Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Gelisah

Bismillahirrahmanirrahim


Apa yang Agan semua banyangin soal get a job? Dapet kerjaan yang prestisius? Diterima di bidang yang sesuai passion? Atau kerja apa aja deh yang penting halal dan gak nganggur? Kayaknya, semua orang juga bakalan jawab; pengen dapet kerjaan di tempat yang lumayan prestis, di bagian yang sesuai dengan passionnnya, dan yang pasti halal. Yah, itulah impian semua orang. Termasuk saya.

Pada awalnya, saya yang hanya iseng ngikutin rekrutmen pegawai yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja sekarang, sebenernya sudah siap-siap aja kalau nantinya bakal ditempatkan pada bagian yang sama sekali bukan passion saya. Karena di lamaran saya, saya memang melamar untuk posisi pegawai pemeliharaan. Yang artinya, saya bakalan berkutat dengan bidang teknik, hal yang sama sekali gak saya minati, gak saya sukai, dan yang paling sulit saya mengerti apalagi kuasai.

Yuk Dicukur!



Bismillahirrahmanirrahim


Rabu lalu, tepat sehari setelah lewat selapan (usia bayi 35 hari dalam hitungan Jawa), saya memutuskan untuk melakukan suatu perubahan mulia pada Wawa. Time to cukuuuuurrr!!! xD

Sebelumnya, saya sempet bimbang juga. Enaknya dicukur gak ya ini rambut anak saya yang indah dan hitam lebat sedari lahir ini? Kakak Ipar menyarankan sih gak usah digundul, cukup dicukur dikit aja. Ya soalnya anaknya dia semuanya gak digundul. Awalnya saya sih setuju aja. Dengan tekad yang kuat, saya gak akan menggunduli kepala anak saya.

Tapi setelah saya cari tahu, bahwa ternyata ada sunnahnya menggundul rambut bayi pada hari ke-7 atau saat aqiqah, saya mulai berubah pikiran.

Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5: 12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Welcome, My Baby Girl



Bismillahirrahmanirrahim


She’s a month now! Masha Allah

Sama sekali gak terasa, bahwa ternyata dia sudah satu bulan ada di dunia ini. Waktu terasa cepat banget berlalu.

Rasanya, seperti baru kemarin saat saya dan istri berkunjung ke dokter kandungan untuk pertama kalinya pada malam tahun baru, dan mendapati hasil kandungan yang masih kosong. Rasanya juga baru saja, saat saya mulai merasakan repot karena istri sering mual-muntah gak karuan sampai usia kandungannya 4 bulan.

Actually, saya pengen banget dari kemarin-kemarin itu nulis di blog ini, sekadar ‘mengabadikan’ momen-momen kehamilan istri saya dalam tulisan. Tapi emang sayanya yang pemalas, akhirnya blog ini pun terbengkalai selama ratusan tahun.

Pun saat anak saya lahir, pengennya segera nulis, posting ke blog. Kenyataannya, pasca kelahiran adalah saat-saat paling repot dan paling melelahkan tapi menyenangkan, hingga satu bulanan ini. Kalau saya gak bertekad kuat untuk nulis, mungkin selamanya saya gak akan nulis lagi. Bahkan opsi untuk menonaktifkan blog sudah pernah terpikir di otak saya.

Mereka Pergi Satu Persatu



Bismillahirrahmanirrahim


Kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang berjiwa pasti akan mengalami mati. Begitulah sunnatullah. Tidak mungkin kita mengelak dari kematian. Ia tidak akan bisa kita hindari, meski kita berlindung di balik benteng yang tinggi dan tebal sekalipun. Ia tidak akan bisa dimajukan, ataupun dimundurkan. Setiap kita, ‘dihantui’ oleh limit kehidupan itu. Tidak bisa tidak.


Baru kemarin pagi, saat sahur, tiba sebuah kabar duka. Seorang sahabat baik istri saya meninggal, setelah sebelumnya sakit, hingga dinyatakan koma. Ternyata takdir berkata lain. Saat orang lain tengah sahur, ia justru meninggalkan dunia yang fana ini menuju keabadian.

Imam 'Flash'


Bismillahirrahmanirrahim


Tahu Quicksilver kan? Itu tuh, karakter di komik Marvel yang memiliki kemampuan begerak super cepat. Iya bener, yang kemaren muncul di film Avenger terbaru itu!

Ceritanya nih, Pak Imam di masjid desa saya, yang biasanya kalau ngimamin itu kalem banget, bacaan juga pelan-pelan, begitu shalat tarawih, dia berubah wujud jadi Quicksilver! Wow! Keren kaaaan?! Alhasil, saya jadi gak bisa sama sekali menikmati nyamannya tarawih pertama di tahun ini.
Pic: Dari Fb Pengen Jadi Baik

Satu 'Atap' Kok Beda?



Bismillahirrahmanirrahim


Sudah lama sekali gak mengikuti kajian langsung di masjid. Mumpung ada waktu luang di hari Ahad, okelah ayo ngaji bareng istri. Kita pun berangkat. Alhamdulillah, kayaknya sih kajiannya baru mulai. Tapi ya mungkin gara-gara lama gak ngaji rutin, jadinya waktu satu jam saja sudah terasa lamaa banget. Sampai ngantuk-ngantuk. xD

Selesai shalat Dhuhur, kita pulang dong. Lapar pisan. Lalu tiba-tiba, istri cerita, kalau dia ketemu dengan temannya di tempat akhwat tadi. Alhamdulillah, akhirnya istri saya gak bakal sendirian lagi kalau ngaji di tempat akhwat. Seenggaknya ada yang dia kenal.


Dan sampailah pada cerita yang membuat saya agak mengernyitkan dahi.

SMS (yang Ternyata) Alay


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, istri buka-buka hape saya. Lihat-lihat history smsnya. Dia nungguin lamaa banget sampai akhirnya ketemu dengan apa yang dia cari. Ternyata, dia pengen baca lagi sms-sms pertama kita. Berarti sms tahun lalu. Wew….

Setelah ketemu dengan apa yang selama ini ia cari (halah!), kita pun ngakak baca sms-sms awal kita. Ya ampun, geli banget deh baca sms sendiri saat belum resmi menyandang status suami-istri. Ngakak juga saat baca sms yang saya kirim pertama kali pasca ijab qabul. Haha, serius itu saya yang nulis?

 Alay kaaan?? xD

It Happened

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu’alaikum…. Pppffiiiuuhh… Saya mau membersihkan debu dan sarang laba-laba dulu, karena tempat ini sudah suwung lama sekali. Sampai sama sekali tidak terurus. Maaf ya, Blog, sudah mengabaikan kamu selama bertahun-tahun. :(

Lamaaa sekali saya sama sekali tidak mengisi blog ini. Oh, jangankan menulis panjang lebar untuk blog, wong menulis status di Facebook saja sudah hampir tidak pernah. Writer’s block syndrome kembali menyerang saya dengan ganasnya. Berkali-kali saya kena sindrom ini, dan sepertinya kali ini yang terparah sepanjang sejarah.

Kalau tidak salah, terakhir kali saya mengisi blog ini adalah bulan Mei 2014. Berbicara tentang kemungkinan saya untuk keluar dari grup One Day One Juz yang telah saya ikuti sejak Oktober 2013 lalu. Dan akhirnya, tidak lama kemudian, pada awal-awal Ramadhan, saya benar-benar memutuskan untuk keluar dari grup. Padahal, saya sudah dapat satu lagi sahabat yang baik banget di sana. Tapi karena satu dan lain hal yang membuat saya sudah merasa sangat tidak nyaman, saya memilih untuk keluar. Nyatanya, tidak ada anggota grup yang mencari saya, selain adminnya tentunya. Adem ayem saja. It means, saya tidak berarti apa-apa di sana. Saya tidak berarti apa-apa untuk mereka.

Selepas Idul Fitri 2014, sebuah hal sakral terjadi dalam hidup saya. Saya menikah. Yeah, I’m a married man right now! Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Akhirnya, penantian selama hampir setengah tahun, terbayar sudah.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, bahwa saya memulai ta’aruf pada bulan Februari, dan melangsungkan khitbah pada bulan Maret. Setelah itu saya harus bersabar hingga bulan Agustus. Bagi orang lain, mungkin itu jarak yang singkat. Tapi bagi saya waktu itu, itu adalah jarak waktu terpanjang yang harus saya lalui. Nyatanya, waktu terasa begitu cepat sekali berlalu, dan tahu-tahu sudah Ramadhan, lalu sebentar lagi Agustus. Masya Allah, saya benar-benar tidak menyangka.

Hari Jumat sore, selepas ‘Ashr, tanggal 15 Agustus 2014, dengan hati mantap saya ucapkan akad nikah di depan penghulu, wali, dan keluarga. Cukup sekali mengucapkan, dan sah! Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Rasanya legaaaaa sekali. Meski saya masih merasa bujang, karena setelah akad nikah, saya masih harus pulang lagi ke rumah, dan kembali ke rumah mempelai wanita keesokan harinya untuk panggih.

Sabtu pagi, 16 Agustus 2014, saya dipertemukan dengan istri dalam acara temu manten. Bahagia sekali rasanya. Banyak saudara dan tetangga yang mengantarkan saya. Ternyata capek ya jadi pengantin itu? Harus menjalani sesi pemotretan berkali-kali (uhuk!), lalu masih harus menerima tamu hingga malam hari.

Keesokan harinya, saya seperti orang linglung. Serius! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah rangkaian acara itu usai. Hingga hampir seharian penuh, saya hanya berani meringkuk di kamar, sesekali ditemani istri dan bercerita apa saja. Saya masih merasa aneh. Saya belum mengenal istri saya secara lebih dalam. Bahkan berkomunikasi langsung untuk durasi yang panjang saja, baru setelah menikah itu bisa saya lakukan. Saya juga belum mengenal dengan baik kakak-kakaknya. Saya merasa sangat asing di tempat baru. Ah, pokoknya, saya merasa sangat berbeda, sangat bingung harus bagaimana, dan benar-benar linglung. Seharian pasca walimah.

Sepertinya, disambung next time saja. Masih banyak sekali yang terjadi dalam hidup saya, usai saya vakum dari blog. Lain waktu, insya Allah saya ceritakan lagi. :)


Nih bukti otentiknya!



Magetan, 080415

Masih Bertahan


Bismillahirrahmanirrahim


Belakangan ini, saya cukup ‘terusik’ dengan tulisan beberapa teman di pesbuk saya, terkait tentang keikutsertaannya dalam komunitas One Day One Juz, alias ODOJ.

Teman pertama, mengatakan bahwa di hati kecilnya, beliau berharap untuk keluar dari grup. Ternyata Allah benar-benar ‘mengabulkan’, dengan jalan hilangnya ponsel yang beliau gunakan untuk bergabung dalam grup ODOJ. Karena tidak pernah laporan, akhirnya beliaupun didepak dari grup. Beliau menyadari, bahwa mungkin itu adalah ‘teguran’ dari Allah. Tapi alhamdulillah, kemudian uluran tangan itu datang. Beliau kembali ditawari untuk masuk. Hingga kini, beliau masih istiqamah berada dalam komunitas itu. Walhamdulillah. Dan tulisannya yang sebenarnya hanya berupa status, kini terpampang di web resmi One Day One Juz.

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...

Decision


Bismillahirrahmanirrahim
 

Sejak beberapa waktu yang lalu, Akh J –sebut saja begitu- sangat bersemangat untuk menghubungkan saya dengan ‘organisasi tertentu’, agar saya bisa mengikuti kajiannya. Karena Akh J tahu –dari cerita saya- bahwa hati saya sudah cukup lama gak tersentuh oleh untaian ilmu diin. Akh J bilang, beliau sudah menghubungi bagian pengurus ‘organisasi tertentu’ itu. Nantinya, akan ada yang menghubungi saya.

Tapi sampai beberapa minggu, saya masih adem ayem aja, gak ada yang menghubungi. Hingga kemarin, saat sedang asyiknya bekerja, ada sebuah sms masuk. Katanya, dapat amanah dari Akh J di kota S untuk menghubungi saya. Saya baca aja. Karena saya masih cukup repot waktu itu.

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.

Ini Prinsip Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...


Saya sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman. Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan, “Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar menguasai lautan?”

Selangkah Lagi


Bismillahirrahmanirrahim

Dua minggu sebelumnya, saya udah menetapkan sebuah tanggal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya. Ia akan menjadi penanda, bahwa saya benar-benar telah siap untuk menjadi ‘manusia baru’, yang akan memimpin sebuah peradaban tersendiri.

Menanti tanggal itu, membuat perut saya selalu bergolak kagak jelas. Ada takut, cemas, was-was, grogi, dan sebagainya. Tapi anehnya, saya menikmati itu semua. Bagaimana mungkin perasaan-perasaan seperti itu gak akan muncul, kalau penyebabnya adalah hal yang akan mengubah hidup kita ke depannya?

Ah, ya. Ini hanyalah sebuah cerita. Tentang pinangan yang saya haturkan pada ia yang telah bersedia melanjutkan proses singkat itu.

Ilmu Dulu Deh!

Bismillahirrahmanirrahim

Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.


Dalam Islam, pemakaian akal itu gak dilarang. Justru akallah yang membedakan kita dengan makhluk selain manusia. Tapi pemakaiannya harus pada tempatnya. Mafhum dipahami, bahwa akal harus tunduk pada dalil. ‘Ali ibn Abi Thalib saja pernah bilang, yang intinya, jika akal adalah sumber utama, maka seharusnya yang dibasuh ketika wudhu adalah bagian bawah sepatu, bukan bagian atasnya (karena Rasulullah memerintahkan bagi yang memakai sepatu, bisa berwudhu tanpa harus melepas sepatu, dengan membasuh bagian atasnya).

Sayangnya, sebagian saudara kita, ada yang ‘tergesa-gesa’ dalam berpendapat. Mereka banyak baca. Dari berbagai sumber tentunya. Mereka merasa paham dan mengerti, padahal sejatinya mereka sedang berada dalam sebuah kebingungan akut. Akhirnya, kesalahan terfatalnya, adalah mereka berani bicara, bahkan melakukan judgement pada beberapa hukum dalam Islam, atau pada beberapa kelompok dalam Islam, hanya dengan berdasar apa yang dibaca dan apa yang dipahami oleh akal sempitnya.

Ambil contoh, ada yang mengatakan, “Islam itu moderat. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.” Ini betul. Karena Islam memang merupakan agama pertengahan. Islam tidak terlalu keras seperti Yahudi, ataupun terlalu lunak seperti Nashrani. Islam itu tengah-tengah.

Yang jadi permasalahan, ketika membahas sebuah masalah, ‘dalil’ itu juga dipakai untuk ‘menyerang’ kelompok yang tidak sepemahaman dengan jalan pikir mereka. Kita ambil contoh, tentang penolakan Miss World misalnya. Orang-orang dengan modal akal, seringkali saya dengar mencaci ormas-ormas Islam yang menolak penyelenggaraan Miss World. Mereka menyebut ormas-ormas itu adalah Islam yang kolot, konservatif dan primitif, yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak bisa bertoleransi. Hmm... padahal nih ya, orang-orang dalam ormas-ormas tersebut adalah mereka yang sudah dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari ulama-ulamanya, baik secara langsung ataupun melalui guru-gurunya. Sedang mereka yang mengatai kolot konservatif itu, menjejakkan kaki di majelis ilmu saja gak pernah. Gimana bisa mereka ‘menilai’ sebuah kelompok, kalau tolok ukur penilaiannya hanya berdasar akal yang tiap orang gak sama?

Contoh lain, tentang jilbab. Ada yang berpendapat, bahwa pemakaian jilbab itu wajib, tetapi harus diiringi dengan kesiapan dan kemantapan hati. Mereka dengan pedenya membawakan dalil dari Al Quran tentang perintah untuk mengenakan jilbab. Mereka meyakini kewajibannya. Tapi untuk memakainya, mereka butuh kemantapan hati. Mungkin, istilah kerennya, pengen ‘menjilbabi hati’ dulu kali ya? -_-

Oke, pantesan aja, orang banyak yang gak shalat. Mungkin, dasar mereka sama. Shalat itu wajib, tapi pelaksanaannya menunggu kemantapan hati mereka untuk melaksanakannya. Jadi, kalau gak mantap-mantap, gak ‘terpanggil’ juga, mereka gak akan shalat. Sama kan logikanya? Ntar nyesel lho, kalau hatinya belum ‘terpanggil’ juga, tapi sayangnya nyawanya udah dipanggil duluan. :3

Tentang jilbab lagi, yang berdasar pada akal manusia yang sempit. Dulu saya pernah mendengar, ada yang mengatakan, “Temen-temen gue banyak yang berjilbab, tapi akhlaknya kayak gitu. Pacaran, suka ngebogongin temen, suka marah-marah.” Oke, jadi ini masalah lingkungan, yang kemudian digeneralisir oleh akal, bahwa kebanyakan perempuan ‘berjilbab’ zaman sekarang adalah seperti apa yang ada di pikiran mereka.

Kalau mau sama-sama pakai akal, coba deh mereka ini cari pergaulan dengan teman-teman baru yang bener-bener shalih. Coba ikut ngaji deh. Saya jamin, pemikiran dangkal seperti itu bakalan berubah. Karena yang akan mereka lihat adalah perempuan-perempuan tangguh yang konsisten dengan jilbabnya, menjaga harga dirinya.

Orang yang gak berjilbab, belum tentu akhlaknya buruk. Orang yang berjilbab, belum tentu juga akhlaknya baik. Tapi setidaknya, dengan mereka berjilbab, mereka akan berusaha menjadi baik, memperbaiki akhlak dan keimanannya.

Logikanya begini. Ada seorang pasien yang divonis menderita sebuah penyakit. Dokter mewajibkan dia mengkonsumsi sebuah obat, yang dia gak suka banget. Tapi demi kesembuhannya dari penyakit, akhirnya, biarpun sebenernya hatinya menolak, tetep dia laksanakan juga. Awalnya mungkin dia masih ogah-ogahan. Tapi lama kelamaan, setelah dia bener-bener merasakan manfaat dari obat yang dikasih dokter tadi, dia jadi nyaman-nyaman aja, karena nyatanya penyakitnya berangsur sembuh. Setelah sembuh, dia masih harus mengkonsumsi vitamin atau apalah gitu, supaya penyakitnya itu gak kembali. Dan dia laksanakan itu, karena itu sebuah kewajiban demi dirinya sendiri.

Sama halnya dengan jilbab. Jilbab bisa saja mengobati penyakit hati lho. Katakanlah, saat ini hatinya masih gak siap dengan jilbab. Tapi karena wajib, ya ‘terpaksa’ dia kerjakan juga. Lama-kelamaan, dia belajar, gimana sih pakai jilbab yang bener? Gimana sih seharusnya sikap seseorang yang berjilbab? Mungkin aja pembelajarannya ini juga masih dalam keadaan ‘terpaksa’, karena hatinya yang belum mantap tadi. Tapi lama-lama, saat dia udah mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya, penyakit-penyakit hatinya jadi semakin lama semakin sembuh, dia akan dengan senang hati memakai jilbab, dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Demi dirinya sendiri juga kan? :)

Ada lagi yang bilang, bahwa Islam adalah agama yang fleksibel. Wew... fleksibel? Jadi kalau orang ke kiri, kita juga ke kiri. Orang ke kanan, kita juga ke kanan. Orang nyebur sumur, kita juga nyebur sumur? Kan fleksibel. -_-

Mungkin maksudnya dalam hal toleransi ya? Hmmm... toleransi pun ada batas-batasnya, dan ini yang gak dipahami oleh mereka yang suka asal bicara tanpa punya kapasitas ilmu yang cukup.

Udahan ah ngoceh paginya. Udah waktunya mandi dan ngantor. Eh iya, saya pernah denger seorang ulama salaf berkata, yang intinya, barang siapa yang gurunya adalah buku, maka salahnya lebih banyak dari benarnya. Jadi, belajar dengan seorang pembimbing, tentu lebih baik kan? ;)


Ngawi, 270913

My Avilla, Akhir Sebuah Pencarian


Bismillahirrahmanirrahim

My Avilla. Nih nopel saya beli seminggu yang lalu. Tapi gak tahu kenapa, dorongan untuk segera membaca nopel ini begitu kuat, sehingga terpaksa saya tunda dulu buku-buku lain yang juga ngantri. Maap yeee... :3

Saya adalah penggemar nopel-nopel hasil racikan ‘tangan dingin’ seorang Ifa Avianty sejak dulu. Yang paling saya suka adalah cara berceritanya yang seringkali nyantai banget, sehingga yang baca ini sama sekali gak ngerasa bosan. Mau tema yang ringan, sampai yang ‘berat’, Ifa Avianty selalu menyajikannya dengan ringan. Atau, emang sudah berusaha nulis yang agak ‘berat’, tapi nyatanya tetep kebawa sama signature style-nya? :D

Salah satu nopel ‘berat’nya adalah My Avilla ini. Katanya sih, nopel ini beda dari nopel-nopel beliau yang sebelum-sebelumnya. Nopel ini lebih ‘berat’, karena mengangkat tema tentang pencarian Tuhan.
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Afra Publishing
Harga : Rp26.000,-

Mengangkat cerita tentang seorang cewek bernama Trudy. Dia punya seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya, Margriet. Kakaknya itu baik banget, berjilbab, bahkan bisa dengan mudah sekali memaafkan kesalahan paling fatal yang Trudy lakukan. Ada juga Fajar, teman sekelas yang ditaksir Trudy, tapi ternyata Fajar justru dengan ‘gagah berani’ menyatakan perasaan kagum dan cintanya pada Margriet yang terpaut usia 4 tahun di atasnya.

Sunnah Style For Men

Bismillahirrahmanirrahim


Sebagai orang yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini, yang serba globalisasi, banyak banget kan invasi-invasi fashion dari dataran Eropa dan Amerika yang serta merta jadi tren, dan kemudian diikuti oleh sebagain kita? Biasanya sih, yang jadi ‘korban’ fashion adalah kaum wanita. Tapi jangan salah, Gan, kaum pria juga banyak kok yang ikut-ikutan tren. :p

Nah, berhubung kayaknya udah sering dan banyak banget ya yang bahas fashion wanita dalam Islam itu seperti apa, kayak tulisan saya tentang jilbab dan cadar kemaren, maka di tulisan kali ini, saya pengen ngobrolin tentang fashion buat para pria dalam Islam. Tapi kali ini, saya mencukupkan pada 2 fashion item yang seringkali disindir oleh masyarakat awam. Apa itu? Jenggot, dan celana ngatung!


Jenggot

Beberapa waktu lalu, keluar sebuah peraturan baru dari perusahaan saya yang mengatur penggunaan seragam dan tata cara berpakaian pegawai. Salah satu yang mengusik saya, adalah poin yang menyiggung tentang kumis dan jenggot. Intinya, bagi pegawai yang berkumis, berjambang atau berjenggot, harap mencukur rapi.

Ternyata bukan cuman saya yang terusik, tapi seorang teman saya yang masinis pun juga ketar-ketir dengan aturan itu. Secara, dia gak pernah memotong jenggotnya, sehingga jenggotnya sekarang panjang. Memotong jenggot, bagi dia sama halnya dengan dosa. Karena setahu saya, dia termasuk orang yang memegang pendapat bahwa memelihara jenggot itu wajib, dan tidak boleh dicukur.

Jenggot, dimiliki hampir seluruh laki-laki di Bumi ini, kecuali mereka yang emang terlahir dengan dagu dan wajah ‘polos’ dan ‘licin’, yang diusahakan bagaimanapun juga jenggot gak bisa numbuh di wajah mereka. Tapi jenggot menjadi kekhususan tersendiri bagi ummat Islam. Kenapa? Karena memang ada perintah dari Rasulullah untuk memelihara jenggot.

Salah satu dasar yang masyhur tentang sunnahnya memelihara jenggot ini, adalah hadits yang menyebutkan tentang 10 hal yang termasuk ke dalam fitrah manusia. Dan memelihara jenggot adalah salah satu hal fitrah tersebut. Banyak juga hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis.

Makanya, gak heran, kebanyakan orang yang disebut sebagai ulama, adalah mereka yang berjenggot. Entah panjang atau pendek, yang pasti ada jenggotnya. Yah, kecuali yang emang ‘licin’ tadi ya.

Jenggot juga merupakan pembeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkumis? Udah jamak kita jumpai. Tapi perempuan berjenggot? Dikit banget kan, karena hanya mereka dengan kelainan hormonal saja yang mengalaminya.  Makanya, dalam banyak hadits sering disebutkan bahwa anak laki-laki yang masih kecil itu mirip perempuan. Ya karena dia belum punya jenggot, dan suaranya pun masih kecil persis perempuan.

Saya sering disindir temen, yang nanya kenapa saya memelihara jenggot dan gak mencukurnya kecuali terpaksa. Sebagian temen menimpali bahwa itu sunnah. Sebagian lagi mengatakan, bahwa jenggot kita adalah tempat bergelantungannya para bidadari di surga nanti. Allahu a’lam deh. Untuk alasan kedua itu saya kok belum pernah nemu haditsnya ya? -_-

Tapi, bener gak sih, jenggot sama sekali gak boleh dicukur? Sebagian ulama emang gak membolehkan mencukur jenggot, karena lafadz-lafadz hadits dengan tegas mengatakan a’ful liha, peliharalah jenggot. Imam Nawawi –salah satu ulama dari madzhab Syafi’i- malah mengatakan bahwa seluruh kata tersebut maknanya sama, yakni biarkan saja sebagaimana adanya, tanpa harus diusik alias dicukur. Sebagian ulama lagi, mengatakan bahwa jenggot itu sunnah, tapi mencukurnya juga gak apa-apa, karena bukan sebuah kewajiban.

Nah, karena saya gak pengen terjebak dalam dilema khilafiyah seperti itu, saya ambil kesimpulan: jenggot itu sunnah, kalau bisa sih gak usah dicukur, dan hanya dicukur untuk merapikan jenggot yang posisinya gak karuan, atau karena terpaksa. Jika terpaksa mencukur, kalau bisa jangan sampai tercukur habis (kecuali terpaksaaaa banget).

Makanya, saya take it easy aja sama peraturan baru dari perusahaan yang saya singgung di atas itu. Yang diperintah sama perusahaan kan dirapikan, dan merapikan itu kan gak harus dicukur habis toh? Yang penting kan kelihatan rapi, dan saya udah rapi kok (menurut saya). So, saya sih nyantai aja. :p


Celana Ngatung

Ini fashion item pria yang cukup mencolok juga. Celana di atas mata kaki!

Dasar pemakaian fashion item yang satu ini cukup jelas juga. Banyak hadits yang mengatakan bahwa kain yang berada di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Banyak juga yang menyebutkan, bahwa Allah tidak akan mengajak bicara pada hari kiamat nanti, salah satunya adalah pada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Dan masih banyak lagi. Ente bisa gugling sendiri deh, Gan. :p

Tapi, sama halnya dengan masalah jenggot tadi, masalah yang satu ini pun gak lepas dari ranah khilafiyah alias perbedaan pendapat dan pandangan. Banyak ulama yang mengatakan bahwa yang dilarang hanyalah mereka yang melakukan isbal –mengulurkan pakaian melebihi mata kaki- dengan diiringi kesombongan saja yang diharamkan, kalau melihat pada nash hadits. Tapi juga gak sedikit, yang berpendapat bahwa isbal itu haram pada semua keadaan, baik karena sombong ataupun enggak. Bahkan dengan dia mengisbal kainnya saja, itu sudah masuk dalam kategori kesombongan, meski tanpa dia sadari.

Saya pribadi sih mendingan gak usah isbal-isbalan deh. Emang sih, banyak hadits tentang isbal, yang seringkali diiringi kata-kata ‘karena sombong’. Tapi banyak juga hadits yang lafadznya umum, yang gak mencakup kesombongan aja, dan hadits-hadits itu juga shahih. Sampai-sampai Al Hafizh Ibnu Hajar –seorang ulama dari madzhab Syafi’i juga- membuat kesimpulan dalam Fathul Bari, tentang 2 ketentuan batasan kain untuk laki-laki:
  • Dianjurkan, dengan mencukupkan diri pada pertengahan betis,
  • Diperbolehkan, yaitu hingga mata kaki.
Batasnya sampai mata kaki, Bro! Asal gak sampai di bawah mata kaki, insya Allah masih gak apa-apa. Celana dengan panjang segitu, kayaknya juga udah cukup panjang kan ya? Lagian, banyak kok manfaatnya gak isbal ini. Di antaranya:

  • Merasa tenang; karena niatnya mengikuti sunnah,
  • Gak ribet; seringkali pas beli celana kan panjangnya sampai lantai tuh, dan itu ribet banget kalau buat saya mah, karena harus melipat celana lagi biar gak nyentuh lantai dan gak keinjek sepatu,
  • Lebih bersih; karena gak menyentuh sepatu, apalagi lantai, alhasil jadinya lebih bersih dan lebih aman dari najis. ^_^
Ada sebagian besar orang, terutama yang mulai mengenal Islam, yang panjang celananya sampai di bawah mata kaki, tapi saat shalat mereka lipat celananya sampai ke atas mata kaki. Mungkin, anggapan mereka, hanya saat shalat saja kita wajib mengangkat kain ke atas mata kaki, karena emang ada hadits yang mengatakan bahwa orang yang shalat dalam keadaan isbal, mereka berada dalam keadaan yang tidak dihalalkan dan tidak pula diharamkan Allah. (Sipp... silakan gugling haditsnya)

Saya juga gak nge-judge mereka-mereka yang masih tetap isbal. Mungkin, mereka termasuk orang yang mengambil pendapat bahwa isbal itu boleh asalkan gak sombong. Nah itu Aa’ Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry Al Buchori –rahimahullah-, dan masih banyak lagi, celana dan sarungnya juga isbal. Nah, makanya itu saya gak nge-judge apalagi negative thinking. Beliau-beliau ini dikenal sebagai ulama lho, yang pasti keilmuannya gak diragukan lagi. Jadi pasti udah paham masalah kayak gini, dan juga sudah mengambil sikap. Tugas kita adalah menghormati sikap tersebut. Betul?

Yang menyedihkan itu, ada orang yang penampilannya nyunnah banget. Jenggot lebat, pakai gamis atau jubah, celana pakai sirwal yang longgar dan ngatung. Tapi selalu memandang negatif pada mereka-mereka yang jenggotnya tercukur, dan celananya isbal. Parahnya, menganggap dirinya lebih baik dalam hal pengamalan agama, karena tampilannya yang nyunnah itu. Hoho... apa itu malah bukan sebuah kesombongan yang terselubung, Gan? :p

Prinsip saya sih satu: kalau kita mampu, kenapa kita enggan melaksanakan sunnah yang sudah jelas pahalanya? Kalau gak bisa melaksanakan seluruhnya, ya minimalnya sebagiannya kita kerjakan. Insya Allah, hidup kita lebih tenang deh. Gak pakai galau-galauan lagi. :D



Ngawi, 150913


Muslimah Bercadar Itu Keren!

Bismillahirrahmanirrahim

 
Dulu, saya pernah sedikit membahas tentang aneka bentuk 'jilbab' yang tersebar di dunia Islam saat ini. Sekarang, saya ingin fokus pada satu topik yang lebih rinci. Tentang selembar kain. Bukan yang menutupi kepala seorang muslimah, melainkan yang menutupi wajahnya. Ya, ini tentang cadar, purdah, ataupun niqab.

Dulu, mungkin tahun 2008, saya punya blog di wordpress. Dan saya pernah mengunggah tulisan saya ke blog itu tentang cadar. Nama blognya apa, saya sendiri udah lupa. Yang pasti, tulisan saya tentang cadar waktu itu, kesannya ‘menggurui’ banget. Jauh berbeda dengan gaya tulisan saya yang jauh lebih santai kayak sekarang ini. :p

Lalu, emangnya sekarang apa sih yang mau saya obrolin tentang sehelai kain kecil penutup wajah itu? Haduh... apa ya? Saya sendiri kok jadi bingung. O.o


Dasar Pemakaian Cadar

Seperti yang sudah saya singgung di tulisan-tulisan saya yang lain, bahwa blog ini hanya berisi sharing saja, dan seringkali tidak menghadirkan teks dalil. Tapi insya Allah, yang saya sampaikan ini ada dalil yang menyertainya. Hanya saja, untuk teks lengkapnya, silakan gugling sendiri. Mbah Gugel kan pinter banget kalau disuruh nyari-nyari. :D

Dasar utama para pengguna cadar, adalah perintah Allah pada para muslimah untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuh mereka (Al Ahzab: 59). Dari sinilah, sebagian ulama berkesimpulan bahwa seluruh tubuh seorang muslimah adalah aurat. Tapi kemudian dibantah dengan hadits Asma’ binti Abu Bakr yang masyhur itu, bahwa wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

Selain itu juga banyak riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa para ummahatul mukminin dan sebagian shahabiyah di masa Rasulullah, menutup wajah mereka dari pandangan laki-laki ajnabi. Syaikh Al Albani menyebutkannya dalam 2 buku, Jilbab Al Mar’atul Muslimah dan Ar Raddul Mufhim.

Intinya, memakai cadar memang memiliki dasar dalam Islam, dan bukan sekadar budaya Arab. That’s it!


Wajibkah?

Hohoho... maap yeee... di sini bukan tempatnya bahas khilafiyah dalam fiqh. Sebagian ulama memang ada yang mewajibkan, tapi sebagian menganggapnya mustahab alias sunnah saja. Mau ngikut yang mana? Silakan dicari dalil-dalil dan penjelasannya sendiri ya... :)

Saya pribadi sih, mengikuti pendapat yang menganggap bahwa menutup wajah itu hukumnya mustahab saja, gak sampai wajib.


Serem dan Eksklusif

Beberapa orang di zaman sekarang ini, ternyata masih saja ada yang menganggap bahwa orang yang bercadar itu kelihatan serem. Seluruh pakaiannya berwarna gelap, panjang-panjang, masih ditambah wajahnya tertutup pula. Wajar sih kalau dianggap serem.

Ada juga yang menganggap pemakai cadar itu cenderung tertutup alias eksklusif. Mereka jarang mau bicara dengan orang lain, terutama laki-laki selain suaminya. Bener gak sih?

Soal serem? Hmm... okelah, ini subyektif banget. Tapi coba lihat deh dokter-dokter dan perawat-perawat di Rumah Sakit. Seringkali kita lihat mereka pake baju putih-putih, panjang, dan wajahnya ditutupi masker. Tapi kita ngelihatnya juga biasa aja kan? Terus kenapa kalau ada muslimah bercadar kita anggap serem? Karena bajunya hitam? Lah kalau bajunya putih, bisa jadi kita malah kencing berdiri. Apalagi pas ngelihat di kegelapan malam, tiba-tiba muncul sesosok serba putih yang mukanya gak kelihatan. Nah lho! -_-

Eksklusif? Hmm... emangnya ente siapanya dia, berani ngajakin ngobrol? Lagian yang diobrolin apaan dulu? Saya pribadi, menganggap ‘keeksklusifan’ mereka itu sebagai sesuatu yang classy, berkelas. Iya, mereka itu muslimah-muslimah berkelas, yang gak sembarangan bisa diajak ngobrol sama laki-laki yang gak mereka kenal. Ente pengen ngajak ngobrol Mariah Carey, yang diva dunia itu? Gak mungkin kan? Nah, muslimah bercadar itu jauh lebih berharga lho daripada sekadar diva dunia. Mereka ini divanya surga kali. #eeeaaaaa :D


Teroris

Ah, itu mah issue lama. Dulu, setelah bom Bali, emang sih istri-istri para tersangka itu pada pakai cadar. Dari situ, masyarakat menggeneralisir bahwa teroris itu berjenggot panjang, bercelana ngatung, dan perempuannya bercadar. Anggapan yang enggak banget.

Tapi setelah film Ayat-ayat Cinta booming pada 2008, sedikit banyak sepertinya masyarakat mulai tahu, bahwa ternyata seorang perempuan bercadar, memang ‘hanyalah’ perempuan ‘biasa’ seperti perempuan pada umumnya. Hanya tingkat iman dan pakaian saja yang membedakan mereka.

Setelah itu, booming juga sinetron-sinetron yang menampilkan tokoh bercadar. Hah... penyakit industri pertelevisian di Indonesia kan gitu; latah! -_-


Macam-macam Penutup Wajah

Banyak sih. Ada cadar yang satu sisinya udah dijahit di tepi jilbab bagian wajah, dan sisi lain dikasih kancing, sehingga bisa dibuka-tutup. Ada juga yang sudah dipatenkan menyatu dengan jilbabnya, gak bisa dilepas, tapi bisa dibuka-tutup karena dikasih resleting di sisi samping. Ada yang mengikatkan purdah ke dahinya, sehingga mata juga tertutup. Ada yang wajahnya sudah tertutup, tapi ditambah lagi dengan menarik kain tipis di atas jilbabnya untuk melapisi penutup wajahnya, sehingga mata juga ikutan tertutup. Ada yang kayak dipakai Aisha di film Ayat-ayat Cinta. Ada pula yang seperti dipakai sama perempuan-perempuan Afghanistan. Banyak deh. Terserah mau pakai yang mana. (eh, emang abis baca ini ada yang mau pakai ya? :D)
 

Mereka Muslimah Tangguh

Para muslimah bercadar itu memang muslimah-muslimah tangguh. Kebayang gak sih apa yang harus mereka hadapi saat mereka memutuskan untuk memakai cadar? Mulai dari keluarga yang mungkin syok dengan keputusan putrinya, kemudian tetangga-tetangga yang pastinya berkasak-kusuk, kesulitan mencari pekerjaan, pandangan aneh dari orang-orang saat berada di keramaian, dan sebagainya. Tapi para muslimah bercadar itu mencoba gak menghiraukan pandangan manusia, karena yang mereka cari adalah pandangan Allah pada mereka. Jika mereka belum bersuami, satu-satunya hal penting yang harus mereka yakinkan adalah kesiapan orang tuanya. Jika orang tuanya merestui, insya Allah, dada mereka akan lapang meski mendapat cemoohan dari orang lain.

Dulu, saya pernah mendengar seseorang bicara pada saya, tentang pendapatnya mengenai perempuan yang berjilbab dan bercadar, “Saya paling gak suka sama orang yang meninggalkan tradisi asli tempat dia dilahirkan dan justru membawa tradisi Arab! Sombong sekali, wajah saja gak kelihatan!” Di pikiran saya, kesannya justru pernyataan dia ini yang menyiratkan kesombongan. Ah, tapi mungkin karena dia juga belum ngerti sih apa dasar pemakaian jilbab dan cadar itu. :)

Di negeri barat sono, jangankan cadar, memakai hijab aja masih banyak yang membenci, yang merupakan efek dari Islamophobia. Jadi, muslimah yang berani bercadar di sana, apalagi kata yang tepat selain ‘keren’ dan ‘tangguh’?

Hanya muslimah tangguhlah yang akan bersedia menutupi wajahnya dari pandangan manusia, selain mahramnya, karena mereka yakin mereka melakukan sesuatu yang benar. Para istri Rasulullah melakukan ini. Para shahabiyah juga sebagian melakukan ini. Nyatanya, tidak ada larangan dari Rasulullah tentang menutup wajah, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan itu, bahkan merupakan sunnah yang disukai jika diniatkan untuk mengikuti jejak para istri Rasulullah.

Mereka ini muslimah tangguh yang super keren. Mereka menutup semua pintu fitnah, bahkan sampai celah terkecil sekalipun. Siapa yang akan tertarik dengan penampilan mereka? Mereka gak peduli kecantikan di mata manusia. Mereka sudah merasa cantik, dengan mempersembahkannya pada suaminya saja. Keren kan?!

Gimanapun juga, selalu, saya merasa kagum pada muslimah-muslimah tangguh itu. Yang istiqamah dengan jilbab lebarnya saja, saya sudah terkagum-kagum. Apalagi yang dengan keimanan penuh, memutuskan untuk bercadar, demi menutup celah-celah terkecil yang bisa menimbulkan fitnah di hati lawan jenisnya. Masya Allah... keren banget deh! Keren! Keren! Kereeenn!!! ;)

Sebagai penutup, berikut saya kutipkan apa yang disampaikan sama Syaikh Yusuf Al Qaradhawi -hafizhahullah- tentang perempuan yang bercadar dalam Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid II,

“Bahkan seandainya wanita muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup wajah, tetapi ia hanya menganggapnya lebih wara’ dan lebih taqwa demi membebaskan diri dari perselisihan pendapat, serta dia mengamalkan yang lebih hati-hati, maka siapakah yang akan melarang dia dari mengamalkan pendapat yang lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas dia dicela selama tidak mengganggu orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan (kepentingan) umum dan khusus? Sungguh mengherankan! Mengapa wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggang-lenggok dan bergaya untuk memikat orang lain kepada kemaksiatan dibebaskan saja tanpa ada seorang pun yang menegurnya? Kemudian mereka tumpahkan seluruh kebencian dan celaan serta caci-maki terhadap wanita-wanita berpurdah, yang berkeyakinan bahwa hal itu termasuk ajaran agama?“


Allahu a’lam. ^_^

Madiun, 140913





Vakum Menulis Fiksi Karena 'Haram'


Bismillahirrahmanirrahim

Perkenalan saya dengan dunia kepenulisan, bisa dibilang sudah cukup lama, sejak tahun 2005 lalu kalo gak salah. Berawal dari Annida, saya sadar, bahwa saya sudah jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta pada fiksi dengan nafas Islami. Maka sejak saat itu, saya mulai rajin corat coret di buku tulis. Maklum, modalnya memang cuma pulpen sama buku tulis, gak ada komputer. Kalo pengen ngetik, ya ke rental aja. Tapi untuk ke rental pun, saya harus melakukan ‘pengorbanan’, dengan memangkas uang untuk makan sehari-hari (maklum lagi, namanya juga anak kos).

Tapi biarpun cuman coretan-coretan di buku dengan tulisan ceker ayam, ada aja temen yang pinjam untuk dibaca. Saya heran, apa gak sakit ya matanya?

Sayangnya, saya harus vakum dari dunia tulis menulis. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Apa Blog Saya Dihack?

Bismillahirrahmanirrahim


Tadi, sewaktu jam mau pulang, saya iseng-iseng ganti playlist blog ini. Ganti pakai nasyid yang temanya 'ehem-ehem'. xD Setelah pikir-pikir, akhirnya dapetlah 10 nasyid dengan tema yang sama, yaitu 'ehem-ehem' tadi. xD

Selesai edit playlist, saya coba buka blog saya dari hape. Blog bisa terbuka, dan playlist bisa terputar dengan baik. Saya share dong ke pesbuk, 'pamer-pamer' gitu. xD Jam 15.35, saya pulang. Nyampe rumah jam 16.30. Begitu buka pesbuk, ada notif. Ada yang komen, 
'lho, kok, selalu masuk di mahasajenar.com ya? linknya mypageresult bla bla bla... :|'