersralah mereka berkata apa. mereka gatau apa2 :)

 

bingung ngebahasnya, makanya pendek2. :P

biasanya sih dibilangnya sok suci, sok bener sendiri, dsb... yang aneh, mereka yang bilang kayak gitu itu, justru seolah bangga sama dosanya. ironis. :(

 

suka dengan tulisan ini.

 

Post a Comment